Selasa, 30 Juli 2013

Sukses Robert Nay

Pecandu mobile game dan pengguna iPhone pastinya tak asing dengan Angry Fish. Saking populernya, game ini sempat menduduki posisi nomor 1 aplikasi yang paling banyak diunduh di iTunes App Store. Namun, sejak awal 2011 lalu, tanpa ampun Angry Fish didepak oleh Bubble Ball, sebuah game baru ciptaan Robert Nay, seorang ABG berusia 14 tahun. Ini semacam puzzle game di mana pemain diuji kemampuan berpikirnya untuk membuat gelembung balon sampai di tujuan.

Game gratis ini, tercatat sudah diunduh dua juta lebih orang, hanya dua minggu semenjak diluncurkan. Dengan hitungan-hitungan kasar bahwa untuk setiap game yang diunduh, Apple membayar US$0,99–setara Rp9.000– Nay sudah mengantongi pendapatan sebesar US$2 juta atau Rp18 miliar, sekali lagi, hanya dalam dua pekan.

Seperti diberitakan laman ABC, Nay memulai mengenal dunia programming ketika dia pertama kali membuat halaman web saat dia duduk di bangku kelas tiga SD. Melihat bakat luar biasanya, teman-temannya lalu meminta dia membuat game sendiri.

Perjalanan Bubble Ball dimulai dari riset Nay di sebuah perpustakaan lokal. Di situ, dia menemukan program bernama Ansca Monile’s Corona SDK (Software Development’s Kit), yang membantu dia untuk menyederhanakan proses pemrograman game yang dirancangnya itu.

Selama sebulan lebih, Nay yang sekarang menjadi CEO Nay Games, menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menyelesaikan programnya—total terdiri dari 4.000 baris lebih kode program. Total biaya yang dihabiskannya sekitar US$1.200—berasal dari uang pemberian orangtua Nay, untuk membeli komputer Macintosh dan sejumlah software.

Sukses dengan Bubble Ball, Nay kabarnya sedang mempersiapkan game baru yang lain. Apa game itu, dia masih rapat merahasiakannya.

Sumber : cyberblue.web.id

Pemilik Paotere

TAWAKKAL Sirat (47), pemilik Rumah Makan (RM) Paotere, lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Sirat Daeng Pasolong, hanya penjual tas di Pasar Butung, Makassar. 

Ketika menginjak usia lima tahun, 1971, Tawakkal sudah ditinggal ayahnya untuk selama-lamanya. Peninggalan dari sang ayah yang hanya pedagang kecil itu tak bisa menjadi tumpuan Tawakkal.

Sejak kepergian sang ayah, ibu Tawakkal, Ugi Daeng Jenne, menambah kesibukannya dari sekadar ibu rumah tangga menjadi juragan becak. Usaha becak dijalankan guna mencari biaya hidup keluarga setelah suaminya meninggal. Ibunda Tawakkal kala itu, memiliki 40 becak dan disewakan kepada prang lain.

Sepuluh tahun setelah Sirat meninggal, Ugi menyusul. Tawakkal menjadi yatim-piatu. Tak ada lagi tulang punggung keluarga. Dirinya pun harus banting tulang membiayai hidupnya dan adiknya Hasnah Sirat. Tiga saudara lainnya meninggal saat masih anak-anak.

Pamannya, Haji Daeng Gassing (85), rupanya iba terdahap Tawakkal. Rumah Tawakkal dengan rumah pamannya, tak jauh, di wilayah Ujungtanah, kawasan pesisir.

Daeng Gassing pun mengajak pria kelahiran Ujungpandang, 17 Maret 1965, itu tinggal di rumahnya seraya meminta bantuan mengelola usaha. Usaha dijalankan, yakni warung makan kaki lima di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paotere, Makassar.

Mulai saat itu, sekitar tahun 1980, Tawakkal pun mulai belajar mengelola warung makan, meracik bumbu, memasak, dan menghidangkan makanan kepada pelanggan.

“Waktu itu, saya masih SMP, sekolah sambil kerja di warung. Sekarang, tidak ada lagi anak-anak  mau begitu, gengsi-mi,” kenangnya seraya tertawa dalam perbincangan santai dengan Tribun di rumah makan barunya, RM Paotere, Jl Perintis Kemerdekaan, Tamalanrea, Makassar, Senin (17/9).

Dari situlah, alumnus SMP Negeri 7 Makassar ini belajar mengelola warung makan. Bekerja di warung sepulang sekolah tak sulit dijalaninya. Sekolahnya di Jl Cakalang, tak jauh dari tempat tinggalnya sekaligus warung, Jl Sabutung.

Setamat SMP, Tawakkal melanjutkan pendidikannya pada sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi. Selain mengandalkan hasil keringat, ia juga mengandalkan hasil panen lima petak sawah di kampungnya, Labakkang, Pangkep, membiayai pendidikannya.

Hingga kuliah pada Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen LPI, Makassar, memilih program studi perbankan dan keuangan, Tawakkal tetap tak gengsi berjualan hidangan laut sambil kuliah hingga tamat. Sebelum atau sepulang kuliah, pelanggan dilayani.

Warung pamannya tak menyediakan lauk. Hanya menyediakan nasi, lalapan, dan sayur. Pelanggan menyediakan ikan, cumi, atau udang segar. Lalu dibakar dan disantap di warung tersebut.

“Dulu, begitu modelnya (layanannya), karena pembeli adalah orang yang membeli ikan di lelong (TPI Paotere). Mereka (tubuhnya) bau ikan, kakinya berlumpur, tidak pakai sandal. Isitilahnya paku lonting,” kata Tawakkal mengenakan kaos polo hitam ketat di meja makan, usai peresmian rumah makannya, kemarin.

Sekitar 12 tahun ikut mengelola warung pamannya, Tawakkal mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan berbisnis kuliner laut (seafood). Ia pun mencoba mengambil alih usaha pamannya dan memindahkan di tempat tak jauh dari tempat semula.

Anak ketiga dari lima bersaudara ini meminta pamannya kembali ke kampung di Labakkang, untuk beristirahat. Hingga akhir hayat, dirinya selalu siap membiayai hidup pamannya. Tawakkal tak tega pamannya masih bekerja di warung pada usianya yang sudah lanjut.

Dari kaki lima di kolong rumah menjadi rumah makan di bangunan rumah toko atau ruko. Bagunan ruko itu disewa sebab belum memiliki modal cukup. Tempatnya pun bersih dan tak lagi dipenuhi lalat serta bau menyengat.

Rumah makan diberi nama Paotere, sesuai alamanya. Sebelumnya tanpa nama, mulai beroperasi pada tahun 1992. Segmentasi pelanggan pun berubah. Dari paku lonting menjadi orang bermobil.

Di antara deretan pelanggan, ada keluarga Jusuf Kalla dan Aksa Mahmud. Dari situlah Tawakkal berkenalan dengan kedua pengusaha sekaligus pejabat itu. Kalla kala itu masih memimpin NV Hadji Kalla (sekarang Kalla Group), sedangkan Aksa masih memimpin PT Bosowa Berlian Motor, diler mobil merek Mistubishi.

Kalla dan Aksa tak hanya sekadar makan, namun juga mengajari Tawakkal mengelola usaha sehingga dapat berkembang pesat. Sebelum atau sesudah makan, Kalla dan Aksa selalu memanggilnya berbagi kiat sukses.
“Pak Aksa memaksa saya agar harus membeli ruko itu. Tak boleh disewa. Setiap ketemu, saya dipaksa beli ruko itu. Alhamdulillah, akhirnya saya beli seharga Rp 675 juta pada tahun 1997,” ujarnya menceritakan sosok Aksa dan Kalla yang tak bisa dihapus dalam diari suksesnya.

Melihat RM Paotere kian populer dan ramai pengunjung, pada tahun 2011, manajemen Grand Clarion Hotel and Convention Center mengajak Tawakkal membuka rumah makan dengan nama serupa di Jl Andi Pangerang Petta Rani.

Sumber : makassar.tribunnews.com

Bisnis Unik Sate Pisang

Berhasil mengguncang rasa penasaran di dunia maya, Mizterpi kini membuat siapa pun segera ingin menikmatinya. Dari Kudus, Jawa Tengah, kehadiran Mizterpi bahkan dinantikan semua orang di seantero nusantara melalui jejaring outletnya. Lantas apa itu Mizterpi?

Anda jangan salah sangka dulu. Namanya memang bikin siapa pun penasaran. Sebab, terdengar seperti menyebut Mr P inisial sebuah kata yang masih dianggap tabu untuk diucapkan terang-terangan. Mizterpi ternyata singkatan dari mizter pisang, sebuah brand usaha camilan baru berbahan dasar buah pisang dari kota Kudus, Jawa Tengah.

Adalah Iltidas bersama rekannya Syehpudji bukan Syehpudji dari Semarang yang populer dengan berita poligami itu tentunya, adalah dua sosok pengusaha muda dibalik tercetusnya usaha yang namanya sempat membuat geger dunia maya itu. Belakangan, bukan hanya namanya memikat perhatian, tetapi juga hasil inovasi mereka yang bisa dibilang yang pertama di Indonesia, yaitu sate pisang.

“Kalau usaha yang berbahan dasar pisang banyak, tapi kalo sate pisang, rasanya baru mizterpi,” klaim Idas. Seperti sate yang umumnya dikenal, sate pisang Mizterpi juga demikian. Hanya saja, bahan baku, resep hingga bumbunya jauh berbeda.

Menurut Idas, begitu Iltidas disapa, Mizterpi bukan sekadar sate pisang. Pasalnya, setiap tusukan sate ia taburkan dengan bumbu racikannya sendiri yang bisa dibilang belum ada di tempat lain. ““Bumbunya rahasia, tidak dijual di pasaran,” Imbuhnya. Tak berhenti sampai di situ, pilihan tepung, topping aneka rasanya juga tak kalah menggoda selera.

Kendati masih mengembangkan rasa yang sebanyak-banyaknya, hingga saat ini brand usaha yang bermaskot karakter robot warna hijau dengan senjata pedang itu, telah memiliki beragam pilihan rasa. Sebut saja, coklat, strawberry, tiramisu, durian, mangga, sambal pedas dan ice cream.

Bukan hanya itu. Selain proses pembuatannya yang mudah, yang diibaratkan Idas semudah membuat pisang goreng, penyajian Mizterpi benar-benar fresh. “Disajikan dalam keadaan panas, karena dimasak di outlet,” sebutnya. Siapa pun yang ingin membeli, kata dia, harus menunggu beberapa saat untuk mendapatkan menu Mizterpi pilihannya.

Menurut Idas, camilan Mizterpi aman untuk dikonsumsi berbagai kalangan.”Hampir semua segmen masuk, tetapi terutama untuk anak-anak dan remaja,” tukasnya. Sementara harga per porsi ia patok sebesar Rp 3 ribu. Tidaklah heran, setiap outlet Mizterpi kebanjiran pengunjung.

Karena baru diluncurkan awal bulan ini, hingga saat iniMizterpi baru memiliki 2 outlet di kota Kudus, Jawa Tengah. “Tapi Alhamdulillah sudah ada beberapa yang bergabung menjadi mitra,” kata Idas. Di Kudus sendiri ia sudah memiliki 5 mitra yang ingin mendirikan Mizterpi, diikuti oleh satu orang mitra di Banjarnegara.

“Insya Allah launching setelah Lebaran, nunggu kapan gerobak atau booth-nya ready,” imbuh Idas tentang waktu opening beberapa outlet mitranya. Hingga saat ini, ia masih membuka kesempatan menjadi mitra Mizterpi untuk siapa pun yang ingin usaha kemitraan modal kecil tetapi untungnya selangit dari seluruh Indonesia.

“Minat dari luar jawa seperti Medan, Bali, Palembang,Samarinda juga banyak tapi sepertinya nunggu setelahRamadhan. Ramadhan khusus untuk ibadah katanya,” lanjut Idas tentang beberapa orang calon mitranya yang masih mengurungkan minatnya untuk memiliki Mizterpi karena harus fokus untuk menjalankan ibadah Ramadhan tahun ini.

Idas melanjutkan, untuk menjadi mitra Mizterpi modalnya hanya untuk mematenkan merk, desain dan mascot Mizterpi. Investasi ia tetapkan sebesar Rp 7,5 juta. “Mitra sudah dapat booth lengkap plus bahan baku awal sehingga sudah siap jualan,” terangnya.

Sumber  : jpmi.or.id

Senin, 29 Juli 2013

Rupiah Datang dari Botol Bekas

Bagi banyak orang, mungkin botol-botol bekas adalah sampah yang tidak berguna. Namun bagi Ratna Miranti botol bekas adalah barang yang sangat berarti. Ia mampu mengubah barang itu menjadi sesuatu yang amat bernilai. Sebagai seorang perajin lukisan di atas kaca, botol, gelas dan barang yang terbuat dari kaca lainnya. Ratna mengawali karirnya sejak tahun 2009, bisnisnya dimulai dari sebuah kecelakaan. Ia sebelumnya berprofesi sebagai perajin batik.

“Saya dulu suka membatik. Tapi batik makin kesini makin banyak dan makin ketat. Akhirnya saya vakum 2 tahun karena mengurus anak,” tutur Ratna. Ratna memutuskan untuk memulai usahanya lagi. Namun, di pada saat ingin membeli bahan baku cat untuk batik, ia malah membeli cat untuk kaca. Ia pun iseng-iseng, mencoba melukis di atas kaca.

“Saya salah beli. Malah beli untuk cat kaca. Tapi saya coba untuk buat di botol, di gelas. Ternyata temen-temen suka,” tutur Sarjana Desain Tekstil Institut Teknologi Bandung ini.

Namun, kejadian itu tak serta merta membuat dirinya percaya diri untuk menumbuh kembangkan usahanya menjadi besar. Pada saat itu, Ratna masih menjual produknya berdasarkan pesanan konsumen.

“Saya bikin dulu, karena pada dasarnya saya hobi melukis. Waktu itu bertepatan sama Natal, jadi banyak pesanan bernuansa Natal. Pemasaran saya masih mulut ke mulut, di blog, atau bawa ke tempat ibu-ibu arisan,” papar Ratna.

Barulah pada tahun 2010, genap setelah usahanya berusia 1 tahun, dia mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran Inacraft di Jakarta. Disitulah kesempatan besar bagi Ratna untuk memperkenalkan produknya.

Untuk mengembangkan usahanya itu dia mendapatkan suntikan modal dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui programnya yaitu Unit Layanan Mikro Madani sebesar Rp 50 juta.

“Untuk nambah modal. Biaya bahan baku dan yang lain,” ucapnya. Sampai saat ini, omzet yang didapat Ratna dengan produknya yang dinamai ‘Meerakatja’ ini mencapai Rp 30 juta/bulan. Padahal sebelum menjadi besar, dia hanya bisa meraup Rp 3-5 juta per bulan.

“Awalnya omzet Rp 3 juta, paling tinggi Rp 5 juta. Karena jualnya juga perorangan. Modal awalnya juga pertama Rp 500 ribu,” katanya.

Untuk urusan bahan baku, Ratna mengaku tak kesulitan. Ia pun sering memesan botol-botol bekas penjual jamu. Namun untuk catnya, Ratna menggunakan cat yang diimpor dari Jerman melalui distributor langganannya. Tak hanya melukis di atas botol, Ratna pun menerima pesanan untuk melukis interior rumah berbahan baku kaca, kaca cermin, vas bunga, gelas, tempat lampu, guci dan lain sebagainya.

“Harganya dari Rp 25 ribu hingga Rp 2,5 juta,” ucapnya.

Produknya ini masih banyak tersebar di wilayah Jakarta dan Bandung. Beberapa produknya pun telah masuk pasar internasional. Namun, ia tidak secara langsung mengekspor produknya ke luar negeri, melainkan melalui perantara.

“Kalau yang namanya bener-bener ekspor sih belum. Tapi ada pesanan beberapa orang untuk tujuannya ke luar, Kanada, Jerman, tapi tetap Saya berhubungannya dengan orang Jakarta,” papar Ratna.

Sampai saat ini, Ratna memiliki 3 pegawai tetap yang bekerja sebagai pemberi warna pada karyanya. Urusan desain dan lukisan dasar, Ratna lah yang turun tangan. “Kalau pesanan lagi banyak, kita bisa sampai 15 orang,” cetusnya. Jika tertarik dengan hasil karya Meeraktja ini, anda bisa langsung datang ke Jalan Sangkuriang O-2, Bandung. 

Sumber : jpmi.or.id

Cerita Sukses Mc.Googan

Ketika masih remaja, Michael McGoogan banyak mendapatkan panggilan bila teman atau sanak keluarga memerlukan bantuan untuk mengotak-atik komputer.

Sepuluh tahun kemudian, pemuda Australia ini memiliki perusahaan dengan omzet jutaan dollar dengan ambisi menjadi perusahaan global.

Sekarang berusia 25 tahun, McGoogan mendirikan usahanya—yang sekarang bernama UberGlobal—ketika masih berusia 14 tahun di Canberra, setelah mendapatkan banyak permintaan dari berbagai kalangan untuk membuat situs atau mengajarkan cara bagaimana "bermain" internet.

"Saya dengan cepat menyadari bahwa saya bisa mendapatkan uang 500 dolar untuk membantu bisnis kecil membuat situs, dan kemudian 20 dolar setiap bulan guna menjalankannya," kata Mc Googan seperti dilaporkan situs smh.com.au

Dalam enam bulan pertama, McGoogan memiliki 500 klien, dan sadar bahwa dia tidak mampu melakukan semuanya sendirian. Karena itu, dia kemudian menyerahkan "kerjaan" membuat situs kepada teman-temannya, dan konsentrasi ke webhosting, yang sampai sekarang fondasi bisnis UberGlobal.

"Itu terjadi di awal dimulainya industri internet, dan saya beruntung berada di saat yang tepat dan bisa memberikan jasa pelayanan yang diinginkan oleh banyak orang," kata McGoogan mengenai keberhasilann bisnisnya.
Menurut laporan koresponden Kompas di Australia L Sastra Wijaya, ketika berusia 16 tahun, McGoogan mendapatkan kontrak pertama dari Pemerintah Australia, yaitu Otoritas Sungai Murray-Darling Basin.

Namun, sebagai lembaga pemerintah mereka tidak bisa berhubungan dengan bisnis individu. Oleh karena itu, McGoogan harus mendirikan bisnis resmi. Karena baru berusia 16 tahun, dia tidak bisa menjadi direktur perusahaan, dan menemukan solusinya ketika tetangganya, Michael Mossop, seorang pensiunan pegawai negeri, bersedia menjadi direktur dan menguasai saham McGoogan sampai dia berusia 18 tahun.

Mossop merupakan satu dari beberapa orang dewasa yang memberikan dukungan penuh kepada McGoogan. "Saya percaya penuh dengan modal bisnis saya, dan bisa menjual kepada orang-orang yang saya temui," kata McGoogan.

Mossop meminjamkan modal 15.000 dollar (sekitar Rp 150 juta) guna menambah modal yang sudah dikumpulkan dari sanak keluarga lain dan Mossop sekarang masih bekerja untuk UberGlobal.

Di saat bisnisnya terus berkembang, McGoogan masih juga bekerja selama 20 jam seminggu di sebuah kedai kebab Ali Baba dan sekolah penuh waktu. Dia mendapatkan dispensasi dari gurunya untuk bisa membawa HP ke dalam kelas sehingga bisa menerima telepon setiap saat webhosting yang adalah bisnis 24 jam.

"Para pelanggan saya banyak yang tidak tahu saya masih sekolah," kata McGoogan. Pada 2005, UberGlobal membeli perusahaan saingan yang lebih besar, Aussie Hosts, dan menjadi bertambah besar.

Ayah McGoogan, seorang pensiunan polisi federal Australia, setuju untuk mengagunkan lagi rumahnya sehingga putranya bisa menghabiskan 150.000 dollar (Rp 1,5 miliar) guna membeli perusahaan saingannya. Itu adalah akuisisi pertama dari beberapa yang dilakukan UberGlobal, yang sekarang memiliki omzet 13,3 juta dollar pada 2011, dan sekarang merupakan perusahaan webhosting ketiga terbesar di Australia.

McGoogan masih merencanakan membeli perusahaan lain lagi, yang segera membuatnya menjadi perusahaan webhosting terbesar di Australia. McGoogan sekarang adalah direktur eksekutif dan manajer pelaksana UberGlobal dan mengatakan akan tetap di posisi tersebut sepanjang dia merasa dia orang terbaik di sana.

Tiga dari teman sekolahnya masih bekerja di sana dan McGoogan masih senang menghabiskan waktu dengan keluarga dan pacarnya.

Di usia 18 tahun, McGoogan sudah membeli rumah sendiri dan baru-baru ini dia membeli mobil mewah Mercedez seharga 250.000 dollar (Rp 2,5 miliar). Dia masih memiliki saham 13,5 persen di UberGlobal dan sanak keluarga serta teman-temannya memiliki saham sekitar 20 persen.

Sumber : biisniskeuangan.kompas.com

Sukses Canon

Yoshida lahir di Hiroshima. Dia datang ke Tokyo sebelum menyelesaikan pendidikan sekolah menengah dan magang di sebuah perusahaan memperbaiki dan renovasi film kamera dan proyektor. Selama paruh kedua tahun 1920-an, ketika Yoshida berada di akhir 20-an, ia sering bepergian ke Shanghai, Cina untuk mendapatkan bagian yang diperlukan untuk pekerjaan. Shanghai, The “Leica Model II,” diperkenalkan pada tahun 1932 diikuti olehdebut dari “Contax Model I” pada tahun 1933. Kamera ini menjadi kebanggaan Jerman, kamera kerajaan dunia, dianggap kelas kamera super memuaskan kebutuhan para penggemar kamera di seluruh dunia, dan menerima dukungan antusias.

Untuk membuat kamera kelas tinggi 35mm Yoshida mencoba membongkar kamera Leica untuk melihat bagian-bagian yang ada didalamnya namun dia terkejut ternyata didalam kamera Leica tidak ada item khusus seperti berlian di dalam kamera. Justru yang ada didalamnya adalah bagian-bagian yang terbuat dari kuningan, alumunium, besi dan karet. Dia marah ketika mengetahui bahan murah disatukan ke dalam kamera tersebut dan dijual dengan harga yang terlalu tinggi.

Akhirnya beserta adik iparnya Uchida Saburo dan didanai oleh teman dekat Uchida, tujuan awal mereka adalah melakukan riset mengenai kualitas kamera agar bisa membuat kamera yang berkualitas, lalu pada tahun 1934 tepatnya bulan juni mereka mengeluarkan kamera pertama yang diberi nama Kwanon.

Yoshida sempat membuat prototipe kamera 35 mm range finder yang diberi nama ”KWANON”, diambil dari nama dewa dalam agama Budha. Bahkan ia memberi nama lensanya dengan nama KASYAPA, diambil dari nama murid Budha, Mahakasyapa.

Ada tiga tipe kamera Kwanon di dalam iklannya, tetapi tak satupun yang dijumpai di pasar. Ternyata ketiga tipe Kwanon itu hanyalah model kamera saja. Ada kamera Kwanon Model D yang ditemukan tahun 1955, tetapi itupun meniru Kamera Leica Model II dan bukan dibuat oleh Yoshida, tidak diketahui siapa pembuatnya.

Dalam usahanya untuk komersialisasi produk Kwanon oleh Saburo Uchida, Precision Optical Instruments Laboratory, bekerja sama dengan Nippon Kogaku Kogyo (Industri Lensa Jepang untuk Perusahaan Nikon) untuk menggunakan lensa Nikkor yang akan digunakan oleh Kwanon.

Precision Optical Instruments Laboratory dan Nippon Kogaku membuat perjanjian kerjasama untuk membuat “Hansa Canon” (menggunakan lensa standar Nikkor 50mm f/3.5). Kamera pertama Canon dipasarkan bulan Februari l936 (beberapa sumber mengatakan sudah ada di pasar bulan Oktober l935). Dalam pembuatan Hansa Canon, Nippon Kogaku bertanggung jawab membuat lensa, mount lensa, optical system dari viewfinder dan mekanis rangefinder, sementara itu Precision Optical Instruments Laboratory bertanggung jawab membuat body kamera termasuk focal-plane-shutter, rangefinder cover dan merakitnya.
Nama Kwanon kemudian diganti dengan Canon, yang diambil dari kata Canon yang berarti standar untuk judgement skrip Alkitab.

Ketika “Hansa Canon” dirilis, nama Precision Optical Instruments Laboratory tidak dicantumkan. Karena perusahaan tidak memiliki sendiri jaringan pemasaran, maka kemudian perusahaan bekerjasama dengan Omiya Shashin Yohin Co., Ltd. (Kamera Omiya dan toko asesoris). “Hansa” menjadi merk dagang Omiya, diambil dari kata Perjanjian Hansa, perjanjian di antara Uni Eropa di abad pertengahan.

Bulan Juni l936, Precision Optical Instruments Laboratory pindah ke daerah Meguro, dan berganti nama menjadi Japan Precision Optical Instruments Laboratory. Nama ini muncul di media public dalam iklan “Hansa Canon” bulan Agustus l936 yang diterbitkan oleh Asahi Camera.

Dalam perkembangannya, pertengahan tahun 1937 Canon memproduksi sendiri lensa dengan nama SERENAR. Kemudian tahun 1942, Takeshi Mitarai teman dari Saburo Uchida, menjadi president Precision Optical Instruments Laboratory. Tanggal 15 September 1947, Mitarai mengganti nama perusahaan menjadi Canon Camera Co., Ltd. Kamera dan lensa yang dibuat sejak 1953, diberi nama Canon.

Hal yang menarik dari sejarah berdirinya Canon, bahwa :
Mahalnya kamera Leica ditanggapi seorang Goro Yoshida dengan “kemarahan” yang positif kreatif. Ia berhasil membuat prototype kamera Kwanon. Tetapi terbukti, ia hanya mampu membuat prototype kamera, tetapi tidak mampu “menjual”. Disinilah peran pentingnya marketing.

Apa yang didapat oleh Yoshida? Mungkin saja hanya sebuah kebanggaan atas prototype kamera Kwanon-nya. Sedangkan orang lain yang bisa menikmati gagasan Yoshida adalah orang yang berhasil mengembangkan gagasan itu menjadi sebuah bisnis.

Jadi kalau dalam dunia bisnis, bisa jadi seorang penggagas belum tentu bisa menikmati gagasannya itu menjadi sebuah “keuntungan” bagi dirinya. Bisa saja gagasan itu “dicuri” atau dikembangkan oleh orang lain. Justru orang lain yang bisa melihat “peluang” itulah yang bisa menikmatinya menjadi sebuah “keuntungan”.

Nampaknya, penting mempunyai “team work” yang baik dalam sebuah bisnis. Seorang penggagas, bisa mendelegasikan ke anggota team yang lain yang bisa mengeksekusi gagasannya itu, dan bisa meminta anggota team yang lain untuk memasarkannya.

Memang tidak mudah membangun teamwork yang solid. Kadang-kadang gagasan yang begitu baik, tidak diterima oleh anggota team yang lain.

Dalam beberapa even wedding photography, kadangkala salah satu anggota team “lupa” akan peran yang telah disepakati dalam pengarahan. Atau bahkan ada orang lain, di luar team yang mengacau, melakukan intervensi terhadap kerja team. Yang cukup membuat pusing adalah, ”keinginan” untuk mengambil ”keuntungan” instant dari pekerjaan yang sedang ditangani, tetapi cenderung tidak memberikan komitmen yang baik untuk menghasilkan apa yang terbaik dari dirinya, akibatnya sangat merugikan team, terutama dalam rangka membangun reputasi.

Pernah saya temui, salah satu orang marketing perusahaan catering yang mau memberi job kepada kami secara rutin untuk wedding photography tanpa sepengetahuan owner perusahan catering, dengan syarat % rupiah tertentu harus dibayarkan kepada ”oknum” tersebut, secara sembunyi-sembunyi.

Wah ini godaan yang berbahaya. Walaupun dengan pendekatan yang baik, sikap kami tegas, kami menolak untuk bekerja sama dengan orang semacam itu. Alhamdulillah, saat kita ”kehilangan job order” dari orang semacam tadi, ternyata tanpa diduga, kita malah mendapatkan klien yang nilai job-nya jauh lebih besar, langsung dari klien, sehingga bebas dari ”pungutan” oknum yang tidak bertanggung jawab.

Celakanya, oknum semacam tadi justru ”menindas” kami dengan meminta harga yang murah, padahal kami tidak mau memberikan jasa yang murah, karena memang output yang kita hasilkan pun memakan biaya yang tidak murah. Kami memberikan jasa photography yang terjangkau dengan hasil yang memuaskan klien. Tujuan kami yang utama adalah kepuasan klien.

Sumber : semua-peluang.blogspot.com

Sukses Air Oxy

Milikilah MENTAL BOLA BEKEL, semakin ditekan kebawah semakin melambung ke atas!
Semua jenis pekerjaan berat sudah pernah saya lakoni. Mulai berdagang rokok, asongan, jadi tukang ojek, dan terakhir saya berjualan martabak. Saya benar-benar merasakan betapa kerasnya hidup, namun jika kita tidak pernah lelah untuk berjuang, kita pasti bisa mewujudkan impian hidup kita. 

Hanya berbekal ijazah SD, Suwaryo mencoba mengadu nasib ke Jakarta. Tentu saja dengan bekal seperti itu Suwaryo sulit mendapatkan pekerjaan. Mulai dari pedagang rokok asongan, tikang ojek, dan terakhir Suwaryo berjualan martabak. Penghasilannya dengan usaha seperti itu tentu sangat minim, pas-pasan, bahkan kerap mengalami kekurangan.Terdorong oleh keinginannya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak, Suwaryo memutuskan untuk terjun di sebuah bisnis MLM. Meski sudah menekuni bisnis MLM selama tujuh tahun, nasib Suwaryo tak kunjung berubah, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dari bisnis MLM tersebut.

Saat dikenalkan dengan Oxy oleh Bp. Wasja, Suwaryo sebenarnya menolak berkali-kali. Dia masih trauma dengan bisnis MLM yang pernah dijalaninya. Namun karena Wasja dengan ulet dan tidak kenal menyerah, akhirnya Suwaryo merasa sungkan dan memutuskan untuk bergabung di Oxy. Awalnya dia hanya mengkonsumsi Oxy untuk kesehatannya saja, tapi ketika dia mulai melihat ada bonusnya, maka ia mulai tertarik untuk menjalankannya "Tantangan yang harus saya hadapi tidak hanya berupa penolakan saja, tapi saya harus bersedia mengantarkan beberapa dus Oxy kepada downline saya yang tempatnya sangat jauh, sebab memang belum ada stockist di di daerah itu. Saya bahkan pernah mengantar 6 dus Oxy ke serang dengan naik motor yang perjalannannya memakan waktu 4 jam, masih ditambah kehujanan" ujar Suwaryo.

Perjuangan Suwaryo dalam meraih sukses di bisnis Oxy tidak hanya berhenti disitu saja. Dia harus dihadapkan sebuah kenyataan pahit bahwa banyak downline dan jaringannya yang pasif, berhenti ditengah jalan, bahkan satu grup rontok dan pindah ke MLM lain hanya karena iming-iming lebih mudah dan lebih menjanjikan daripada Oxy. Itu semua dia anggap sebagai bagian dari proses dan perjuangan meraih sukses di bisnis Oxy ini. 

Perjuangan penjual mertabak ini akhirnya membuahkan hasil yang mencengangkan, "Saya bersyukur sebab melalui bisnis Oxy akhirnya hidup saya dan keluarga saya benar-benar berubah. Keadaan financial saya berubah, dari yang pas-pasan kini menjadi lebih dari cukup. Setiap bulan puluhan juta rupiah saya dapatkan dari dari bisnis Oxy ini. Selain itu saya sudah beli rumah dan membeli mobil impian. Tidak hanya itu, saya juga mendapatkan kesempatan untuk melancong ke tiga Negara dengan naik kapal mewah Star Cruise."

Ketika ditanya apa rahasia suksesnya, Suwaryo buka kartu dan blak-blakan bercerita bagaimana dia menjalankan bisnis Oxy hingga akhirnya sukses meraih peringkat Silver Director dalam waktu yang relative singkat.
Tekun melakukan presentasi atau home sharing minimal 2 kali dalam seminggu. Lebih sering lebih baik. Home Sharing adalah kekuatan kita dalam menjalankan bisnis Oxy dan menjaga jaringan kita tetap bergerak aktif.

Tawarkan Oxy secara terus menerus kepad siapapun, diamanpun dan kapanpun juga. Awalnya mungkin terasa sulit. Namun kita harus ingat bahwa kita bisa karena terbiasa. Sebab itu lakukanlah terus menerus dan jangan pernah berhenti.

Memiliki keyakinan kepada diri sendiri bahwa Anda bisa. Asal ada kemauan pasti ada jalan. Asal mau berjuang pasti sukses bisa kia raih. Selain memiliki keyakinan diri, Anda juga harus yakin kepada PT. CJDW bahwa perusahaan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dan membantu setiap distributor Oxy untuk meraih sukses. Keyakinan dan rasa percaya kepada perusahaan akan membuat kita melangkah dengan yakin dan berjuang dengan sungguh-sungguh.

Jangan pernah lihat kekurangan kita, tapi lihatlah kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Jika kita fokus pada kekurangan, maka kita akan lemah semangat dan merasa tidak mampu. Namun jika kita fokus  pada kelebihan-kelebihan yang kita miliki maka kita akan selalu bersemangat untuk memperjuangkan impian kita hingga berhasil.

"Jika ingin sukses di bisnis Oxy, maka kita harus punya MENTAL BOLA BEKEL, semakin ditekan kebawah maka akan semakin melambung ke atas. Semakin banyak menghadapi tantangan, kita semakin maju dan meraih sukses yang lebih besar. Sebaliknya, jangan sampai kita punya MENTAL TELOR, saat dijatuhkan atau ditekan ke bawah maka jadi hancur berantakan."

Akhir kata, saya panjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada PT CJDW yang telah memberikan saya jalan untuk mengubah hidup. Terima kasih kepada para leader yang telah membantu, membimbing dan memotivasi saya. Teristimewa kepada Bp. Wasja yang mengenalkan bisnis Oxy kepada saya. Juga kepada para downline dan jaringan saya yang telah mengantarkan sukses saya.

Sumber : tokoair.com

Label