Tampilkan postingan dengan label Kritik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritik. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juli 2013

Kerusakan lingkungan Cipatat oleh galian tambang pasir

Kerusakan lingkungan cipatat oleh galian tambang pasir

Kecamatan Cipatat memiliki potensi tambang yang beraneka ragam seperti bahan tambang golongan C yang terdiri dari batu kapur, batu gunung (andesit), pasir, pasir kuarsa, kerikil, tras, dan marmer. disamping itu, terdapat juga potensi tambang emas, batubara, perak dan timah hitam.potensi bahan galian golongan C terdapat pada wilayah Desa Gunung Masigit, Desa Citatah, Desa Mandala wangi dan Desa Cipatat. sedangkan potensi tambang Batu marmer terdapat di Desa Gunung Masigit, Citatah dan Cirawa mekar.

Potensi pertambangan golongan C di kecamatan Cipatat, memungkinkan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) karena cipatat terkenal sebagai daerah yang kaya mineral padat bawah tanahnya, namun pengelolaan hasil tambang harusnya bisa dilakukan seoptimal mungkin agar efisien, berwawasan lingkungan, serta berkeadilan dengan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, namun bagaimana dengan kondisi di daerah Cipatat saat ini Mas bro?.

Sebuah fenomena yang mungkin belum pernah dilihat banyak orang setelah situs Gua Pawon terancam rusak, sekarang galian pasir tipe C yang berada di kampung margaluyu Desa Citatah Kecamatan Cipatat, galian pasir tersebut berada persis bedampingan dengan jalan kereta api peninggalan kolonaial Belanda jurusan Bandung Cianjur, jalan kereta api itu merupakan situs yang harus dijaga kelestariannya 


Kerusakan lingkungan Cipatat oleh galian tambang pasir

Menghawatirkan….! ,itulah yang terjadi di kawasan Cipatat Kabupaten Bandung Barat, eksploitasi penambangan pasir besar-besaran terjadi disana dan saya katagorikan dalam tahap yang sudah menghawatirkan, dari hasil penelusuran kawasan penambangan pasir, Di kampung margaluyu Desa Citatah Kecamatan Cipatat banyak ditemukan degradasi kawasan yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas penambangan yang dilakukan secara besar-besaran.


Setelah perusahaaan besar bahkan orang berkantong tebal mulai masuk dan membabi buta melakukan eksploitasi, parahnya penambangan dilakukan tidak lagi dengan peralatan sederhana, tetapi dengan menggunakan  alat berat. Hal inilah yang menyebabkan degradasi kawasan ini berlangsung sangat cepat. ditambah lagi pihak penambang yang tidak melakukan rehabilitasi kawasan sesuai aturan penambang galian C.


UU No 4/Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba).UU ini adalah pengganti/penyempurnaan dari UU No 11/Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan  Pokok Pertambangan yang dianggap tidak lagi sesuai dengan kondisi masa kini. Terutama dengan adanya “UU Desentralisasi /Otonomi Daerah” seperti  UU No 32/Tahun 2004  tentang Pemerintahan Daerah dan UU No  33/Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.


Maka bahaya manipulasi oleh pengusaha dan kerusakan lingkungan harus betul-betul diwaspadai  oleh Pemerintah Daerah. Apalagi  UU 32/Tahun 2009  tentang  Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) akan memberikan sanksi pidana  kepada para pejabat yang memberikan izin kepada pengusaha yang merusak dan mencemarkan  lingkungan.

Kerusakan lingkungan Cipatat oleh galian tambang pasir
Sungguh ironis melihat dampak dan hasil yang sangat tidak sesuai dengan apa yang diterima masyarakat sekitar lokasi penambangan. Dari data yang saya himpun dari awal berdirinya  pemkab Bandung Barat hanya mendapat sedikit saja PAD dari hasil pertambangan salah satu diantaranya berasal dari industri pertambangan di kecamatan Cipatat. 

Padahal hasil tambang dari kecamatan Cipatat itu luar biasa, Itu belum termasuk dari material tambang lainnya, seperti pasir,kerikil dan trass,dijalur tak resmi uang yang jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah juga masuk dalam kantong-kantong sejumlah oknum, namun dari penghasilan yang mencapai ratusan juta itu,warga pribumi hanya mendapatkan sedikit saja. Tidak sebanding dengan dampak yang ditimbulkan warga seperti akses jalan rusak parah dan derita sesak nafas akibat polusi debu pasir yang beterbangan di musim kemarau. Euy dengar tidak?

Pemerintah harusnya segera memberikan tanggapan tentang masalah ini, dengan cara meninjau lokasi, mendata, merevitalisasi dan memberikan keputusan terhadap kegiatan penambang yang sudah sangat membahayakan, dan harus tegas untuk menutup karena tidak sesuai dengan perundangan yang berlaku. Bagaimana ketegasan Bupati Bandung Barat beserta perangkat di bawahnya mengenai hal ini? dan siapa yang harus bertanggung jawab penuh atas kerusakan lingkungan hingga nanti dampak bencana yang dialami warga kawasan daerah Cipatat dan sekitarnya…????

Selasa, 28 Mei 2013

Titik terang kasus Century

Jalan terang kasus Century
Titik terang kasus century
SETELAH tiga tahun terjebak di lorong pekat, pengusutan kasus pengucuran dana talangan Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun kian menunjukkan titik terang. Tidak ada alasan lagi bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk tidak secepatnya menuntaskan mega skandal itu.

Sulit dimungkiri, kasus Bank Century ialah perkara super besar, tetapi disikapi dengan kemauan kecil untuk menyelesaikannya. Sudah tiga tahun KPK menyelisik, mengusut, dan menyidik kasus itu. Sekitar 100 saksi telah dimintai keterangan.(UA-40096279-1)
DPR bahkan perlu turun tangan dengan membentuk Tim Pengawas Kasus Bank Century.

Namun, segala upaya yang seolah-olah luar biasa itu minim hasil. KPK bahkan baru mampu menjerat satu tersangka, yakni mantan Deputi Bidang IV Pengelolaan Devisa Bank Indonesia (BI) Budi Mulya. Mantan Deputi Bidang Pengawasan BI Siti Chalimah Fajriyah awalnya juga ditetapkan sebagai tersangka, tetapi kemudian diralat.

Harus kita katakan bahwa KPK berjalan bak kura-kura, amat lamban dalam mengusut kasus Century. Tiga tahun merupakan rentang waktu yang amat panjang untuk membuat perkara itu menjadi terang benderang. Tak salah pula jika publik akhirnya memendam keyakinan bahwa kasus Century sengaja dibikin gelap.

Meski begitu, ibarat idiom better late than never, kita masih berharap mega kasus tersebut bisa diurai. Apalagi jika menilik gerak cepat KPK belakangan ini untuk merangkum alat-alat bukti baru.
Setelah memeriksa mantan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani Indrawati di Amerika Serikat (AS), akhir bulan silam, KPK mengorek keterangan dari mantan Sekretaris KSSK Raden Pardede, Senin (27/5).

Hasilnya, menurut Ketua KPK Abraham Samad, sungguh menggembirakan. Dari mulut Sri Mulyani meluncur keterangan yang belum pernah terungkap sebelumnya.

Raden Pardede pun menegaskan kewenangan pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemis sepenuhnya di tangan BI. Raden menyatakan pula dirinya dan Sri Mulyani tidak mengetahui rapat pemutusan pemberian FPJP karena tidak pernah diajak rapat.

Pengakuan Raden jelas bukan sembarang pengakuan. Ia mengerucutkan persoalan tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas pemberian label bank gagal berdampak sistemis kepada Bank Century. Label itulah yang lantas diikuti dengan penggelontoran uang negara dari semula Rp632 miliar, tapi membengkak menjadi Rp6,7 triliun.

Meski masih sepihak, pengakuan Raden bisa menjadi penuntun arah bahwa BI yang ketika itu dipimpin Boediono (kini wakil presiden) harus menjadi fokus penyidikan KPK. Dengan keterangan Raden, jalan mulus untuk merampungkan kasus Century terhampar di depan mata.

Kini, tinggal KPK yang mesti bersungguh-sungguh meniti jalan itu. Jangan pernah lagi penyelesaian patgulipat Century dibuat berliku. Jangan pernah lagi titik terang disulap menjadi gelap.

Logika publik sederhana bahwa pengucuran triliunan rupiah uang negara ke Bank Century tak mungkin dikreasi Budi Mulya semata. Pasti ada pemeran utama yang lebih punya kuasa.

Keinginan rakyat juga sederhana, yakni KPK harus secepatnya menebaskan pedang hukum kepada seluruh pelaku dan aktor intelektualnya, siapa pun dia, apa pun jabatannya. Itulah pertaruhan bagi KPK.

Source articles: http://www.matanajwa.com/videoprogram/detail/2013/05/29/17407/121/Jalan-Terang-Kasus-Century/Editorial%20Media%20Indonesia

Sabtu, 04 Mei 2013

PETANI INDONESIA ITU LUAR BIASA


PETANI INDONESIA ITU LUAR BIASA

Siapa yang bilang petani Indonesia jelek, siapa yang bilang petani Indonesia terpuruk dan siapa yang bilang petani Indonesia tidak professional ???
Petani Indonesia itu luar biasa, ......!
Negeri kita adalah negeri agraris, duluuu!, mayoritas penduduknya adalah petani dan kita merupakan bagian dari mereka dan memang kita  produk masa lalu (petani) Lalu apa yang menjadikan petani Indonesia itu luar biasa, mari kita tengok:

Pertama;  Dengan lahan rata-rata 0,2 ha, petani kita bisa menghidupi keluarganya
Bukankah itu luar biasa ?. Dengan 2000 m2, petani kita bisa memaksimalkan hasil panennya, sehingga di dapatkan hasil panen/produksi yang tinggi. Dan itu cukup buat menghidupi keluarganya. Setahu saya, belum ada negara di dunia yang para petaninya dengan lahan terbatas bisa menghidupi keluarganya dari tahun ke tahun seperti petani kita.

Dengan daya tahan yang luar biasa ini, saya jadi ingat akan angggaran dari pemerintah yang jumlahnya puluhan triliun/tahun. Andai, dalam 3 tahun saja, 50 % dari dana tersebut dibelikan/dicetak lahan sawah baru. Atau membeli lahan sawah yang mau dijual petani. Atau membeli kembali  lahan para petani yang terpaksa sudah dijual kepada pihak lain. Tentu masalah pangan akan cepat diselesaikan

Persoalan lahan sebetulnya mudah untuk diselesai. Memang, banyak program yang digulirkan pemerintah. Tapi menurut saya, persoalan dasarnya adalah kepemilikan lahan. Sekali lagi : Petani ingin punya lahan yang bisa digarap. Syukur-syukur bisa dibeli lagi oleh para petani. “Tidak apa-apa, tanah garapan saya milik negara. Asal saya jangan digusur. Akan saya bayar sewanya kok,,,,” ungkap petani yang menggarap sawah milik PT.

Petani tidak neko-neko. Para petani hanya butuh lahan yang lebih luas, agar hasil panennya dapat banyak. Ingat Mas Bro, para petani tidak pernah menuntut macam-macam. Mereka tiap tahun tidak  menuntut minta kenaikkan UMR. Justru, para petani akan membayar sewa lahan milik Negara. Luar biasa bukan?

Oleh sebab itu, dibutuhkan pemimpin yang punya visi ke depan. Pemimpin yang mau memperjuangkan nasib hidup  petani. Pemimpin yang mau membuka lahan sawah baru. Pemimpin yang mau mencetak lahan-lahan/sawah baru yang akan hilang tapi jangan membuat lahan gambut sejuta hektar seperti jaman orde baru dulu, bisi gagal total uang rakyat triliunan rupiah lenyap entah kemana, inilah yang namanya uang setan dimakan jin, iya toh!!!!

Kedua; produktivitas hasil panen tinggi
Dalam satu hamparan padi, sewaktu selesai panen, ada beberapa petani dapat hasil panen di  MT-1. Kita ambil contoh; petani A dapat hasil panen 6 ton/ha. Petani B dapat 7,5 ton. Petani C dapat 4,5 ton/ha, petani  D mendapat 7 ton/ha dan petani E dapat 8,5 ton/ha. Kata “dapat hasil panen” persamaannya adalah “produksi”. Nah, bagitu dirata-ratakan  dari ke-5 petani tsb maka didapatkan kata produktivitas. Coba bandingkan dengan negara lain, produktivitas petani padi Indonesia lebih tinggi  57 % di atas India. 76 % di  atas Thailand. Sekali lagi di atas Thailand, yang seakan-akan dikenal dengan dunia pertaniannya.

Dan kita dicekoki dengan kata-kata ini : BANGKOK !!!. Apa-apa Bangkok,  durian Bangkok, jambu, dll. Tapi, tidak ada: PADI BANGKOK !!! Trus, 58 % di atas Myanmar. Dan 48 % di atas Filipina. Bagaimana dengan Malaysia? Jauh sekali Bro..!   Data-data itu saya dapatkan dari Pak Sumarno dari Sinar Tani Edisi 24/2010

Ketiga; Luas panen per kapita kecil 550 m2/kapita tapi mampu menghasil
kan 170 kg/kapita
Untuk menghitungnya, jumlah luas panen padi seluruh Indonesia dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia. Maka didapatkan hasil sekitar 550 m2/kapita. Itu artinya diasumsikan setiap orang di Indonesia memiliki lahan 550 m2. Tapi dengan luas lahan Cuma 550 m2 dapat dihasilkan sekitar 170 kg beras.Coba bandingkan dengan Negara lain seperti Thailan 1.570 m2/kapita, Vietnam 866 m2/kapita, dan Myanmar  1.500 m2/kapita.

Keempat; petani kita mempunya kebiasaan memberi nama baru bagi varietas padi.
Dan ini yang unik. Ada di tiap daerah, bila ada varietas baru dan hasilnya bagus. Maka akan keluar nama-nama varietas baru. Padahal mereka tidak melakukan penyilangan. Mereka (sebagian kecil petani) dengan seenak udelnya, memberi nama-nama baru : shogun, cisadane,ciherang dempu, ciherang doyok, ciherang brunai, ah pokoknya macam macam

Kelima, mari kita berdamai dengan nurani kita sendiri..........

Selasa, 30 April 2013

Kemiskinan musuh kita bersama



Kemiskinan musuh kita bersama
Negara kita adalah Negara kaya, siapa yang bilang miskin…? Coba kita tengok hutan kita kaya karena didalamnya banyak menyimpan kekayaan ada jati, ulin, meranti, sengon dan lain lain, tanah kita kaya Karena didalamnya menyimpan kekayaan ada minyak bumi, emas, batu bara, tembaga, besi dan lain lain dan juga laut kita kaya karena berbagai macam ikan hidup didalamnya dari ikan teri sampai ikan paus ada, tapi mengapa penduduk Indonesia miskin ?  what wrong…..?

Data data yang diterima dari Badan Statistik akhir akhir ini menujukan bahwa jumlah penduduk yang dibawah garis kemiskinan di Indonesia tinggal 28,59 juta orang atau 11,66 persen dari total penduduk Indonesia, katanya…! karena kita juga belum melakukan sensus. Walaupun demikian tapi jangan membuat kita jadi pesimis kita harus memberikan penghormatan dan penghargaan yang setinggi tingginya terhadap upaya upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam menekan angka kemiskinan di negeri ini.
Kemiskinan adalah musuh kita bersama, latar belakangnya bisa bermacam macam; disini saya akan menyampaikan beberapa diantaranya saja :


1.    Keterbelakangan

Rakyat Indonesia mayoritas berada dipedesaan dan pedalaman yang kurang tersentuh oleh program pemerintah, kondisinya memperihatinkan hidupnya dibawah garis kemiskinan, terlalu riskan kalau saya menyebutnya miskin total. Makanannya masih tradisional alias tidak memenuhi standar gizi YANG BAIK, pendidikannya pun masih bibawah standar alias buta huruf bin masih terbelakang namun fanatisme dan patriotisme keIndonesiaannya sangat kental, sehingga ketika kekayaannya dijarah oleh orang kota mereka mangut mangut saja karena memang orang suku pedalaman kok

2.   Kebodohan

Nah kalau rakyat Indonesia yang ini agak mendingan, mereka sudah bisa baca tulis tapi belum tahu aturan, belum tahu hak dan kewajiban sehingga hidupnya memakai aturan hukum rimba mereka cenderung jadi objek penderita dari orang orang pintar (mudah dimanfaatkan oleh orang orang yang punya kepentingan) misalnya kepentingan politik/mencari dukungan, memang cocok mencari dukungan kepada orang bodoh... irit biaya, kepentingan bisnis dan lain sebagainya

3.   Korupsi merajalela

Ya, memang korupsi sudah melembaga dari tingkat atas sampai dengan tingkat bawah, orang sudah tidak punya rasa malu lagi untuk melakukan korupsi, paktanya memang demikian. Mari kita tengok kalangan elit pejabat dengan dalih penyesuaian anggarankah, study banding keluar negri kah, ah pokoknya bermacam macam, mereka bicara dengan menggunakan retorika mutar mutar menghanyutkan rakyat, padahal mau nilep duit rakyat

4.   Kurangnya Penegakan Hukum (Low Inforcement)

Hukum kadang sering berpihak, sering tidak melihat silemah atau simiskin sehingga mereka tersudutlah dipojok pojok kehidupan hak-haknya dirampas dan mereka tidak berdaya. Tapi kalau yang punya urusannya pemguasa, pengusaha atau pejabat hukum cepat cepat ditegakan. Ini pakta dan semua orang tahu dan tiap hari melihat tayangannya ditelevisi

5.    Moral

Moral adalah sebuah benda yang abstrak dan susah dicari akan tetapi kalau orang sudah tidak memiliki benda ini akibatnya sangat dahsyat sekali, lebih dari kekuatan bom atom. Ya!, kalau orang sudah tidak mempunyai moral ya seperti itu,ada yang ngurus beras jadi kutu beras, ada yang ngurus laut jadi bajak laut, yang ngurus bawang jadi hama bawang, yang ngurus minyak jadi hantu minyak, yang ngurus zakat jadi apa coba…? Ya jadi setan....,sompret makan tuh rejeki pakir miskin, biar mati kekenyangan lhu!

Itulah barangkali garis besarnya, beberapa poin dari sekian banyak musuh kemiskinan yang harus kita berantas sampai habis jangan sampai menjadi kangker yang menjalar keberbagai sendi kehidupan, kalau kita tidak memberantasnya dari sekarang tunggu saja kehancuran negeri ini
Mudah mudahan bermanfaat

Label