Aswin Dana Ia adalah seorang mahasiswa dari Universitas Indonesia yang mengambil jurusan teknik Apoteker. Sebuah upaya banting stir ia lakukan dengan mencoba menekuni bidang diluar yang sedang ia tekuni di kampusnya. Ia mencoba terjun di bisnis kuliner. Ia berbisnis masakan aqiqah identik dengan sate dan gulai kambing.
Dan sejak kuliah juga Andi sudah niat ingin membuka usaha demi membantu biaya kuliahnya dan membiayai keluarganya dan tidak lama dia lulus dari Unipersitas indonesia dia bingung mau kerja apa usaha dan sdengan tekat yang kuat dengan pula modal pas-pasan dia memberanikan diri membuka usaha bisanis aqiqah walaupun bukan besic yg dia punya dia tekat kan dengan usaha kegigihan dan penuh percaya diri walaupun dia menghadapi beberapa kendala dari persaingan dan modal usaha yang harus dia gunakan kembali untuk modal tetapi dia harus memberikan separuh untuk keperluan keluarganya .
setelah dia pikir-pikir untuk mencari tambahan modal usahanya dia menjual tanah warisannya dia dan apa boleh pula dia juga malu sama tekatnya untuk menjadi sukses pada waktu yang dia tetapkan sebelumnya.
Walaupun ia sama sekali tidak bisa memasak namun karena kemauan kerasnya bahwa ia harus bisa sukses di bisnis kuliner waktu berjalan mengantarkan bisnisnya hingga beromzet ratusan juta rupiah per bulan. Kini masakannya sudah masuk ke Hotel Four Seasons dan tiga hotel bintang empat lainnya di Jakarta.
Selasa, 26 Februari 2013
Kiat Sukses Penjual Bunga Plastik
Awalnya dari cuma menggali hobi bakatnya didunia seni pahat Bpk sugi menciptakan karya barunya yaitu bunga plastik, adalah cuma dari keisengan dirinya saja untuk membuat hadiah pada anaknya tetapi hal yang tidak disangka bunga plastik ciptaan diya itu malah ada seorang tetangganya yang tertarik untuk minta dibuatkan untuk suvenir acara resepsi pernikahan.
Dari berbagai pembicaraan tersebut dan dalam waktu kurun 1tahun bpk sugi semakin banyak pesanan bunga plastik keberbagai acara dari acara pernikahan sampai ulang tahun tidak itu pula bpk sugi disaat pesanannya akan melonjak tetapi bpk Sugi dihadapi dengan kendala peralatan dan keuangan tetapi bpk sugi tidak menyerah begitu saja dia beranikan diri meminjam uang pada koprasi untuk menambah modal usahanya.
Tidak berhenti disitu saja bpk sugi telah memikirkannya akan mengembangkan bisnisnya lagi ketempat-tempat perkantoran dan komplek rumah-rumah elit dan dalam kurun waktu 5 tahun bpk sugi membuka toko dikawasan Tebet barat dan di Jl.Margonda.
Dengan dia membuat komonitas Sanggar Cempaka Seni Bunga Plastik semakin pesat juga pesanan yang ia dapatkan tidak hanya dari kalangan bawah tetapi dari kalangan hiburan Entertain dan omset bpk Sogi perhari bisa mencapai 6 juta.
dan kata ayah beranak 3 ini memaparkan bahwa kegigihan kerja keras serta kesungguh-sungguhan adalah jalan motivasi untuk merubah hidup yang lebih baik lagi.
Penjual Gado Gado yang Sukses
Perjuangan ibu dan anak untuk lepas dari masalah ekonomi yang melilit mereka ternyata bisa menjadi kekuatan yang sempurna. Bagaimana tidak? Bermodal kepiawaian sang bunda dalam mengolah makanan, dan putranya dalam mengatur manajemen, bisnis kelas rumahan itu pun ‘naik kelas’ menjadi bisnis ‘gedongan’.
Banyak orang ragu mengangkat gado-gado ke level bisnis yang lebih bergengsi, karena takut rugi. Tapi, lain halnya dengan Juliana Hartono (64 tahun) malah berani membangun restoran mewah untuk jualan gado-gado. Rupanya, bisnis itu sukses hingga beranak pinak menjadi 10 restoran gado-gado dengan nilai aset miliaran rupiah.
Kisah perjuangan Juliana Hartono (Pendiri Gado-Gado Boplo) dan putra sulungnya, Calvin Hartono dalam mengembangkan usaha Gado-Gado Boplo sungguh luar biasa. Berawal dari sebuah gang sempit di Jalan Kebon Sirih, bisnis makanan itu kini berkembang pesat menjadi sebuah restoran gado-gado yang telah dikenal masyarakat luas, bahkan menjadi favorit para pejabat dan selebritis. Citra masakan gado-gado sebagai makanan tradisional berhasil diangkat sebagai makanan yang berkelas.
“Awalnya dimulai di tahun 1970, mami mulai berjualan gado-gado di halaman rumah kami di sebuah gang sempit di Kebon Sirih. Jadi kami hanya melayani tetangga sekitar rumah, dengan harga jual Rp 25,- per porsi” ujarnya. “ Mami harus bekerja keras mencari nafkah, karena Papa saya sudah meninggalkan kami. Dan karena mami sangat hobi memasak, akhirnya beliau memutuskan untuk berjualan makanan” tutur Calvin. Menu gado-gado dipilih karena cara penyajiannya yang dinilai cukup mudah ketika itu.
Kelihaian sang ibu mengolah bumbu gado-gado ternyata mendapat respon positif dari tetangga sekitar, sehingga halaman rumahnya selalu ramai dipenuhi para pembeli. Hingga pada tahun 1980, mereka memindah lokasi berjualan di garasi rumah milik seorang kerabat di jalan raya Wahid Hasyim, tepatnya di seberang Apotik Boplo.
Di sekitar daerah tersebut juga terdapat sebuah pasar tradisional, yang terkenal dengan nama Pasar Boplo. Dari situlah akhirnya nama Boplo dipakai sebagai brand restoran gado-gado mereka, saat ini nama Gado-Gado Boplo telah dipatenkan. “Saya salut dengan mami, walaupun hanya sampai tingkat 3 SD, namun telah berpikiran maju dengan memikirkan masalah merk. Hingga akhirnya disepakati memakai nama Gado-Gado Boplo” terang Calvin.
Pada tahun 2004, mereka mendapat tawaran untuk mengakuisisi sebuah restoran yang hampir mati di Jalan Barito, Jaksel. Dan dari situlah Gado-Gado Boplo bertransformasi menjadi sebuah restoran modern, dengan tempat dan fasilitas yang nyaman, namun tetap mengandalkan menu utama makanan tradisional, gado-gado.
Selaku pengelola restoran, Calvin merasa optimis dengan bisnis itu. Bagi dirinya, makanan tradisional khas Betawi ini, memiliki prospek besar bila dipasarkan di level yang lebih tinggi. “Sebenarnya makanan itu disukai semua orang. Yang membuatnya identik dengan kalangan menengah ke bawah, akibat kondisinya saja. Selama ini, orang yang ingin membeli gado-gado harus sambil berdesak-desakan, berpanas-panasan, dan sambil bercucuran keringat. Itulah sebabnya mereka (kalangan menegah ke atas. Red) malas membeli gado-gado, karena tidak terbiasa dengan suasana itu,” tutur Calvin.
Ketika diminta untuk memberikan kiat–kiat sukses bagi para calon entrepreneur, dengan mantap Calvin menjawab “ Konsistensi! Anda harus terus konsisten dengan usaha anda, kerjakan dengan penuh gairah. Dan buat teamwork yang solid. Kita di Boplo semuanya kerja tim, kita tidak bisa One Man Show. Kita seperti satu tubuh dengan banyak anggota tubuh yang saling melengkapi dengan fungsinya masing-masing “ jelasnya. “Lalu mulailah merintis dari yang kecil. Jangan mengharapkan sesuatu yang instan dan maunya langsung besar. Justru proses itu yang akan mendewasakan kita dan membuat kita kuat sehingga kita tidak mudah dijatuhkan, jadi jangan menghindari yang namanya proses.”
Sumber : wordpress.com
Kiat Sukses Seorang tukang Sapu Jalanan
Pernah menjadi kuli dan tukang sapu, Tri Sumono kini pengusaha sukses dengan omzet ratusan juta. Ia mengawali langkahnya di dunia usaha dengan menjadi pedagang aksesori kaki lima. Ulet dan tekun membuat usahanya terus berkembang.
Pepatah lama yang menyatakan "hidup seperti roda berputar" tampaknya berlaku bagi Tri Sumono. Berawal dari menjadi kuli bangunan hingga tukang sapu, kini Tri sukses menjadi pengusaha beromzet ratusan juta rupiah per bulan.
Lewat perusahaan CV 3 Jaya, Tri Sumono mengelola banyak cabang usaha bisnisnya antara lain, produksi kopi jahe sachet merek Hootri, toko sembako, peternakan burung, serta pertanian padi dan jahe. Bisnis lainnya, penyediaan jasa pengadaan alat tulis kantor (ATK) ke berbagai perusahaan, serta menjadi franchise produk Ice Cream Campina. "Saya juga aktif jual beli properti," katanya.
Dari berbagai lini usahanya itu, ia bisa meraup omzet hingga Rp 500 juta per bulan. Pria kelahiran Gunung Kidul, 7 Mei 1973, ini mengaku tak pernah berpikir hidupnya bakal enak seperti sekarang.
Terlebih ketika ia mengenang masa-masa awal kedatangannya ke Jakarta. Mulai merantau ke Jakarta pada 1993, pria yang hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA) ini sama sekali tidak memiliki keahlian.
Ia nekat mengadu nasib ke Ibu Kota dengan hanya membawa tas berisi kaus dan ijazah SMA. Untuk bertahan hidup di Jakarta, ia pun tidak memilih-milih pekerjaan.
Bahkan, pertama bekerja di Jakarta, Tri menjadi buruh bangunan di Ciledug, Jakarta Selatan. Namun, pekerjaan kasar itu tak lama dijalaninya. Tak lama menjadi kuli bangunan, Tri mendapat tawaran menjadi tukang sapu di kantor Kompas Gramedia di Palmerah, Jakarta Barat.
Tanpa pikir panjang, tawaran itu langsung diambilnya. "Pekerjaan sebagai tukang sapu lebih mudah ketimbang jadi buruh bangunan," jelasnya.
Lantaran kinerjanya memuaskan, kariernya pun naik dari tukang sapu menjadi office boy. Dari situ, kariernya kembali menanjak menjadi tenaga pemasar dan juga penanggung jawab gudang.
Pada tahun 1995, ia mencoba mencari tambahan pendapatan dengan berjualan aksesori di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Saat itu, Tri sudah berkeluarga dengan dua orang anak. Selama empat tahun Tri Sumono berjualan produk-produk aksesori, seperti jepit rambut, kalung, dan gelang di Jakarta. Berbekal pengalaman dagang itu, tekadnya untuk terjun ke dunia bisnis semakin kuat. "Saya dagang aksesori seperti jepit rambut, kalung, dan gelang dengan modal Rp 100.000," jelasnya.
Setiap Sabtu-Minggu, Tri rutin menggelar lapak di Stadion Gelora Bung Karno. Dua tahun berjualan, modal dagangannya mulai terkumpul lumayan banyak.
Dari sanalah ia kemudian berpikir bahwa berdagang ternyata lebih menjanjikan ketimbang menjadi karyawan dengan gaji pas-pasan. Makanya, pada tahun 1997, ia memutuskan mundur dari pekerjaannya dan fokus untuk berjualan.
Berbekal uang hasil jualan selama dua tahun di Gelora Bung Karno, Tri berhasil membeli sebuah kios di Mal Graha Cijantung. "Setelah pindah ke Cijantung, bisnis aksesori ini meningkat tajam," ujarnya.
Tahun 1999, ada seseorang yang menawar kios beserta usahanya dengan harga mahal. Mendapat tawaran menarik, Tri kemudian menjual kiosnya itu. Dari hasil penjualan kios ditambah tabungan selama ia berdagang, ia kemudian membeli sebuah rumah di Pondok Ungu, Bekasi Utara. Di tempat baru inilah, perjalanan bisnis Tri dimulai.
Pengalaman berjualan aksesori sangat berbekas bagi Tri Sumono. Ia pun merintis usaha toko sembako dan kontrakan. Sejak itu, naluri bisnisnya semakin kuat.
Saat itu, ia langsung membidik usaha toko sembako. Ia melihat, peluang bisnis ini lumayan menjanjikan karena, ke depan, daerah tempatnya bermukim itu bakal berkembang dan ramai. "Tapi tahun 1999, waktu saya buka toko sembako itu masih sepi," ujarnya.
Namun, Tri tak kehabisan akal. Supaya kawasan tempatnya tinggal kian ramai, ia kemudian membangun sebanyak 10 rumah kontrakan dengan harga miring. Rumah kontrakan ini diperuntukkan bagi pedagang keliling, seperti penjual bakso, siomai, dan gorengan.
Selain mendapat pemasukan baru dari usaha kontrakan, para pedagang itu juga menjadi pelanggan tetap toko sembakonya. "Cara itu ampuh dan banyak warga di luar Pondok Ungu mulai mengenal toko kami," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, naluri bisnisnya semakin kuat. Tahun 2006, Tri melihat peluang bisnis sari kelapa. Tertarik dengan peluang itu, ia memutuskan untuk mendalami proses pembuatan sari kelapa. Dari informasi yang didapatnya diketahui bahwa sari kelapa merupakan hasil fermentasi air kelapa oleh bakteri Acetobacter xylium.
Untuk keperluan produksi sari kelapa ini, ia membeli bakteri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor. "Tahap awal saya membuat 200 nampan sari kelapa," ujarnya.
Sari kelapa buatannya itu dipasarkan ke sejumlah perusahaan minuman. Beberapa perusahaan mau menampung sari kelapanya. Tetapi, itu tidak lama. Lantaran kualitas sari kelapa produksinya menurun, beberapa perusahaan tidak mau lagi membeli. Ia pun berhenti memproduksi dan memutuskan untuk belajar lagi.
Untuk meningkatkan kualitas sari kelapa, ia mencoba berguru ke seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB). Mulanya, dosen itu enggan mengajarinya karena menilai Tri bakal kesulitan memahami bahasa ilmiah dalam pembuatan sari kelapa. "Tanpa sekolah, kamu sulit menjadi produsen sari kelapa," kata Tri menirukan ucapan dosen kala itu.
Namun, melihat keseriusan Tri, akhirnya sang dosen pun luluh dan mau memberikan les privat setiap hari Sabtu dan Minggu selama dua bulan. Setelah melalui serangkaian uji coba dengan hasil yang bagus, Tri pun melanjutkan kembali produksi sari kelapanya.
Saat itu, ia langsung memproduksi 10.000 nampan atau senilai Rp 70 juta. Hasilnya lumayan memuaskan. Beberapa perusahaan bersedia menyerap produk sari kelapanya. Sejak itu, perjalanan bisnisnya terus berkembang dan maju.
Saat itu, ia langsung membidik usaha toko sembako. Ia melihat, peluang bisnis ini lumayan menjanjikan karena, ke depan, daerah tempatnya bermukim itu bakal berkembang dan ramai. "Tapi tahun 1999, waktu saya buka toko sembako itu masih sepi," ujarnya.
Namun, Tri tak kehabisan akal. Supaya kawasan tempatnya tinggal kian ramai, ia kemudian membangun sebanyak 10 rumah kontrakan dengan harga miring. Rumah kontrakan ini diperuntukkan bagi pedagang keliling, seperti penjual bakso, siomai, dan gorengan.
Selain mendapat pemasukan baru dari usaha kontrakan, para pedagang itu juga menjadi pelanggan tetap toko sembakonya. "Cara itu ampuh dan banyak warga di luar Pondok Ungu mulai mengenal toko kami," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, naluri bisnisnya semakin kuat. Tahun 2006, Tri melihat peluang bisnis sari kelapa. Tertarik dengan peluang itu, ia memutuskan untuk mendalami proses pembuatan sari kelapa. Dari informasi yang didapatnya diketahui bahwa sari kelapa merupakan hasil fermentasi air kelapa oleh bakteri Acetobacter xylium.
Untuk keperluan produksi sari kelapa ini, ia membeli bakteri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor. "Tahap awal saya membuat 200 nampan sari kelapa," ujarnya.
Sari kelapa buatannya itu dipasarkan ke sejumlah perusahaan minuman. Beberapa perusahaan mau menampung sari kelapanya. Tetapi, itu tidak lama. Lantaran kualitas sari kelapa produksinya menurun, beberapa perusahaan tidak mau lagi membeli. Ia pun berhenti memproduksi dan memutuskan untuk belajar lagi.
Untuk meningkatkan kualitas sari kelapa, ia mencoba berguru ke seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB). Mulanya, dosen itu enggan mengajarinya karena menilai Tri bakal kesulitan memahami bahasa ilmiah dalam pembuatan sari kelapa. "Tanpa sekolah, kamu sulit menjadi produsen sari kelapa," kata Tri menirukan ucapan dosen kala itu.
Namun, melihat keseriusan Tri, akhirnya sang dosen pun luluh dan mau memberikan les privat setiap hari Sabtu dan Minggu selama dua bulan. Setelah melalui serangkaian uji coba dengan hasil yang bagus, Tri pun melanjutkan kembali produksi sari kelapanya.
Saat itu, ia langsung memproduksi 10.000 nampan atau senilai Rp 70 juta. Hasilnya lumayan memuaskan. Beberapa perusahaan bersedia menyerap produk sari kelapanya. Sejak itu, perjalanan bisnisnya terus berkembang dan maju.
sumber : kompas.com
Kisah Pedagang Kaki Lima Menjadi JUTAWAN
Hampir 5 thn aku berprofesi sebagai pedagang kaki lima yang sehari-hari berjualan di trotoar depan sebuah bank di kota Purwokerto. Aku dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu, sehingga dari kecil aku terbiasa hidup prihatin. Ini yang membuat aku bertahan walaupun penghasilanku hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Tetapi semakin lama aku semakin sadar bahwa hidup bukan hanya untuk makan. Kita harus lebih menyiapkan atau merencanakan masa depan. Aku sadar bahwa selama ini aku berangkat pagi pulang malam hampir 5 thn tidak bisa merubah walau sedikit kehidupanku. Dengan kata lain aku hanya berjalan di tempat!
Alhamdulillah akhirnya aku menemukan sebuah usaha yang dalam waktu singkat bisa merubah kehidupanku secara drastis. Sebuah usaha yang sangat mudah dipahami dan dijalankan oleh siapapun walau tidak punya pengalaman bisnis sekalipun. Sebuah usaha dimana kita akan mempunyai Aset . Pola pikirku berubah. Selama ini kita berpikir bahwa mendapatkan uang/penghasilan itu dengan bekerja menukarkan waktu dan tenaga kita. Tetapi dengan mamiliki aset kita bisa memiliki aliran penghasilan yang akan terus mengalir ke kantong kita 24 jam tanpa kita harus bekerja, bahkan saat kita sedang tidur.
Aku menjalankan sebuah usaha yg dikenalkan oleh seorang teman lama. Sebuah konsep usaha untuk membangun Aset dengan modal yang sangat kecil. Walaupun diawali dengan ketidak pahaman tapi semangat untuk belajar dan mencoba, meski harus menghadapi tantangan diawal memulai usaha ini, telah membuat aku berhasil membangun Aset yg kini mengalirkan penghasilan pasif ke kantong pribadiku. Aku jalankan usaha bisnis waralaba pribadi bersama PT. DUTA FUTURE INTERNATIONAL , sebuah perusahaan keagenan pulsa yang diwaralabakan, dan menjakankan dengan diarahkan oleh sebuah support system DUTA BUSSINESS SCHOOL.
Alhamdulillah aku berhasil menjadi seorang pengusaha pulsa elektronuk dengan hasil yang sangat lumayan.. 3 bulan aku jalankan Asetku sudah jadi, dan kini aku mendapatkan aliran penghasilan rata-rata Rp 1jt/hari! Sebuah angka yang cukup besar dan sulit kita menemukan peluang usaha seperti ini di masa sulit seperti sekarang. Alhamdulillah dengan konsep usaha ini aku juga berhasil menghantarkan teman-temanku yang lain dari latar belakang berbeda-beda memperoleh hasil jutaan rupiah. Dalam waktu 3,5 bulan aku berhasil membeli sebuah mobil estilo karimun dari usaha ini, dan luar biasa aku jg telah menghantarkan 3 orang mitra usahaku untuk membeli mobil juga kurang dari 4 bulan bergabung.
Sumber : blogspot.com
Perjalanan Sukses Pedagang Kaki Lima yang Jadi Juragan Tas
Sudah banyak cerita pedagang kaki lima yang kemudian menjadi pengusaha sukses. Salah satunya adalah Muhammad Adi, pemilik CV Intascus Sport, produsen tas yang cukup besar.
Bisa dibilang, Adi merintis usahanya ini benar-benar dari bawah. Pria tamatan sebuah SMA di Surabaya ini sudah kenyang makan asam garam sebagai pekerja rendahan.
Mulanya, selulus SMA pada 1981, Adi mencoba mengadu nasib merantau ke Sulawesi dengan menjadi buruh di sebuah toko agen barang pecah belah. Adi terpaksa merantau karena harus membantu membiayai sekolah adik-adiknya.
Namun, ia tidak lama bekerja di toko itu. Adi pun kemudian meloncat ke Kalimantan untuk bekerja sebagai buruh kasar di PT Newmont. Namun, lagi-lagi, Adi tak betah dan memutuskan pulang ke Surabaya.
Ternyata pulang ke rumah malah membuatnya gelisah, apalagi kalau melihat adik-adiknya yang membutuhkan bantuannya. Karena itu, pada 1982, Adi nekat ke Jakarta. Di ibu kota negara ini, Adi tinggal di kawasan Senayan berkat kebaikan sesama perantau asal Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Mereka bekerja sebagai pelayan dan buruh,” ujar pria kelahiran Surabaya, 12 April 1962 ini.
Untuk menyambung hidup, Adi bekerja serabutan. Pagi hingga siang hari ia menjadi penjual tas keliling dari kantor ke kantor. Malam harinya Adi menjadi juru parkir di Senayan.
Meski penghasilannya kecil, dengan sekuat tenaga Adi berusaha menyisihkan penghasilannya untuk modal berbisnis. “Modal pertama saya hanya Rp 50.000,” kenang Adi.
Dengan uang segitu, Adi kulakan tas di Pasar Pagi untuk dijual kembali. Beruntung, dagangannya selalu habis terjual. “Hasil jualan saya putar lagi,” kata bapak tiga anak ini.
Sayang, jiwa muda Adi yang masih bergelora membuatnya tergoda untuk berfoya-foya. Namun, setelah menikah pada 1985, Adi mulai berpikir serius menjadi pengusaha tas sendiri. Ketika itu, modalnya pun pas-pasan. “Saya terpaksa menjual perhiasan istri untuk modal awal,” kata Adi. Lagi-lagi dengan uang Rp 50.000 Adi memulai usahanya.
Lantaran tak punya mesin jahit, Adi terpaksa meminjam milik temannya. Sedikit keahlian menjahit ia manfaatkan sebaik-baiknya.
Setelah enam bulan berjalan, usahanya mulai menampakkan hasil. Adi pun memberanikan diri menggaji seorang karyawan untuk meningkatkan produksi. Dengan satu karyawan itu, Adi mampu menghasilkan 150 tas per tahun seharga Rp 20.000 per tas. Dari harga segitu, Adi mengambil laba Rp 12.000 per tas. Maklum, modal membuat satu tas hanya Rp 8.000.
Sejak saat itu, setiap enam bulan sekali Adi menambah seorang karyawan. Untuk pemasaran, Adi memanfaatkan jaringan yang telah ia rintis saat masih berdagang tas keliling.
Pada 1987, Adi mulai menjalin kerja sama dengan panitia penyelenggara rapat atau pelatihan di hotel-hotel. “Pada 1987 saya sudah memiliki tenaga pemasaran 18 orang,” tutur Adi.
Omzetnya pun telah melonjak hingga Rp 3 juta per hari, jumlah rupiah yang sangat besar kala itu. Sementara itu, total produksi mencapai 600 unit per hari. Laiknya roda kehidupan, posisi Adi tak selalu di atas. “Saya pernah kekurangan modal untuk menyelesaikan pesanan sampai harus menjual kendaraan operasional,” tutur Adi.
Masa yang paling suram bagi Adi adalah saat pecah kerusuhan pada Mei 1998. Saat itu, para karyawannya ketakutan dan memilih pulang kampung. Sialnya, barang dagangan juga ikut mereka bawa hingga tak ada yang tersisa. “Saya rugi ratusan juta,” kenang dia.
Toh, semangat Adi tidak pernah surut. Berbekal pinjaman bank, Adi mencoba bangkit. Beruntung, pada 1999 bisnis tas kantor kembali naik daun. Adi pun kembali menggenjot produksi dan mampu mencetak omzet Rp 50 juta per bulan.
Sekarang, dalam sebulan paling sedikit Adi memproduksi lebih dari 1.000 tas. “Omzetnya sekitar Rp 100 juta, dengan margin laba 20 persen sampai 40 persen,” ungkap Adi. Kini, ia punya klien tetap dari instansi pemerintah, seperti Departemen Perhubungan dan Kepolisian Republik Indonesia.
Selain tas kantor, Adi juga memproduksi jenis tas lain, seperti tas perempuan. “Ini hasil belajar otodidak,” ujar dia.
Bagi rezeki
Sudah menjadi kodrat, setiap orang membutuhkan orang lain. Begitu juga dalam bisnis. Karena itu, untuk memenuhi banyaknya pesanan tas, Muhammad Adi tak segan-segan membagi order ke konveksi lain. Adi mengatakan, kadang-kadang jumlah pesanan tas memang tak bisa ia tangani sendiri. Alhasil, daripada order lepas, ia membagi lagi (subkontrak) pesanan kepada konveksi lain. “Hitung-hitung berbagi rezeki dengan orang lainlah,” ujar Adi.
Untuk pola dalam bisnis kerja sama ini, Adi memilih menggunakan sistem bagi hasil yang ia nilai lebih adil. Artinya, keuntungan yang ia peroleh dari penjualan tas akan ia bagi ke pengusaha lain sesuai dengan porsi yang mereka kerjakan.
Soal pesanan, Adi tak terlalu khawatir. Pasalnya, ia sudah memiliki pelanggan tetap, yaitu Kepolisian Republik Indonesia dan Departemen Perhubungan.
Misalnya, Polri biasanya memesan tas kantor dua kali dalam setahun. Satu kali pesanan sebanyak 8.000 unit dengan tenggat waktu pengerjaan selama empat bulan. “Pesanan rutin ini baru empat tahun belakangan ini,” imbuh Adi.
Di luar pesanan Polri, Adi biasanya menerima pesanan tas belanja dari biro perjalanan. “Jumlahnya memang tidak sebanyak pesanan Polri. Rata-rata 500 unit
sumber : pengusaha-sukses.blogspot.com
Bisa dibilang, Adi merintis usahanya ini benar-benar dari bawah. Pria tamatan sebuah SMA di Surabaya ini sudah kenyang makan asam garam sebagai pekerja rendahan.
Mulanya, selulus SMA pada 1981, Adi mencoba mengadu nasib merantau ke Sulawesi dengan menjadi buruh di sebuah toko agen barang pecah belah. Adi terpaksa merantau karena harus membantu membiayai sekolah adik-adiknya.
Namun, ia tidak lama bekerja di toko itu. Adi pun kemudian meloncat ke Kalimantan untuk bekerja sebagai buruh kasar di PT Newmont. Namun, lagi-lagi, Adi tak betah dan memutuskan pulang ke Surabaya.
Ternyata pulang ke rumah malah membuatnya gelisah, apalagi kalau melihat adik-adiknya yang membutuhkan bantuannya. Karena itu, pada 1982, Adi nekat ke Jakarta. Di ibu kota negara ini, Adi tinggal di kawasan Senayan berkat kebaikan sesama perantau asal Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Mereka bekerja sebagai pelayan dan buruh,” ujar pria kelahiran Surabaya, 12 April 1962 ini.
Untuk menyambung hidup, Adi bekerja serabutan. Pagi hingga siang hari ia menjadi penjual tas keliling dari kantor ke kantor. Malam harinya Adi menjadi juru parkir di Senayan.
Meski penghasilannya kecil, dengan sekuat tenaga Adi berusaha menyisihkan penghasilannya untuk modal berbisnis. “Modal pertama saya hanya Rp 50.000,” kenang Adi.
Dengan uang segitu, Adi kulakan tas di Pasar Pagi untuk dijual kembali. Beruntung, dagangannya selalu habis terjual. “Hasil jualan saya putar lagi,” kata bapak tiga anak ini.
Sayang, jiwa muda Adi yang masih bergelora membuatnya tergoda untuk berfoya-foya. Namun, setelah menikah pada 1985, Adi mulai berpikir serius menjadi pengusaha tas sendiri. Ketika itu, modalnya pun pas-pasan. “Saya terpaksa menjual perhiasan istri untuk modal awal,” kata Adi. Lagi-lagi dengan uang Rp 50.000 Adi memulai usahanya.
Lantaran tak punya mesin jahit, Adi terpaksa meminjam milik temannya. Sedikit keahlian menjahit ia manfaatkan sebaik-baiknya.
Setelah enam bulan berjalan, usahanya mulai menampakkan hasil. Adi pun memberanikan diri menggaji seorang karyawan untuk meningkatkan produksi. Dengan satu karyawan itu, Adi mampu menghasilkan 150 tas per tahun seharga Rp 20.000 per tas. Dari harga segitu, Adi mengambil laba Rp 12.000 per tas. Maklum, modal membuat satu tas hanya Rp 8.000.
Sejak saat itu, setiap enam bulan sekali Adi menambah seorang karyawan. Untuk pemasaran, Adi memanfaatkan jaringan yang telah ia rintis saat masih berdagang tas keliling.
Pada 1987, Adi mulai menjalin kerja sama dengan panitia penyelenggara rapat atau pelatihan di hotel-hotel. “Pada 1987 saya sudah memiliki tenaga pemasaran 18 orang,” tutur Adi.
Omzetnya pun telah melonjak hingga Rp 3 juta per hari, jumlah rupiah yang sangat besar kala itu. Sementara itu, total produksi mencapai 600 unit per hari. Laiknya roda kehidupan, posisi Adi tak selalu di atas. “Saya pernah kekurangan modal untuk menyelesaikan pesanan sampai harus menjual kendaraan operasional,” tutur Adi.
Masa yang paling suram bagi Adi adalah saat pecah kerusuhan pada Mei 1998. Saat itu, para karyawannya ketakutan dan memilih pulang kampung. Sialnya, barang dagangan juga ikut mereka bawa hingga tak ada yang tersisa. “Saya rugi ratusan juta,” kenang dia.
Toh, semangat Adi tidak pernah surut. Berbekal pinjaman bank, Adi mencoba bangkit. Beruntung, pada 1999 bisnis tas kantor kembali naik daun. Adi pun kembali menggenjot produksi dan mampu mencetak omzet Rp 50 juta per bulan.
Sekarang, dalam sebulan paling sedikit Adi memproduksi lebih dari 1.000 tas. “Omzetnya sekitar Rp 100 juta, dengan margin laba 20 persen sampai 40 persen,” ungkap Adi. Kini, ia punya klien tetap dari instansi pemerintah, seperti Departemen Perhubungan dan Kepolisian Republik Indonesia.
Selain tas kantor, Adi juga memproduksi jenis tas lain, seperti tas perempuan. “Ini hasil belajar otodidak,” ujar dia.
Bagi rezeki
Sudah menjadi kodrat, setiap orang membutuhkan orang lain. Begitu juga dalam bisnis. Karena itu, untuk memenuhi banyaknya pesanan tas, Muhammad Adi tak segan-segan membagi order ke konveksi lain. Adi mengatakan, kadang-kadang jumlah pesanan tas memang tak bisa ia tangani sendiri. Alhasil, daripada order lepas, ia membagi lagi (subkontrak) pesanan kepada konveksi lain. “Hitung-hitung berbagi rezeki dengan orang lainlah,” ujar Adi.
Untuk pola dalam bisnis kerja sama ini, Adi memilih menggunakan sistem bagi hasil yang ia nilai lebih adil. Artinya, keuntungan yang ia peroleh dari penjualan tas akan ia bagi ke pengusaha lain sesuai dengan porsi yang mereka kerjakan.
Soal pesanan, Adi tak terlalu khawatir. Pasalnya, ia sudah memiliki pelanggan tetap, yaitu Kepolisian Republik Indonesia dan Departemen Perhubungan.
Misalnya, Polri biasanya memesan tas kantor dua kali dalam setahun. Satu kali pesanan sebanyak 8.000 unit dengan tenggat waktu pengerjaan selama empat bulan. “Pesanan rutin ini baru empat tahun belakangan ini,” imbuh Adi.
Di luar pesanan Polri, Adi biasanya menerima pesanan tas belanja dari biro perjalanan. “Jumlahnya memang tidak sebanyak pesanan Polri. Rata-rata 500 unit
sumber : pengusaha-sukses.blogspot.com
Pedagang Kelontong Yang Sukses Berbisnis Mebel
Jika bukan karena orang tuanya, Farry Tandean tidak mungkin bekerja sebagai pengusaha mebel dan interior. Selain membuat mebel dengan desain inovatif, ia juga berbisnis ubin dan panel dekoratif berbahan limbah batok kelapa.
Di saat bisnis mebel ekspor melesu seperti sekarang, sebagian orang bakal menganggap industri ini sedang tiarap. Padahal, jangan salah, sebagian kecil eksportir tetap bertahan. Salah satunya adalah Farry Tandean. Pemilik PT Jati Vision Raya (Java) dan Cocomosaic Indonesia ini tetap bertahan dan mengekspor produk mebel dengan desain inovatif ke berbagai negara.
Sejak memulai bisnis mebel 16 tahun silam, Farry memang berorientasi mengekspor produk ke luar negeri. Ia merupakan salah satu dari sedikit produsen mebel asal Cirebon yang sejak puluhan tahun silam aktif menjaring pembeli (buyer) luar negeri lewat pelbagai pameran. Saat ini banyak pembelinya berasal beberapa negara di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Ia juga punya perwakilan penjualan di puluhan negara.
Tiap tahun, pendapatan Farry dari ekspor produk mebel bisa mencapai US$ 5 juta–US$ 7,5 juta. Salah satu keunggulan bisnis Java adalah memberi nilai lebih pada produk mebel dengan kualitas dan inovasi desain. Baru-baru ini, produk Cocomosaic berhasil masuk dalam lima besar Gaia Award 2011 di Dubai. Penghargaan ini diberikan bagi produk inovatif di bidang konstruksi dan bangunan yang ramah lingkungan.
Lahir dari keluarga pedagang kelontong di Cirebon, sejak kecil 45 tahun silam, orang tua Farry biasa menerapkan disiplin dalam penggunaan keuangan. Impian orang tuanya adalah anak-anaknya sekolah di luar negeri. “Saya rela tidak dibelikan mobil demi bisa bersekolah di Amerika,” ungkap anak keenam dari tujuh bersaudara ini.
Alhasil, setelah menyelesaikan SD dan SMP di Cirebon, saat kelas III SMA, Farry dikirim orang tuanya ke Kanada untuk persiapan kuliah di Amerika Serikat. Pada tahun 1990, Farry menamatkan pendidikan di University of Minessota, dengan menyabet dua gelar master di bidang electrical engineering dan computer science. Semuanya diselesaikan dengan predikat magna cum laude.
Setelah kuliah, Farry ikut program management trainee di General Electric sebagai accelerated candidate untuk fast track Information Systems Management Program (ISMP). Meski bergaji US$ 35.000 per tahun, ia merasa ada yang kurang. “Mungkin karena orang tua saya pedagang, ada yang kurang jika saya hanya menjadi karyawan,” katanya.
Pada tahun 1993, Farry memutuskan pulang ke Cirebon atas permintaan orang tuanya. Sebagai anak lelaki pertama di keluarga, ia merasa punya tanggung jawab besar merawat orang tuanya yang sudah tua. “Kakak-kakak perempuan saya ikut suami ke luar negeri, sementara saya dan adik lelaki saya di Cirebon,” katanya.
Usaha pertama Farry adalah meneruskan toko kelontong orang tuanya. Tiap bulan, ia hanya mendapat uang jajan sebesar Rp 500.000. Ia juga ikut membantu mengelola pemasar-an bisnis adiknya, Wika Tandean. “Adik saya menjual rotan mentah ke perusahaan mebel di Cirebon,” katanya.
Masuk ke bagian pemasaran membuat Farry mengenal banyak buyer rotan dan mebel dari luar negeri. Suatu saat, ia mendapat tawaran dari seorang buyer dari Jepang untuk memasok keperluan mebel ke Jepang. Alhasil, dengan modal Rp 300 juta dari orang tua, pada tahun 1993, ia mendirikan perusahaan patungan yang khusus menggarap pasar mebel untuk diekspor ke Jepang.
Kurang lebih satu setengah tahun berkongsi, Farry memilih mandiri dengan membuat perusahaan sejenis untuk menggarap pasar di luar Jepang. Tahun 1995, ia mendirikan Java. Saat pengusaha rotan dan mebel masih bergantung pada buyer yang datang, ia sudah aktif menawarkan produk lewat pameran. “Sampai-sampai kegiatan produksi dan kualitas kami kadang terbengkalai,” katanya.
Berkah krismon
Lantaran Farry menerapkan standar kualitas produk Eropa dan Amerika, para buyer langsung tertarik menjadi pelanggan. Pada tahun 1998, bisnisnya semakin besar. Saat terjadi devaluasi parah, sebagai eksportir ia malah pesta pora. “Saya bisa mendapatkan untung Rp 100 juta dengan hanya mengirimkan 1.000 keranjang kecil seharga US$ 12 per unit,” ujarnya. Saat itu, biaya produksinya hanya Rp 15.000, tapi kurs Rp 10.000–Rp 12.000 per dolar.
Tahun itu juga, Farry memindahkan usaha di lokasi seluas 50.000 meter persegi. Kini, di atas lokasi itu sudah berdiri tiga pabrik dan tiga ruang pamer. Perusahaan ini punya tiga divisi: Java, Bali luz (lampu dekoratif), dan Valentti Lifestyle.
Untuk memperluas pasar, tahun 2010, Farry mendirikan Cocomosaic yang mengolah limbah batok kelapa menjadi material dekoratif nan eksotis untuk keperluan arsitektur dan desain interior. Pasarnya ada di puluhan negara.
Farry mendapat pasokan batok kelapa dari masyarakat. Ia berharap, dalam tiga tahun, Cocomosaic bisa menambah nilai ekspor Java mencapai lebih dari Rp 30 miliar.
Sumber : jpmi.or.id
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
- 9 jenis melati
- 9 tanaman berkhasiat
- abnormal
- about soccer field
- abutilon ranadei
- acarisida
- aceh
- Ada
- adas
- Agave
- air mata ibu
- akar
- alami
- amaryllis orange
- anakan
- ananas
- andong
- aneka warna bunga
- anggrek bulan
- anggrek tanah
- anggur brazil
- anthurium bunga
- antikoagulan
- antorium
- aralia
- arandinaria japonica
- aren
- ariza brownea benth
- arsitektur
- as
- asri
- azadirachta indica
- azadirachtin
- bahan
- bakung
- bakung bunga orange
- bamboo
- bamboo humus
- bambu
- bambu betung
- bambu emeral
- bambu jepang
- bambu kuning
- bambu kuning cina
- bambu telisik kuning
- bambusoideae
- banyumelek
- barringtonia asiatica
- baru
- batik
- batu alam tabur
- belajar ilmu komputer
- belang
- benda feng shui
- benefit
- benzena
- beranda
- berdaun
- berduri
- beringin putih
- berkembang
- berkhasiat
- berkualitas
- bermanfaat
- biak
- bibit
- bibit aneka buah
- bibit buah nangka
- bibit kayu putih
- bibit rumput
- bibit tanaman buah
- biji
- biji rumput golf
- biopestisda
- biopestisida
- birds eye kalantas
- bisbul
- bismakia
- bisnis online
- bitung tumbak
- blessed thistle
- Blogger
- blooming
- bonsai
- border
- borongan
- bougenville
- bromelyad varigatha
- brucea javanica
- brush cut
- buah
- buah nanas
- buah nangka
- budidaya tanaman hias
- bugenville
- bumbu masak
- bunga
- bunga kertas
- bunga lawang
- bunga mawar
- bunga pink
- bunga raflesia
- bunga sedap malam
- bunga warna putih
- buni
- burning love
- butun
- butung
- calatea
- cara
- cara berkembang biak
- cara proses
- carex morriwii
- CATALOG
- cemara balon
- cemara okaria kuning
- cemara udang
- cepelet
- chain shew
- chlorophytum Comosum
- chrisan
- cina
- cinencis
- clinicial
- clitoria ternatea
- clorophytalum
- codiaeum variegatum bi
- compost
- composter
- control
- cover
- craft
- create garden
- crica papaya
- crinum asiaticum
- cuphea hyssopifolia
- cycas
- daftar
- daftar harga sewa tanaman hias
- daftar harga tanaman
- daftar harga tanaman bulan oktober 2012
- daging merah
- daging putih
- daging super merah
- dalam
- Dan
- darah
- dari
- daun
- decoration
- dekorasi
- dekorasi ruangan
- demam
- desain taman
- detoksifikasi
- diabetes
- diare
- dijual rumah
- diligent flowering
- dioscorea villos
- Diospyros macrophylla Blume
- dlingo
- dob
- dominan
- dong qui
- donkey tail
- dragon
- drug
- drum
- durian
- earthenware
- efek
- efek fartakologis
- efek samping
- empat
- enau
- equipment
- es=kstrasi
- estimasi
- estrogen
- evakuasi
- excoecaria bicolor hask
- Excoecaria bicolor hassk
- FAQs Help and Tutorials
- feed
- fellicium decipiens
- feng sui
- fennel
- fennel oil
- fenugreek
- fermentasi
- fertilizer
- fertilizing
- fitofarmaka
- flame of bennettii
- flame of irian
- flamingo flower
- floriculture
- flower
- flowers
- fruit
- fruit tree
- fungisida alami
- furniture
- gambir
- gantung
- garden design
- garden tool
- gardena mini
- gerabah
- gerbang
- ghanti mudra
- giganteus dendrocalamus
- ginjal
- glodogan tiang pecut
- God
- golden
- gowok
- granit
- grass as material
- green directory
- green mower
- ground
- ground cover
- gui si
- gula
- habitat
- harga
- harga bambu kuning cina
- harga bibit tanaman buah
- harga pucuk ungu
- harga rumah
- harga taman minimalis
- harga tanaman
- harga tanaman agave
- harga teh tehan
- harga tiket taman mini
- healthy
- heart
- hedgerow
- heliconia
- heliconia calatea
- heliconia lady day
- hepatitis
- herba
- herbaceous
- herbarium
- hias
- hight
- hijau
- home sold faster
- hormon
- hose
- hukum
- humus
- hutu
- ijuk
- ilmu blog
- indah
- indoor
- indoor decoration
- indoor plant
- indoor plant material
- indoor plant palem wergu
- indukan
- infeksi
- inflamasi anti kanker
- inscription
- insektisida
- inspirasi
- investasi
- ixora coccinea l
- Jabon
- jamblang
- jambu
- jambu jamaica
- jambu mawar
- jamu
- januari 2013
- jasa
- jenis
- jenis jenis
- jenis melati jepang
- jenis tanaman palem untuk taman
- jeruk
- jeruk nagami
- Jonghyun
- jumbo size indoor plant
- jungle flame
- jus daun katuk
- kajang kajang
- kalatea
- kalium
- kandungan zat
- kangean
- kanker
- karbon
- karebae
- karebai
- karoten
- kastolam
- katuk
- kayu hitam
- keben
- kebing
- kebun
- kecambah
- kecantikan
- kecapi
- kelainan
- kelengkeng
- kembang lawang
- Kembang teleng
- kepel
- keptun
- keputihan
- Kerajinan kreatif
- kerakur
- keraton
- kereta api
- kerja
- kesehatan payudara
- ketapang kencana
- khasiat
- kiara payung
- king
- kipas
- kolang kaling
- kolesterol
- kompos
- krisan
- kriteria pohon peneduh
- Kritik
- kucai mini
- kulit kuning daging putih
- kuning
- kuning keputih putihan
- kupa landak
- l
- lambang cinta
- Languages
- lapangan sepak bola
- larva
- lavenda
- lavender
- lavender bunga
- lavender daun lebar
- leaves
- lebar
- lebaran
- licorice
- Lidah Mertua
- lifestyle
- Lili paris
- lily
- limbah
- Lingkungan hidup
- liver
- Lomba SEO
- lombok
- macam
- madecine plant
- maintenace gardening
- maintenance gardening
- malur
- manfaat
- mangga
- manting
- masangeada cane
- material
- material pembuatan media tanam
- material taman
- mawar
- medecinal plant
- medecine
- medecine plant
- media tanam
- media tanam tanaman pot
- medium
- meja
- mekar sempurna
- melati australia
- melati bangkok
- melati italia
- melati jepang
- melati putih
- melestarikan
- memata
- membangun gedung berkonsep alalm
- membangun lapangan sepak bola yang baik dan benar
- membuat taman
- memperbanyak
- memperbnyak
- memperlancar usaha
- mencegah kerontokan rambut
- mengenal
- mensyi primrose
- menteng
- menyehatkan payudara
- menyiram taman
- menyusui
- merah
- meselangan
- mesin pembersih
- mesin potong rumput
- mijimu
- mijiu
- mimba
- mimusop elenge
- minimalist garden
- minyak
- mitos
- mojiu
- monoksida
- most
- mudik
- naga
- Nama tananaman obat
- namnam
- nanas merah
- nangka
- natural ingredients
- natural sugar
- nematisida
- new variety
- NEWS
- nim
- nira
- nitrogen
- non calori
- non kalori
- Notia
- npk
- nuansa
- nursery
- obat
- obat beri beri
- obat kencing nanah
- occonopus compressus
- oranye
- orchid
- organic
- organic waste
- ornament
- ornamental
- otomatis
- pacar cina
- pagar
- pakan ternak
- pakis
- palam dob
- palem
- palem ijo
- palem jepang
- palem kipas
- palem kuning
- palem merah
- palem putri - Veitcia merillii
- palem sadeng cinencis
- palem wergu
- panas
- panda
- pandan bali
- panduan
- papaw
- parkeri dunn
- pasang rumput gajah mini
- pasiflora
- pati
- payudara sehat
- pedar
- pekak
- pelancar asi
- pelangsing
- pelindung
- peluang usaha
- pemanis
- pemanis alami
- pembatas ruang
- pemeliharaan
- pemupukan
- pendatang baru
- peneapple
- peneduh
- penetralisir udara
- pengalaman
- penghasil
- penghias
- penjual
- penyebaran
- penyegar
- penyemprotan
- pepaya
- peralatan siram
- peralatan taman
- peraturan pemerintah
- perkembang biakan
- pertanian
- pest
- pesticide
- pestisda nabati
- pestisida
- peternakan
- pheonix
- phillodendrum jari
- philo marbel
- philodendrons
- photosesitivety
- pintu
- piretrum
- pisang kipas
- pisang pisangan
- pisang pisangan bedak
- pitaya
- pitu
- plant
- plant madecines
- Planter box
- planting
- plants
- plastic bag
- plered
- poaceae
- pohon aren
- pohon perdamaian
- pohon tanjung
- polyalthea longifolia pendula
- poncosuda
- porous
- porstat
- posfor
- pot
- potery
- potted plants
- pottery
- price
- price list
- price list tanaman
- price of minimalist garden
- privacy policy
- productivity
- produktivitas
- Programming
- property
- protein
- pucuk merah
- pucuk ungu
- punah
- pupa
- pupuk
- puring teri
- purwakarta
- putat laut
- putih
- putting green
- qi
- rab
- rafflesia patma
- raja
- rajin berbunga
- rambutan
- raphis excelsa
- rare
- rare flower
- ratu malam
- recipe
- red siping
- rematik
- remedy
- ren chen
- resep
- resorbsi
- rhapis excelsa
- rindang
- rosa sp
- rose mery lavender
- rose pikeke
- rosy
- rth
- ruang
- ruang publik
- ruang terbuka hijau
- ruangan
- rugi
- rumah
- rumah lebih cepat terjual
- rumah minimalis
- rumput
- rumput coklat
- rumput embun
- rumput gajah mini
- rumput gajah mini varigatha
- rumput gajah paitan
- rumput golf
- rumput kandang kanguru
- rumput kandang rusa
- rumput rumputan
- rumput sintetis
- sadeng
- sagu
- salam
- salanin
- sambang darah belang putih
- sampah jalan
- Sansevieria trifasciata
- sansivera
- santan
- sari bunga
- sariawan
- sauropus androgynus
- saw palmetto
- schefflera
- screening
- sejarah
- sekam bakar
- sekam bodong
- semak
- sembelit
- sembukan penyakit diabetes
- senyawa
- september 2012
- serai
- seruni
- sesame
- sesamun inicum L
- sewa tanaman
- sewa tanaman hias
- shoots
- shrubs
- sikas
- simani
- simple tool
- sinar matahari
- sinkle
- sirih putih
- slybum marianaum
- soccer field
- soccer field grass material
- soka
- soka jambon
- song of india
- songgom
- spathiphyllum
- Spesies
- springkle
- sprinkle
- stage
- star anise
- star jasmine
- steping stone
- steril
- stevia plant
- stok material taman
- sugar palm
- suji
- suji belut
- sumur resapan
- sungkup
- sysigium caulifora
- syzygium polyanthum
- syzygium purple oleana
- table plant
- tahap
- tahun naga
- tahun ular air
- taiwan beauty
- taksonomi tumbuhan melati
- taman indah
- taman minimalis
- taman prasasti
- taman yang indah
- tambara marica
- tanaman
- tanaman akar manis
- tanaman berdaun merah
- tanaman beringin
- tanaman buah
- tanaman gantung
- tanaman herbal
- tanaman hias
- tanaman ikon
- tanaman indoor plant
- tanaman katuk
- tanaman keben
- tanaman khasiat
- tanaman kwalot
- tanaman langka
- tanaman langka.;lobi lobi
- tanaman mawar
- tanaman merambat
- tanaman obat
- tanaman pagar
- tanaman palem
- tanaman pelindung
- tanaman peneduh
- tanaman penghalang matahari
- tanaman pengusir nyamuk
- tanaman pengusir nyamuk dan lalat
- tanaman semak
- tanaman sirsak
- tanaman walisongo
- tanaman yang dapat dibentuk
- tang kuei
- tanjung
- tapis kodok
- tata ruang
- teh tehan
- teh tehan varigata
- teh tehan varigatha
- tekanan darah tinggi
- telisik kuning
- terancam
- teratogenik
- terpasang
- tevia
- tidak
- tinggi
- tips bisnis
- Tips SEO
- toilet
- toluena
- totol
- tradisional
- traditional
- treatment
- tukang taman
- tulang
- tumbuh
- tumbuhan
- tunas
- ubar
- udara
- ukuran pot gerabah
- umbi
- umbi uwih
- UMKM
- ungu
- untung
- usus
- utong
- varietas
- varitas
- vertikal garden
- virisida
- walisongo
- wangi
- wanita hamil
- warna
- water for life
- water installation
- wijaya kusuma
- wijen
- wijoyo kusumo
- wild yam
- wisata
- witung witung
- wutuna
- xilena
- yang baik
- yang teduh
- yellow bamboo
- Zamia culcas
- zat formaldehid
- zoysia japonica