Kamis, 25 Juli 2013

Musim Hujan, Produsen Hanger Banjir Order


JOMBANG - Musim hujan tak hanya memberikan banjir air saja. Tenyata membawa berkah bagi perajin hanger (gantungan pakaian). Hanger banyak diburu ibu-ibu untuk menggantung baju yang tak kunjung kering.
Bagi Ahmad Sholeh, menjadi pengusaha hanger adalah pilihan yang tepat. Ini karena menurutnya, sejauh ini bisnis tersebut tak pernah sepi. Apalagi pada musim hujan seperti ini. Ahmad Sholeh, adalah salah satu pemilik home industri pembuat hanger yang kecipratan rezeki. Usahanya berlokasi di Desa Jogoroto, Kecamatan Sumobito, Jombang, Jawa Timur.

Bisnis membuat hanger ini telah dijalani Akhmad sejak 1996 lalu. Saat itu, dia melihat ada peluang bisnis ini menjadi modal asap dapurnya mengepul. Dengan berbekal keyakinannya itu, dia mulai mencoba meneliti salah satu hanger yang diproduksi pabrik besar.

Dia bahkan mengaku sempat membongkar habis salah satu hanger buatan pabrikan tersebut. Kemudian dia mulai membuat alat untuk mempermudah pembuatan hanger itu.  Alhasil, dia mampu membuat lima unit alat untuk proses pembuatan hanger dari bahan mentah sampai jadi Alat produksi ini selesai dia buat dengan bantuan salah satu temannya. Dia pun berusaha mencari bahan baku yang dianggapnya murah dan gampang diperoleh. Siasat ini dilakukan agar barang produksinya itu harganya terjangkau oleh pasaran.

''Bahan baku hanger ini saya beli dari pabrik kertas yang memiliki limbah kawat untuk tali palet. Dan sejauh ini, bahan baku tersebut kami anggap paling murah, karena merupakan limbah bagi pabrik itu,'' aku Ahmad.
Dari bahan baku itu, dia dan 20 pekerjanya mulai membentuk hanger yang banyak dijual dipasaran. Mulai dari proses meluruskan kawat, membentuk pola dasar, membentuk lengkungan dan finishing berupa pemberian warna chrom, dia lakukan dengan pekerja yang berasal dari tetangganya sendiri.

''Sengaja kami memakai tenaga kerja dari tetangga sendiri, untuk mengurangi jumlah pengangguran di desa ini. Selain itu, banyak ibu rumah tangga yang tak memiliki pekerjaan sehari-hari,'' ungkapnya.

Dari 20 tangan pekerjanya, dia mampu memproduksi sedikitnya 400 lusin hanger. Namun menurutnya, untuk memproses dari bahan baku limbah menjadi barang jadi itu juga butuh proses yang cukup panjang.

''Untuk hanger saja, sekitar 400 lusin bisa dihasilkan dalam sehari. Itu belum proses produksi lainnya seperti keset kawat dan gantungan baju jenis yang lain,'' ungkap pria lulusan SMA itu. Sayangnya, jumlah produksi sebanyak itu di musim panas hanya menumpuknya di gudang. Karena jumlah pembeli yang belum seimbang. Namun, saat musim hujang seperti ini, kondisinya berbalik.

Bahkan, barang jadinya itu tak sempat "parkir" di gudang karena banyaknya pemesan. Dia juga mengaku kuwalahan melayani banyaknya pembeli di musim hujan seperti sekarang ini. ''Lihat saja, setelah selesai di-chrom, langsung diangkut ke mobil untuk dikirim ke pemesan. Kenaikan omzet kami lebih dari 70 persen,'' tukas pria, anak dari pasangan H Lukman dan Hj Sunarti ini.

Dari produk hangernya itu, dia mematok harga mulai Rp6.000-Rp7.000, tergantung dari besarnya kawat yang dipakai. Menurut dia, dari harga jual sebesar itu, dia mengaku masih banyak mengantongi untung. 
''Untuk kawat ukuran 2,3 mm, kami menjualnya Rp6.000, dan untuk yang ukuran tiga mm, saya jual dengan harga Rp7.000,'' rincinya.

Namun, masalah klasik tetap saja dikeluhkan Ahmad. Menurutnya, dia masih terbentur dengan minimnya modal dan belum adanya bantuan modal dari pemerintah daerah setempat.

''Andaikata ada pinjaman lunak yang diberikan pemerintah, mungkin saya akan bisa menambah tenaga kerja lagi. Karena sudah ada angan-angan bentuk produk lain yang akan saya buat,'' tukasnya. Jika keinginannya terwujud, dia telah membidik Pulau Jawa sebagai pasar produknya.

Sumber : economy.okezone.com

Bisnis Sandal dari Limbah Kelapa Laris Manis


Purbalingga – Kejelian menangkap bisnis kerap kali membuat orang sukses menjadi wirausahawan. Hal ini lah yang dialami oleh Unardi perajin sandal dari limbah tempurung kelapa asal Purbalingga, Jawa Tengah. Unardi mengungkapkan, ide membuat sandal tempurung kelapa muncul begitu saja. Inspirasinya berawal saat melihat potongan sisa tempurung yang telah dibuat berbagai macam kerajinan. Daripada potongan tempurung kecil-kecil tidak dipakai, ia lantas dimanfaatkan dengan cara dirangkai secara vertikal dan direkatkan dengan rem. ”Kebanyakan pesanan sandal tempurung untuk souvenir. Selain itu juga sejumlah pedagang dari luar kota seperti dari Bali, Jakarta dan Bandung, memesan sandal tempurung dari kami,” kata Unardi, Jumat (08/04/2011).

Selama ini alas kaki sandal kebanyakan dibuat dari karet atau bahan plastik. Produk milik Unardi ini justru memiliki ciri khas tersendiri, sehingga tak heran sandal Made in Purbalingga ini laris manis di banyak kota di Tanah Air. Sandal ini ternyata  diminati konsumen dari luar kota seperti Jakarta, Bandung dan Bali. Sementara di penjualan lokal, tidak begitu banyak dikenal. Bisa jadi, sandal tempurung buatan Purbalingga ini justru tidak banyak diketahui jika orang berasal dari Purbalingga.

Unardi menuturkan meski berbahan dasar sebagian besar dari tempurung kelapa, namun bagian alas sandal tetap menggunakan bahan karet atau plastik, sesuai selera konsumen. Sementara bagian pengikat kaki, juga sama dengan sandal lainnya. Tempurung hanya digunakan pada pelapis alas sandal. Harga sepasang sandal ini juga tidak begitu mahal, cukup merogoh Rp 25.000, anda sudah bisa membawa pulang sepasang sandal unik ini. Harga itu berlaku  untuk jenis sandal ukuran apa saja. ”Kami juga terus didorong oleh Disperindagkop Kabupaten Purbalingga untuk terus membuat produk-produk yang unik dan belum ada di masyarakat. Seperti sandal tempurung, juga meja tempurung, tempat tisue, kap lampu, asbak, tempat minuman dan sejumlah produk lainnya,” katanya.

Ketua kelompok pengrajin tempurung ‘Manunggal Karya’ Sutrisno mengatakan  kini ia memiliki 42 orang anggota. Setidaknya ada 34 macam hasil kerajinan yang diproduksi dan dijual ke pasaran di sejumlah kota besar. Hasil kerajinan ini sebagian besar untuk keperluan rumah tangga seperti irus, centong, sendok kayu kelapa, piring kayu, ciri dan penghalus sambal, jam tempurung dan sebagainya. Bahan dasar yang digunakan selain limbah tempurung, juga potongan kayu kelapa (glugu), dan potongan kayu melinjo. ”Kami secara terus menerus mendapat dukungan promosi dari Pemerintah Kababupaten Purbalingga melalui Disperindagkop Kabupaten Purbalingga, dan juga melalui Bank Jateng,” kata Sutrisno.

Sumber : usahasatriamandala.blogspot.com

Rabu, 24 Juli 2013

Muhammad Alkaf Direktur PT Harfam Sukses Tawarkan Franchise

Dengan investasi  Rp 350 juta untuk jabon  dan Rp 650 juta untuk hutan jati mas, potensi income yang didapat bisa Rp 100 juta sampai Rp 200 juta sebulan.

Jati Emas (golden teak) akhir-akhir ini makin banyak dibicarakan masyarakat perhutanan maupun masyarakat perkayuan dari berbagai lapisan. Jati emas merupakan hasil penelitian serta pengembangan intensif yang berkesinambungan selama beberapa puluh tahun di Thailand. Jati emas sendiri memiliki beberapa keunggulan dibanding kayu jati lokal. Selain daya tumbuhnya cepat, tingkat kelurusannya yang tinggi, juga warna kuning keemasan dengan seratnya yang lurus sehingga sangat disukai konsumen luar negeri. 

Dengan percepatan tumbuh rata-rata 20 cm per 10 hari, praktis memperpendek masa panen jati emas dibanding jati lokal yang umumnya 40 tahun menjadi 5-15 tahun saja. Mutu jati emas sendiri diklasifikasikan sebagai kayu jati kelas ringan dengan kepadatan 700 kg/m3.  Warna jati emas juga menjadi trend setter dalam tradisi warna furniture di Amerika, Eropa, dan Jepang yang menjadi tujuan ekspor di masa mendatang.

Peluang pengembangan hutan jati emas di Indonesia kemudian ditangkap pengusaha muda Muhammad Alkaf. Lewat PT Harfam Jaya Makmur, Alkaf fokus membidangi penanaman hutan sejak 2004. “Usaha ini diawali dari perhatian yang tinggi dari para pendirinya terhadap pelestarian alam dan pemberdayaannya yang dapat memberikan nilai ekonomis yang tinggi untuk kesejahteraan masyarakat,” ungkap Presiden Direktur Harfam ini. Tanah-tanah yang kurang produktif coba ditanami bibit jati emas dan jabon yang direkayasa sehingga kualitasnya menjadi lebih baik.

Penanaman hutan juga sebagai upaya Alkaf untuk turut serta memenuhi kebutuhan dunia akan kayu yang terus meningkat, baik untuk pasar global maupun Indonesia, yang tidak mampu diimbangi dengan produksi kayu itu sendiri. Perkembangan populasi dunia terus meningkat, sementara pada saat bersamaan terjadi proses penyempitan hutan. Akibatnya, permintaan dunia kayu akan senantiasa tidak tercukupi.

Setelah melakukan survei sekitar 2 tahun, Harfam menemukan daerah Bondowoso, Jawa Timur, merupakan wilayah yang tepat untuk ditanami jati emas. Lahan yang dipilih semula merupakan lahan tidur atau lahan yang kurang didayagunakan. Kemudian setelah menjadi areal penanaman jati emas, memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Alkaf juga mengatakan, saat ini masih banyak lahan di daerah yang belum tergarap. “Tahun 2010 kita roadshow pameran untuk menawarkan investasi usaha ini ke beberapa kota di Indonesia. Ternyata di daerah banyak lahan yang belum tergarap. Mereka punya lahan tapi tidak tahu cara mengelolanya,” ujarnya. Hal itu juga menjadi alasan Harfam memfranchisekan usaha jati emas dan jabonnya lewat PT Harfam Indonesia. Ia menjelaskan, semua lahan di Indonesia bisa ditanami jabon. Sedangkan untuk jati emas, perlu survei terlebih dahulu karena tidak semua bisa ditanami.

Indonesia menurut Alkaf, memiliki kondisi tanah dan cuaca yang lebih baik untuk mengembangkan jati dibanding Thailand. Sehingga bukan tidak mungkin, jika industri perkayuan tersebut dikelola dengan baik akan mampu mengungguli Thailand. Guna mendukung hal tersebut, Harfam terus meningkatkan penelitiannya dengan perusahaan bibit terpercaya di Thailand serta universitas-universitas pertanian. 

Harfam mematok harga Rp 650 juta bagi yang tertarik menjadi franchisee jati emas. Sedangkan jabon, Rp 350 juta. Angka tersebut diluar biaya sewa tempat dan set up kantor. Kalau termasuk set up, bisa sampai Rp 1 miliar. Franchisee akan mendapatkan 1000 bibit jati emas unggul dan 500 bibit jabon unggul, pupuk organic dan anorganik selama 6 tahun untuk lahan 1 hektare (untuk franchisee jati emas) atau 3 tahun untuk jabon. BEP di bulan ke-7 dengan potensi income untuk franchisee jati emas Rp 200 juta/bulan dan Rp 100 juta/ bulan untuk jabon. Perjanjian franchise berlaku 10 tahun.

Franchisee bertindak sebagai representasi Harfam di wilayahnya. Sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan franchisee antara lain; mencari mitra calon pemilik kebun, menawarkan penjualan tanah kebun, mengelola perkebunan jati emas atau jabon, menjualkan hasil panen perkebunan, dan menerima bagi hasil dari pemilik kebun.

Untuk itu, Harfam akan memberikan support berkelanjutan bagi franchiseenya. “Selama dia menjadi franchisee kita, selama itu juga dia kita latih,” kata Alkaf. Pelatihan yang diberikan meliputi pelatihan marketing, mengelola kebun, cara jualan, manajemen. Untuk SDM ahli pertanian, diserahkan kepada franchisee.

Sumber : majalahfranchise.com

Santi Mia Sipan Sukses Berbisnis Kayu Jati

Direktur Utama PT Jaty Arthamas Santi Mia Sipan mendapatkan penghargaan Ernst & Young untuk kategori Best Women Entrepreneur of the Year 2010. Santi pun membagi resep suksesnya dalam berwirausaha.

Santi mengemukakan bahwa untuk menjadi pengusaha, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengubah mindset. Mindset ini, menurutnya sangat penting untuk memupuk optimisme.

"Ada motivator bilang, sejahtera lebih penting dari kaya. Saya enggak pernah berpikir begitu, yang selalu ada dalam mindset saya adalah orang akan lebih elegan nangis di dalam Mercedes Benz dari pada di motor," ujarnya baru-baru ini.

"Ingat, bekerja ikut orang hanya akan membuat kita sejahtera dan bukan kaya," tegasnya.

Ia juga menceritakan, sebelumnya dia sempat menjadi sekretaris direktur utama di tiga perusahaan skala nasional. Tapi ia memilih hengkang dan memulai usaha sendiri, dengan mengikuti multi level marketing (MLM) yang bermodal hanya Rp275 ribu. "Siapa bilang MLM itu tidak memiliki prospek? MLM adalah sekolah candra di muka yang mendidik kita memiliki mental baja dan pantang menyerah," lanjutnya lagi.

Langkah cerdas lainnya yang harus dilakukan dalam mencapai sukses adalah dengan mengikuti seminar-seminar hebat dan membaca buku. "Baca buku minimal dua bulan, its a must," tambahnya.

Perempuan pemilik usaha kayu jati ini mengemukakan alasannya berbisnis jati, "Jati itu komoditas kayu yang paling mahal dan kualitasnya bagus, harganya itu bisa menjadi dua kali lipat dalam lima tahun. Dan sampai saat ini, Indonesia hanya mampu memasok sekitar 30 persen kebutuhan nasional, sisanya kita ganti dengan kayu kualitas lebih rendah seperti sengon," jelasnya.

Wanita yang mengaku lebih sreg mempekerjakan pegawai perempuan di kantornya ini mempunyai banyak trik untuk menggaet investor agar mau bekerjasama dengan perusahaannya.

"Saya katakan dalam 7-8 tahun pohon jati sudah bisa ditebang dan mereka sudah bisa ambil untung sekira Rp400 juta. Tapi kalau mereka tidak sabar, kita tawarkan juga bisnis MLM lain, kayak bakso, kebab, dll. MLM makanan itu saya join dengan pihak lain, investor banyak yang tertarik karena dalam satu tahun sudah bisa untung," ungkapnya.

Jaty Arthamas adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan bibit jati. Perusahaan ini memiliki lahan di kawasan Jonggol, Sukabumi dan Semarang. Perusahaan yang mulai dirintis sejak 1998 dan berkantor di Senayan ini memiliki pendapatan sekira Rp10 miliar tahun lalu.

Dalam kesempatan ini, ia juga sempat mengutarakan bahwa market share perusahaannya adalah 60 persen warga keturunan Tionghoa (Cina) dan selebihnya adalah asing dan perajin lokal. 

Sumber : economy.okezone.com

“Sentuhan Emas” Bisnis Tony Fernandes

Mari kita berandai-andai. Jika seandainya usaha atau pekerjaan yang kita kerjakan selalu berhasil, selalu menguntungkan, selalu jadi, dan selalu memuaskan. Wah, pasti sangat menyenangkan sekali bukan? Tapi apakah ada orang yang punya kemampuan seperti itu? Mungkin kalau yang dimaksud adalah orang yang "bertangan dingin" yang tekun dan konsisiten melakukan sesuatu hingga berhasil, itu memang ada, salah satunya adalah pendiri maskapai penerbagan AirAsia, Tony Fernandes. 

Anthony Francis Fernandes, adalah seorang pengusaha sukses asal negeri jiran, yang namanya mulai banyak dikenal masyarakat, saat dia berhasil membawa maskapai penerbangan pemerintah Malaysia AirAsia yang diambang kebangkrutan, menjadi memasuki masa jaya. 

Sebelum melambungkan nama AirAsia, Tony Fernandez bekerja di Warner Music, dan sempat mencapai prestasi sebagai Manager Director termuda di perusahaan tersebut pada umurnya yang masih 27 tahun. Awal mula dia memutuskan untuk beralih dari bekerja di bidang musik untuk kemudian menjadi seorang pengusaha di bidang maskapai penerbangan adalah berawal dari tayangan iklan EasyJet di bar dan ketertarikannya kepada pesawat. Keputusannya untuk hengkang dari Warner Music didasari fakta yang kurang mengenakkan dari industri music. Pembajakan! 

AirAsia yang pada tahun pertama beraksi dibawah komando Tony Fernandez (pada 2002) hanya mengangkut penumpang sejumlah 250.000 dan 200 staf, hingga pada tahun 2012 AirAsia tercatat memiliki 103 armada pesawat dan 10.000 staf serta memiliki target 32juta penumpang kedepannya. Singkat cerita, Tony berhasil "menyentuh" AirAsia yang semula adalah perusahaan penerbangan yang dililit utang banyak menjadi perusahaan yang menguntungkan. 

Selain tercatat sebagai pemilik AirAsia, Tony Fernandez tercatat pula sebagai presiden klub sepak bola liga Inggris, Queens Park Rangers (QPR). Pada 18 Agustus 2011 Tony resmi menjadi pemegang mayoritas saham QPR setelah membeli 66% saham klub tersebut dariBernie Ecclestone. Selain sepak bola, Tony juga merambah bisnis berdasarkan hobinya yang lain yaitu pada bidang olahraga balapan mobil F1. Tony tercatat sebagai ketua Caterham Formula One Team yang turun ke arena balap dengan nama Lotus Racing (2010) atau Team Lotus (2011). 

Sebelum kita membahas pesan tersembunyi di balik kesuksesan seorang pemilik bisnis penerbangan asal Malaysia ini, berikut adalah cerita tentang Raja Midas yang punya kemampuan apa pun yang disentuhnya bisa menjadi emas. Walau pun kisah Midas ini tidak teruji kebenarannya, namun kita tetap bisa mengambil pesan moral yang ada di baliknya. 

Dahulu, negeri Yunani diperintah oleh seorang raja bernama Raja Midas. Waktu itu, di sana dewa-dewa masih tinggal di Gunung Olympus. Mereka tampan, cantik, anggun, dan sakti. Manusia biasa menaruh hormat dan sedikit takut pada mereka, kecuali Raja Midas. Raja yang periang ini tak pernah punya pikiran, bagaimana mungkin para dewa akan mencelakakannya. 

Raja Midas suka sekali mengundang para dewa ke istananya untuk suatu perjamuan. Raja Midas sangat tertarik melihat penampilan para dewa yang anggun, cantik, gagah, tampan, dan sakti itu. Raja Midas lupa, kesaktian para dewa mungkin bisa membuatnya celaka. Suatu malam Raja Midas menjamu Dewa Bacchus, Dewa anggur dan Dewa hutan serta beberapa gembala. Karena puas, Dewa Bacchus berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan Raja Midas. 

Menjamu tamu-tamu terhormat seperti itu membutuhkan biaya banyak, jadi Raja Midas berharap apapun yang disentuhnya dapat berubah menjadi emas. "Dengan demikian aku tak akan kehabisan uang," pikirnya. Dewa Bacchus mengabulkan permintaannya. Mula-mula Raja Midas merasa senang. Disentuhnya bunga-bunga di taman istana dan bunga-bunga itu pun berubah menjadi emas. Dia Menyentuh semak-semak, pohon-pohon, serta dinding istana. Semuanya berubah menjadi emas berkilau. 

Tapi ketika Raja Midas lapar, dan ingin bersantap, apapun yang disentuhnya jadi emas. Paha kalkun, ayam panggang, apel, anggur, semuanya jadi emas. Raja Midas tidak bisa makan. Putri kesayangannya berlari masuk ruang makan, dan memeluk baginda untuk mengucapkan selamat pagi, dia pun berubah menjadi patung emas! 

Tony memang memiliki keahlian dalam mengelola sebuah bisnis, tapi dia bukan Raja Midas yang punya kemampuan mengubah apa pun menjadi emas dengan menyentuhnya. Itu artinya peluang untuk tidak berhasil dalam usaha apa pun memang selalu ada, demikian juga peluang untuk berhasil juga ada. Dalam "menyentuh" AirAsia Tony memang berhasil, namum di bidang lainnya seperti mengelola klub sepak bola Queens Park Rangers (QPR) dan di arena balap F1 dengan Lotus Racingnya, belum sepenuhnya bisa dikatakan berhasil. 

Yang terpenting adalah bukan semua yang kita "sentuh" bisa menjadi "emas", melainkan ada yang menjadi "emas" dari yang kita "sentuh". Belajar dari kisah sukses Tony Fernandez, untuk berhasil dalam bidang yang kita geluti – termasuk dalam berkarier – adalah melakukannya dengan sepenuh hati dan yakin bahwa apa yang kita usahakan itu akan berhasil. Lalu lakukan dengan konsisten walau pun harus bertemu dengan banyak kesulitan. Kalau pun harus berhenti, itu bukan karena menyerah, melainkan karena sudah berhasil dan ingin “menyentuh” bidang lainnya menjadi "emas". Satu hal lagi, sentuhlah apa pun yang Anda lakukan dengan Sentuhan Cinta! 

Sumber : www.suaramedia.com

Selasa, 23 Juli 2013

Budidaya Kakao Omzet Miliar

Kakao adalah komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman yang merupakan bahan baku cokelat ini dapat berbuah sepanjang tahun. Makanya, banyak petani kepincut membudidayakannya. Seorang pembudidaya kakao di Semarang meraup omzet Rp 2 miliar per bulan.

Kakao atau Theobroma cacao L., merupakan salah satu komoditas perkebunan yang cocok dengan kultur tanah dan iklim di Indonesia. Tanaman ini termasuk golongan tumbuhan tropis.Tanaman penghasil biji kakao ini berasal dari daerah hutan tropis di Amerika Selatan. Di habitat asalnya, kakao biasa tumbuh di bagian hutan hujan tropis yang terlindung di bawah pohon-pohon besar.

Di Indonesia, kakao banyak tumbuh di daerah Sulawesi, Lampung, dan Flores, Nusa Tenggara Timur. Maklum, di daerah tersebut banyak terdapat lahan tidur yang cocok ditanami kakao.

Apalagi, hasil komoditasnya yang bernilai ekonomi tinggi mendorong minat para petani di sana untuk membudidayakannya. Namun, tidaklah mudah membudidayakan tanaman ini. Persiapan naungan dan lahan merupakan dua hal penting yang perlu diperhatikan. Naungan itu bisa berupa tanaman pelindung, seperti lamtoro, gleresidae, dan albazia. Selebihnya, proses membudidayakan kakao tak terlalu rumit.

Adalah Bagus Soesintho, salah seorang petani yang sukses membudidayakan tanaman kakao. Di bawah bendera usaha PT Marga Okapallo di Semarang, Jawa Tengah, dia membudidayakan kakao di sejumlah daerah, seperti di Flores, NTT. Selain memiliki lahan budidaya sendiri, dia juga menerapkan pola inti plasma untuk bekerjasama dengan masyarakat sekitar. Bentuknya adalah kelompok mitra.

Dalam kemitraan tersebut, Bagus menyediakan modal, mulai dari bibit, pupuk hingga penyuluhan kepada masyarakat. Saat ini, petani kakao yang menjadi mitra binaannya tersebar di tiga kabupaten di Flores. Karena bentuknya inti plasma, maka hasil panen kakao petani dipasok ke Marga Okapallo. "Budidaya kakao bisa menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat setempat," ujar Bagus.

Dalam budidaya kakao, imbuhnya, maksimal lahan yang bisa ditanamani pohon sekitar 70% dari total luas lahan. Jarak tanamnya sekitar 1,1 meter. Dalam sepekan, Bagus bisa memanen sekitar 150 ton buah kakao, baik hasil panen dari kebun sendiri maupun dari mitra binaannya. Bagus membeli kakao dari mitranya dengan harga US$ 1,8-US$ 2,1 per kilogram (kg).

Selanjutnya dia akan memasarkan kembali buah kakao itu. Setiap pekan, dia menjual sedikitnya 125 ton buah kakao. Dengan harga jual Rp 20.000 per kg, dia meraih omzet hingga Rp 2, 5 miliar. "Uang itu diputar lagi untuk biaya penanaman kakao," ujarnya.

Bagus bilang, sebagian besar pembeli kakao adalah pedagang yang menjual kembali biji kakao dalam kemasan. Salah satunya Gafar, penyalur biji kakao di Kendari, Sulawesi Tenggara. "Pelanggan saya berasal dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya," ujar Gafar. Dicanangkannya Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional karena dipandang bahwa komoditi Kakao merupakan komoditi yang sangat penting karena hampir 90% dimiliki oleh petani (Perkebunan Rakyat) dari total areal sekitar 1,5 juta ha, selain juga akhir-akhir ini terjadi penurunan produksi di tingkat petani dikarenakan serangan hama, kurangnya pemeliharaan dan terlambatnya melakukan peremajaan, di samping itu kualitas kakao kita tergolong rendah. 

Negara-negara pengimpor kakao Indonesia menginginkan standarisasi dari kakao kita, diharapkan dengan gerakan ini produksi kakao kita dapat diperbaiki sehingga dapat menghasilkan biji kakao yang berkualitas baik. Tidak bias kita pungkiri bahwa kakao kita di pasar dunia digolongkan kelas II dikarenakan banyaknya kotoran yang terkandung di dalamnya. Akibat mutu rendah, potensi kerugian ekspor biji kakao Indonesia ke AS mencapai + US $ 301,5/ton. Untuk itu Kakao Organik sedang diincar oleh importir kakao.

Setelah tanaman berumur 1 bulan setelah tanam, semprotkan larutan Biotama 1 & Biotama 5 pada tanaman di pagi hari sebelum matahari terbit kalau di Indonesia sebelum jam 7 pagi atau sore hari kalau di Indonesia sekitar setelah jam 4 sore (saat matahari belum terbit ataupun matahari sudah terbenam) , waktu penyiraman setiap 2 minggu sekali secara rutin sampai tanaman berbunga. Tanaman disemprot 5 – 6 tangki @ 15 liter larutan Biotama.

Sumber : www.suaramedia.com

Sunarto Sukses Menjadi Petani Sawit

Memimpikan kehidupan yang lebih baik. Itulah yang membuat Sunarto (59) memboyong keluarganya ke Desa Buatan, Kabupaten Siak, Riau, dengan ikut program transmigrasi pada 1991. Sampai di sana dia bekerja sebagai petani kelapa sawit.

"Tiga tahun pertama adalah masa-masa sulit. Saya diupah Rp 1.500 per hari, dengan perhitungan kerja selama 20 hari maka sebulan saya hanya mendapatkan Rp 30.000. Setelah tiga tahun kerja saya mendapatkan kompensasi lahan kelapa sawit seluas 2 hektar dari pemerintah untuk saya kelola", kata Sunarto, Rabu (17/4/2013).

Lahan seluas dua hektar pun bukan diberikan gratis, karena Sunarto harus melunasi pinjaman sebesar Rp 9,7 juta. Setelah melunasi dalam waktu kurang lebih 5 tahun, Sunarto mulai merasakan manis jerih payahnya dari bertani Sawit.

Krisis moneter 1997 justru menjadi masa-masa indah bagi Sunarto dan puluhan petani sawit. Harga sawit melonjak di kisaran Rp 500-700. Dari situlah dia bisa membeli motor dan membangun rumah.

"Dari dua hektar lahan, saya bisa mendapatkan untung Rp 3 juta per bulannya. Sekarang saya memiliki sekitar 12 hektar lahan kelapa sawit, berati tiap bulannya saya dapat Rp 18 juta," kata Sunarto yang kini menjadi ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Bhirawa Bakti.

Sunarto merupakan salah satu petani kelapa sawit di kebun plasma yang dinaungi oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit Asian Agri. Tercatat ada 10.928 hektar kebun plasma kelapa sawit yang dikelola oleh 3.997 petani yang bernaung di 12 KUD.

Untuk tetap menjaga kualitas kelapa sawit petani kebun plasma dibina langsung oleh Asian Agri. Pasokan bibit dan pupuk disediakan. Lalu hasil panen dibeli oleh Asian Agri untuk diolah.

Pada 2005, seluruh KUD di Buatan telah mendapatkan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Untuk mendapatkan sertifikasi ini para petani mendapatkan penyuluhan mengenai standar bertani kelapa sawit yang ramah lingkungan.

"Kalau dulu kita sering membakar batang kering, sekarang dengan adanya RSPO kita tidak membakar lagi. Selain itu menjadi lebih tertib dalam berkebun mulai dari cara pemupukan, penggunaan alat keselamatan cara memanen, semua menggunakan standar RSPO," kata Sunarto.

Sertifikasi ini diakui para petani membuat produktivitas kelapa sawit mereka meningkat dan memudahkan mereka untuk menjual hasil kebunnya ke negara yang menerapkan RSPO sebagai salah satu syarat. 

Sumber : kompas.com

Label