Rabu, 04 Juli 2012

Tanaman Pengusir nyamuk - Rose mery lavender

Lavender Tanaman pengusir nyamuk terdapat beberapa jenis,
rosmery sebagai tanaman pengusir nyamuk
walaupun semunya sebenarnya tergolong dalam tanaman lavender, yang berikut ini adalah tanaman yang biasa disebut Rosmery, dikalangan pembudidaya tanaman hias harga tanaman lavender rose mery dibandrol dengan harga Rp. 10.000,- untuk ukuran tinggi 50 cm, di kemas dalam polibag ukuran 30 
tanaman berkhasiat mengusir nyamuk
Tidak seperti tanaman pengusir nyamuk yang lain, tanaman yang satu ini secara visual tampak lebih kuat dan kekar, dibandingkan dengan tanaman pengusir nyamuk yang lain seperti lavender daun lebar, atau apalagi dibandingkan dengan lavender bunga, dapat ditanam di beranda rumah kita, sangat cocok apabila kita jejer berurutan, sehingga terpasang secara rapih seperti pagar pendek, dengan sedikit teknik pemasangan tersebut akan semakin mempercantik penampilan dilihat dari segi artistik atau seninya, tetapi tetap memiliki manfaat sebagai tanaman penghasil zat yang tidak disukai oleh hewan seperti nyamuk


Cara berkembang biak tanaman ini dengan stek, dapat hidup walaupun dibawah terik matahari langsung sepanjang hari, diperlukan penyiraman yang cukup, kurang bisa hidup dengan baik dengan keadaan kering/ kurang air siraman 

Apakah anda sudah memiliki tanaman ini, bila dirumah anda banyak nyamuk kami refrensikan untuk menanam tanaman pengusir nyamuk rosemery ini

Minggu, 01 Juli 2012

Daftar harga tanaman hias - Juli 2012

  •  Tanaman Semak

  1. Gardena mini/ melati jepang polibag 25 Rp. 3.000,-
  2. colifah/ brokoli polibag 20 Rp. 3.000,-
  3. Pucuk merah tinggi 1 m Rp. 50.000 
  4. Bromelyad varigatha polibag 15 Rp.2.500,-
  5. Kacang kacangan, polibag 15 Rp. 1.000,-
  6. Rawalea tegak, polibag 15, Rp. 2.000,-
  7. Pakis kelabang, polibag 15, Rp.2.000,-
  8. Taiwan beauty, polibag 15 Rp.2.500,-
  9. Lili paris, lili umbi, polibag 15 Rp.2.000,-
  10. Iris, lily brasil, polibag 15, Rp. 2.000,-
  11. Erfa/ bayam merah, polibag 15, Rp. 1.500,-
  12. Bakung bunga putih, Polibag 15, Rp. 1.200,-
  13. Bromelyad tricolour, polibag 20 Rp.5.000,-
  14. Aglonema donal carmen, polibag 25. Rp.5.000,-
  15. Bakung centong, polibag 15,Rp. 2.000,-
  16. Pisangan heliconia lady day, polibag 15 Rp.2.000,-
  17. Teh tehan, polibag 15, tinggi 60 cm Rp.1.200,-
  18. Spatypillum, polibag 20 Rp. 5.000,-
  19. Alang alang ijo, polibag 15, Rp.2.000,-
  20. Kucai mini, polibag 10, Rp.1.000,-
  21. Kucai, polibag 15 Rp.1.500,-
  22. Pisangan calatea polibag 40/ karung Rp. 17.000,-
  23. pisangan sensiping, karung, Rp. 17.000,-
  24. bambu kuning cina/ telisik kuning, polibag 30 Rp.30.000,- 
  25. Palem jepang/ palem ijo tinggi 180 cm @ Rp.45.000,-
  26. Palem Kuning tinggi 60 cm @ Rp.12.500,-
  27. Palem Putri tinggi sampai ujung daun 180 cm @ Rp.45.000,-
  28. Pucuk merah tinggi 1 m @ 100.000,-
  29. Aralia kemasan polibag 20 cm @ Rp.2.000,- 
  30. Pucuk ungu tinggi 1 m, Rp. 750.000,-
  31. Lili paris Rp. 1.000,-
  32. Pisangan Karebai Rp. 12.000,-
  33. Kacang - kacangan Rp. 1.200,-
  34. Rawalea rebah Rp. 1.500,-
  35. Pandan kuning Rp. 2.500,-
  36. Nenas merah Rp. 8.000,-
  37. Agave tinggi 40 cm Rp. 25.000
  38. Sansivera
  39. Soka jambon polibag 20 Rp, 5.000,-
  40. Soka orange daun lebar  polibag 20 Rp. 5.000,-
  41. Soka singapur polibag 20 Rp. 3.000,-
Tanaman Pelindung / Perdu
  1. Mahoni diameter batang 7-8 cm Rp. 150.000,-
  2. Sawo kecik tinggi 2 meter Rp. 150.000,-
  3. Flamboyan Diameter batang 7-8 c m  Rp. 125.000,-
  4. Glodogan tiang/ pecut tinggi 2 meter Rp. 85.000,-
  5. Palem ekor tupai, tinggi 3 meter sampai ujung daun 125.000,-
  6. Palem putri tinggi 2 meter sampai ujung daun Rp. 150.000,-
  7. Tabibuya diameter batang 10 cm Rp. 250.000,-
  8. Ketapang kencana Tinggi 150 cm  Rp. 75.000,-
  9. Dadap merah Tinggi 2,5 meter Rp. 75.000,-
  10. Beringin putih Tinggi 3 meter Rp. 850.000,-
Tanaman Ground Cover
  1. Harga rumput gajah mini Rp. 20.000,- terpasang jabotabek
  2. Harga Rumput golf lempengan Rp. 25.000,- terpasang jabotabek
  3. Harga Rumput gajah paitan Rp. 12.000,- terpasang jabotabek
  4. Harga Rumput japang/ peking Rp. 25.000,- terpasang jabotabek

Jumat, 29 Juni 2012

Budidaya Kambing Pedaging


1.     SEJARAH SINGKAT
   
Domba yang kita kenal sekarang merupakan hasil dometikasi manusia yang sejarahnya diturunkan dari 3 jenis domba liar, yaitu Mouflon (Ovis musimon) yang berasal dari Eropa Selatan dan Asia Kecil, Argali (Ovis amon) berasal dari Asia Tenggara, Urial (Ovis vignei) yang berasal dari Asia.
2.     SENTRA PETERNAKAN
   
Di Indonesia sentra peternakan domba berada di daerah Aceh dan Sumatra Utara. Di Aceh pada tahun 1993 tercatat sekitar 106 ribu ekor domba, sementara di Sumatera Utara sekitar 95 ribu ekor domba yang diternakan. Lahan yang digunakan untuk berternak di daerah Aceh berdasarkan data Puslit Tanah dan Agroklimat Deptan tahun 1979, seluas 5,5 juta hektar mulai dari kemampuan kelas I sampai VIII, sedangkan di Sumatera Utara luas lahan yang digunakan sekitar 7 juta hektar.
3.     J E N I S
   
Domba seperti halnya kambing, kerbau dan sapi, tergolong dalam famili Bovidae. Kita mengenal beberapa bangsa domba yang tersebar diseluruh dunia, seperti:

1)
   
Domba Kampung adalah domba yang berasal dari Indonesia
2)
   
Domba Priangan berasal dari Indonesia dan banyak terdapat di daerah Jawa Barat.
3)
   
Domba Ekor Gemuk merupakan domba yang berasal dari Indonesia bagian Timur seperti Madura, Sulawesi dan Lombok.
4)
   
Domba Garut adalah domba hasil persilangan segi tiga antara domba kampung, merino dan domba ekor gemuk dari Afrika Selatan.


Di Indonesia, khususnya di Jawa, ada 2 bangsa domba yang terkenal, yakni domba ekor gemuk yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur dan domba ekor tipis yang banyak terdapat di Jawa Barat
4.     MANFAAT
   
Daging domba merupakan sumber protein dan lemak hewani. Walaupun belum memasyarakat, susu domba merupakan minuman yang bergizi. Manfaat lain dari berternak domba adalah bulunya dapat digunakan sebagai industri tekstil.
5.     PERSYARATAN LOKASI
   
Lokasi untuk peternakan domba sebaiknya berada di areal yang cukup luas, udaranya segar dan keadaan sekelilingnya tenang, dekat dengan sumber pakan ternak, memiliki sumber air, jauh dari daerah pemukiman dan sumber air penduduk (minimal 10 meter), relatif dekat dari pusat pemasaran dan pakan ternak.
6.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
   
6.1.    
Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik. Dengan demikian keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.Penyiapan Sarana dan Peralatan

    Perkandangan
    Kandang harus kuat sehingga dapat dipakai dalam waktu yang lama, ukuran sesuai dengan jumlah ternak, bersih, memperoleh sinar matahari pagi, ventilasi kandang harus cukup dan terletak lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya agar tidak kebanjiran. Atap kandang diusahakan dari bahan yang ringan dan memiliki daya serap panas yang relatif kecil, misalnya dari atap rumbia.

    Kandang dibagi menjadi beberapa bagian sesuai fungsinya, yaitu:

    a.
       
    Kandang induk/utama, tempat domba digemukkan. Satu ekor domba membutuhkan luas kandang 1 x 1 m.
    b.
       
    Kandang induk dan anaknya, tempat induk yang sedang menyusui anaknya selama 3 bulan. Seekor induk domba memerlukan luas 1,5 x 1 m dan anak domba memerlukan luas 0,75 x 1 m.
    c.
       
    Kandang pejantan, tempat domba jantan yang akan digunakan sebagai pemacak seluas 2 x 1,5 m/pemancak.


    Di dalam kandang domba sebaiknya terdapat tempat makan, palung makanan dan minuman, gudang makanan, tempat umbaran (tempat domba saat kandang dibersihkan) dan tempat kotoran/kompos.

    Tipe dan model kandang pada hakikatnya dapat dibedakan dalam 2 tipe, yaitu:
    a.
       
    Tipe kandang Panggung

       
    Tipe kandang ini memiliki kolong yang bermanfaat sebagai penampung kotoran. Kolong digali dan dibuat lebih rendah daripada permukaan tanah sehingga kotoran dan air kencingnya tidak berceceran. Alas kandang terbuat dari kayu/bambu yang telah diawetkan, Tinggi panggung dari tanah dibuat minimal 50 cm/2 m untuk peternakan besar. Palung makanan harus dibuat rapat, agar bahan makanan yang diberikan tidak tercecer keluar.
    b.
       
    Tipe kandang Lemprak

       
    Kandang tipe ini pada umumnya digunakan untuk usaha ternak domba kereman. Kandang lemprak tidak dilengkapi dengan alas kayu, tetapi ternak beralasan kotoran dan sisa-sisa hijauan pakan. Kandang tidak dilengkapi dengan palung makanan, tetapi keranjang rumput yang diletakkan diatas alas. Pemberian pakan sengaja berlebihan, agar dapat hasil kotoran yang banyak. Kotoran akan dibongkar setelah sekitar 1-6 bulan.

6.2.    
Peyiapan Bibit
Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik. Dengan demikian keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.

1)     Pemilihan Bibit Calon Induk
   
a.
   
Calon Induk: berumur 1,5-2 tahun, tidak cacat, bentuk perut normal, telinga kecil hingga sedang, bulu halus, roman muka baik dan memiliki nafsu kawin besar dan ekor normal
b.
   
Calon Pejantan: berumur 1,5-2 tahun, sehat dan tidak cacat, badan normal dan keturunan dari induk yang melahirkan anak 2 ekor/lebih, tonjolan tulang pada kaki besar dan mempunyai buah zakar yang sama besar serta kelaminnya dapat bereaksi, mempunyai gerakan yang lincah, roman muka baik dan tingkat pertumbuhan relatif cepat.
2)     Reproduksi dan Perkawinan
   
Hal yang harus di ketahui oleh para peternak dalam pengelolaan reproduksi adalah pengaturan perkawinan yang terencana dan tepat waktu.

a.
   
Dewasa Kelamin, yaitu saat ternak domba memasuki masa birahi yang pertama kali dan siap melaksanakan proses reproduksi. Fase ini dicapai pada saat domba berumur 6-8 bulan, baik pada yang jantan maupun yang betina.
b.
   
Dewasa tubuh, yaitu masa domba jantan dan betina siap untuk dikawinkan. Masa ini dicapai pada umur 10-12 bulan pada betina dan 12 bulan pada jantan. Perkawinan akan berhasil apabila domba betina dalam keadaan birahi.
3)     Proses Kelahiran
   
Lama kebuntingan bagi domba adalah 150 hari (5 bulan). Menjelang kelahiran anak domba, kandang harus bersih dan diberi alas yang kering. Bahan untuk alas kandang dapat berupa karung goni/jerami kering. Obat yang perlu dipersiapkan adalah jodium untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusar.

Induk domba yang akan melahirkan dapat diketahui melalui perubahan fisik dan perilakunya sebagai berikut:
a. Keadaan perut menurun dan pinggul mengendur.
b. Buah susu membesar dan puting susu terisi penuh.
c. Alat kelamin membengkak, berwarna kemerah-merahan dan lembab.
d. Ternak selalu gelisah dan nafsu makan berkurang.
e. Sering kencing.

Proses kelahiran berlangsung 15-30 menit, jika 45 menit setelah ketuban pecah, anak domba belum lahir, kelahiran perlu dibantu. Anak domba yang baru lahir dibersihkan dengan menggunakan lap kering agar dapat bernafas. Biasanya induk domba akan menjilati anaknya hingga kering dan bersih.

6.3.    
Pemeliharaan
1)     Sanitasi dan Tindakan Preventif
   
Sanitasi lingkungan dapat dilakukan dengan membersihkan kandang dan peralatan dari sarang serangga dan hama. kandang terutama tempat pakan dan tempat minum dicuci dan dikeringkan setiap hari. Perlu dilakukan pembersihan rumput liar di sekitar kandang. Kandang ternak dibersihkan seminggu sekali.
2)     Pengontrolan Penyakit
   
Domba yang terserang penyakit dapat segera diobati dan dipisahkan dari yang sehat. Lakukan pencegahan dengan menyuntikan vaksinasi pada domba-domba yang sehat.
3)     Perawatan Ternak
   
Induk bunting diberi makanan yang baik dan teratur, ruang gerak yang lapang dan dipisahkan dari domba lainnya. induk yang baru melahirkan diberi minum dan makanan hijauan yang telah dicampurkan dengan makanan penguat lainnya. Selain itu, induk domba harus dimandikan. Anak domba (Cempe) yang baru dilahirkan, dibersihkan dan diberi makanan yang terseleksi. Cempe yang disapih perlu diperhatikan. pakan yang berkualitas dalam bentuk bubur tidak lebih dari 0,20 kg satu kali sehari.

Perawatan ternak dewasa meliputi:

a.
   
Memandikan ternak secara rutin minimal seminggu sekali. dengan cara disikat dan disabuni. pada pagi hari, kemudian dijemur dibawah sinar matahari pagi.
b.
   
Mencukur Bulu

   
Pencukuran bulu domba dengan gunting biasa/cukur ini. dilakukan minimal 6 bulan sekali dan disisakan guntingan bulu setebal kira-kira 0,5 cm. Sebelumnya domba dimandikan sehingga bulu yang dihasilkan dapat dijadikan bahan tekstil. Keempat kaki domba diikat agar tidak lari pada saat dicukur. Pencukuran dimulai dari bagian perut kedepan dan searah dengan punggung domba
c.
   
Merawat dan Memotong Kuku

   
Pemotongan kuku domba dipotong 4 bulan sekali dengan golok, pahat kayu, pisau rantan, pisau kuku atau gunting.
4)     Pemberian Pakan

   
Zat gizi makanan yang diperlukan oleh ternak domba dan mutlak harus tersedia dalam jumlah yang cukup adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Bahan pakan untuk domba pada umumnya digolongkan dalam 4 golongan sebagai berikut:

a.
   
Golongan Rumput-rumputan, seperti rumput gajah, benggala, brachiaria, raja, meksiko dan rumput alam.
b.
   
Golongan Kacang-kacangan, seperti daun lamtoro, turi, gamal daun kacang tanah, daun kacang-kacangan, albisia, kaliandra, gliricidia dan siratro.
c.
   
Hasil Limbah Pertanian, seperti daun nangka, daun waru, daun dadap, daun kembang sepatu, daun pisang, daun jagung, daun ketela pohon, daun ketela rambat dan daun beringin.
d.
   
Golongan Makanan Penguat (Konsentrat), seperti dedak, jagung karing, garam dapur, bungkil kelapa, tepung ikan, bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap dan biji kapas.


Pakan untuk domba berupa campuran dari keempat golongan di atas yang disesuaikan dengan tingkatan umur. Adapun proporsi dari campuran tersebut adalah:
a.     Ternak dewasa: rumput 75%, daun 25%
b.     Induk bunting: rumput 60%, daun 40%, konsentrat 2-3 gelas
c.     Induk menyusui: rumput 50%, daun 50% dan konsentrat2-3 gelas
d.     Anak sebelum disapih: rumput 50%, daun 50%
e.     Anak lepas sapih: rumput 60%, daun 40% dan konsentrat 0,5–1 gelas


Sedangkan dosis pemberian ransum untuk pertumbuhan domba adalah sebagai berikut:
a.     Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=180 kg/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
b.     Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=340 kg/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
c.     Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=410 kg/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
d.     Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=110 kg/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
e.     Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=280 kg/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
f.     Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=440 kg/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
g.     Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=160 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
h.     Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=320 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
i.     Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=470 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
j.     Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=100 gr/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
k.     Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=260 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
l.     Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=410 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
m.     Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=60 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
n.     Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=180 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
o.     Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=340 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
p.     Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=50 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
q.     Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=110 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
r.     Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=260 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
s.     Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=40 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
t.     Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=280 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
u.     Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=440 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
5)     Pemberian Vaksinasi dan Obat
    Pemberian vaksinasi dapat dilakukan setiap enam bulan sekali vaksinasi dapat dilakukan dengan menyuntikan obat kedalam tubuh domba. Vaksinasi mulai dilakukan pada anak domba (cempe) bila telah berusia 1 bulan, selanjutnya diulangi pada usia 2-3 bulan. Vaksinasi yang biasa diberikan adalah jenis vaksin Spora (Max Sterne), Serum anti anthrax, vaksin AE, dan Vaksin SE (Septichaemia Epizootica).
6)     Pemeliharaan Kandang
    Pemeliharaan kandang meliputi pembersihan kotoran domba menimal satu minggu sekali, membuang kotoran ke tempat penampungan limbah, membersihkan lantai atau alas, penyemprotan dan pengapuran kandang untuk disinfektan.
7.     HAMA DAN PENYAKIT
   
1)
   
Penyakit Mencret

   
Penyebab: bakteri Escherichia coli yang menyerang anak domba berusia 3 bulan.
Pengobatan: antibiotika dan sulfa yang diberikan lewat mulut.
2)
   
Penyakit Radang Pusar

   
Penyebab: alat pemotongan pusar yang tidak steril atau tali pusar tercemar oleh bakteri Streptococcus, Staphyloccus, Escherichia coli dan Actinomyces necrophorus. Usia domba yang terserang biasanya cempe usia 2-7 hari.
Gejala : terjadi pembengkakan di sekitar pusar dan apabila disentuh domba akan kesakitan.
Pengobatan: dengan antibiotika, sulfa dan pusar dikompres dengan larutan rivanol (Desinfektan)
3)
   
Penyakit Cacar Mulut

   
Penyakit ini menyerang domba usia sampai 3 bulan.
Gejala : cempe yang terserang tidak dapat mengisap susu induknya karena tenggorokannya terasa sakit sehingga dapat mengakibatkan kematian.
Pengendalian : dengan sulfa seperti Sulfapyridine, Sulfamerozine, atau pinicillin.
4)
   
Penyakit Titani

   
Penyebab: kekurangan Defisiensi Kalsium (Ca) dan Mangan (Mn). Domba yang diserang biasanya berusia 3-4 bulan.
Gejala : domba selalu gelisah, timbul kejang pada beberapa ototnya bahkan sampai keseluruh badan Penyakit ini dapat diobati dengan menyuntikan larutan Genconos calcicus dan Magnesium.
5)
   
Penyakit Radang Limoah

   
Penyakit ini menyerang domba pada semua usia, sangat berbahaya, penularannya cepat dan dapat menular ke manusia
Penyebab: bakteri Bacillus anthracis.
Gejala : suhu tubuh meninggi, dari lubang hidung dan dubur keluar cairan yang bercampur dengan darah, nadi berjalan cepat, tubuh gemetar dan nafsu makan hilang.
Pengendalian : dengan menyuntikan antibiotika Pracain penncillin G, dengan dosis 6.000-10.000 untuk /kg berat tubuh domba tertular.
6)
   
Penyakit Mulut dan Kuku

   
Penyakit menular ini dapat menyebabkan kematian pada ternak domba, dan yang diserang adalah pada bagian mulut dan kuku.
Penyebab: virus dan menyerang semua usia pada domba
Gejala : mulut melepuh diselaputi lendir.
Pengendalian : membersihkan bagian yang melepuh pada mulut dengan menggunakan larutan Aluminium Sulfat 5%, sedangkan pada kuku dilakukan dengan merendam kuku dalam larutan formalin atau Natrium karbonat 4%.
7)
   
Penyakit Ngorok

   
Penyebab: bakteri Pasteurella multocida.
Gejala : nafsu makan domba berkurang, dapat menimbulkan bengkak pada bagian leher dan dada. Semua usia domba dapat terserang penyakit ini, domba yang terserang terlihat lidahnya bengkak dan menjulur keluar, mulut menganga, keluar lendir berbuih dan sulit tidur.
Pengendalian : menggunakan antibiotika lewat air minum atau suntikan.
8)
   
Penyakit Perut Kembung

   
Penyebab: pemberian makanan yang tidak teratur atau makan rumput yang masih diselimuti embun.
Gejala :lambung domba membesar dan dapat menyebabkan kematian. Untuk itu diusahakan pemberian makan yang teratur jadwal dan jumlahnya jangan digembalakan terlalu pagi
Pengendalian : memberikan gula yang diseduh dengan asam, selanjutnya kaki domba bagian depan diangkat keatas sampai gas keluar.
9)
   
Penyakit Parasit Cacing

   
Semua usia domba dapat terserang penyakit ini.
Penyebab:cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum (Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii (Cacing mata).
Pengendalian : diberikan Zanil atau Valbazen yang diberikan lewat
minuman, dapat juga diberi obat cacing seperti Piperazin dengan dosis 220
mg/kg berat tubuh domba.
10)
   
Penyakit Kudis

   
Merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia. Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi nilai jual ternak domba.
Penyebab: parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi dan Chorioptes bovis. Gejala : tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung, kaki dan pangkal ekor.
Pengendalian : dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.
11)
   
Penyakit Dermatitis

   
Adalah penyakit kulit menular pada ternak domba, menyerang kulit bibit domba.
Penyebab: virus dari sub-group Pox virus dan menyerang semua usia domba.
Gejala : terjadi peradangan kulit di sekitar mulut, kelopak mata, dan alat genital. Pada induk yang menyusui terlihat radang kelenjar susu.
Pengendalian : menggunakan salep atau Jodium tinctur pada luka.
12)
   
Penyakit Kelenjar Susu

   
Penyakit ini sering terjadi pada domba dewasa yang menyusui, sehingga air susu yang diisap cempe tercemar.
Penyebab: ambing domba induk yang menyusui tidak secara ruti dibersihkan.
Gejala : ambing domba bengkak, bila diraba tersa panas, terjadi demam dan suhu tubuh tinggi, nafsu makan kurang, produsi air susu induk berkurang.
Pengendalian : pemberian obatobatan antibiotika melalui air minum.


Secara umum pengendalian dan pencegahan penyakit yang terjadi pada domba dapat dilakukan dengan:
a)
   
Menjaga kebersihan kandang, dan mengganti alas kandang.
b)
   
Mengontrol anak domba (cempe) sesering mungkin.
c)
   
Memberikan nutrisi dan makanan penguat yang mengandung mineral, kalsium dan mangannya.
d)
   
Memberikan makanan sesuai jadwal dan jumlahnya, Hijauan pakan yang baru dipotong sebaiknya dilayukan lebih dahulu sebelum diberikan.
e)
   
Menghindari pemberian makanan kasar atau hijauan pakan yang terkontaminasi siput dan sebelum dibrikan sebainya dicuci dulu.
f)
   
Sanitasi yang baik, sering memandikan domba dan mencukur bulu.
g)
   
Tatalaksana kandang diatur dengan baik.
h)
   
Melakukan vaksinasi dan pengobatan pada domba yang sakit.
8.     P A N E N
   
8.1.    
Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya domba adalah karkas (daging)
8.2.     Hasil Tambahan
Hasil tambahan dari budidaya domba adalah bulunya (wool) yang dapat di jadikan sebagai bahan tekstil.
8.3.    
Pembersihan
Sebelum dipotong ternak dibersihkan dengan cara mencuci kaki domba dan menyemprotkan air diatas kepala ternak agar karkas yang dihasilkan tidak tercemar oleh bakteri dan kotoran.
9.     PASCA PANEN
   
9.1.
   
Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan domba agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:

1)
   
Ternak domba harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2)
   
Ternak domba harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
3)
   
Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
4)
   
Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
9.2.
   
Pengulitan
Pengulitan pada domba yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit domba dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit domba dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
9.3.
   
Pengeluaran Jeroan
Setelah domba dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut domba.
9.4.
   
Pemotongan Karkas
Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.

Budidaya Kambing Perah


Budidaya Ternak Kambing
Ternak kambing produksi optimal.

Bahan
Kambing, pakan, peralatan konstruksi kandang, lahan.

Alat
Tempat pakan/minum.

Pedoman Teknis
Jenis kambing asli di Indonesia adalah kambing kacang dan kambing peranakan etawa (PE)

Memilih bibit
Pemilihan bibit diperlukan untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik. Pemilihan calon bibit dianjurkan di daerah setempat, bebas dari penyakit dengan phenotype baik.

Calon induk
Umur berkisar antara > 12 bulan, (2 buah gigi seri tetap), tingkat kesuburan reproduksi sedang, sifat keindukan baik, tubuh tidak cacat, berasal dari keturunan kembar (kembar dua), jumlah puting dua buah dan berat badan > 20 kg.

Calon pejantan
Pejantan mempunyai penampilan bagus dan besar, umur > 1,5 tahun, (gigi seri tetap), keturunan kembar, mempunyai nafsu kawin besar, sehat dan tidak cacat.

Pakan

Ternak kambing menyukai macam-macam daun-daunan sebagai pakan dasar dan pakan tambahan (konsentrat).

Pakan tambahan dapat disusun dari (bungkil kalapa, bungkil kedelai), dedak, tepung ikan ditambah mineral dan vitamin.

Pakan dasar umumnya adalah rumput kayangan, daun lamtoro, gamal, daun nangka, dsb.

Pemberian hijauan sebaiknya mencapai 3 % berat badan (dasar bahan kering) atau 10 – 15 % berat badan (dasar bahan segar)

Pemberian pakan induk
Selain campuran hijauan, pakan tambahan perlu diberikan saat bunting tua dan baru melahirkan, sekitar 1 1/2 % berat badan dengan kandungan protein 16 %.

Kandang
Pada prinsipnya bentuk, bahan dan konstruksi kandang kambing berukuran 1 1/2 m² untuk induk secara individu. Pejantan dipisahkan dengan ukuran kandang 2 m², sedang anak lepas sapih disatukan (umur 3 bulan) dengan ukuran 1 m/ekor. tinggi penyekat 1 1/2 – 2 X tinggi ternak.

Pencegahan penyakit : sebelum ternak dikandangkan, kambing harus dibebaskan dari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengan dimandikan.

Ternak Kambing
Pendahuluan
Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baik daging, susu, kotoran maupun kulitnya) relatif mudah. Meskipun secara tradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50 – 150 gram per hari. Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam usaha ternak kambing, yaitu: bibit, makanan, dan tata laksana.

Bibit Kambing
Pemilihan bibit kambing harus disesuaikan dengan tujuan dari usaha, apakah untuk pedaging, atau perah (misalnya: kambing kacang untuk produksi daging, kambing etawah untuk produksi susu, dll). Secara umum ciri bibit yang baik adalah yang berbadan sehat, tidak cacat, bulu bersih dan mengkilat, daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan.

Ciri untuk calon induk kambing :

Tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, tubuh besar, tapi tidak terlalu gemuk.

Kambing Jinak dan sorot matanya ramah.

Kaki kambing lurus dan tumit tinggi.

Gigi kambing lengkap, mampu merumput dengan baik (efisien), rahang atas dan bawah rata.

Dari keturunan kambing kembar atau dilahirkan tunggal tapi dari induk kambing yang muda.

Ambing kambing simetris, tidak menggantung dan berputing 2 buah.

Ciri untuk calon kambing pejantan :

Tubuh kambing besar dan panjang dengan bagian belakang kambing lebih besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif dan memiliki libido (nafsu kawin) tinggi.

Kaki kambing lurus dan kuat.

Dari keturunan kambing kembar.

Umur kambing antara 1,5 sampai 3 tahun.

Makanan
Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi ternak. Pakan kambing yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, mudah dicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah diperoleh. Pada dasarnya ada dua macam makanan kambing , yaitu hijauan (berbagai jenis rumput) dan makan tambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung ikan, bungkil kelapa, vitamin dan mineral).
Cara pemberiannya :
Diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore), berat rumput 10% dari berat badan kambing, berikan juga air minum 1,5 – 2,5 liter per ekor per hari, dan garam berjodium secukupnya.
Untuk kambing bunting, induk menyusui, kambing perah dan pejantan yang sering dikawinkan perlu ditambahkan makanan penguat dalam bentuk bubur sebanyak 0,5 – 1 kg/ekor/hari.

Tata Laksana.
Kandang kambing
Harus segar (ventilasi baik, cukup cahaya matahari, bersih, dan minimal berjarak 5 meter dari rumah).
Ukuran kandang yang biasa digunakan adalah :
Kandang kambing beranak : 120 cm x 120 cm /ekor
Kandang kambing induk : 100 cm x 125 cm /ekor
Kandang kambing anak : 100 cm x 125 cm /ekor
Kandang kambing pejantan : 110 cm x 125 cm /ekor
Kandang kambing dara/dewasa : 100 cm x 125 cm /ekor

Pengelolaan reproduksi
Diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
Kambing mencapai dewasa kelamin pada umur 6 s/d 10 bulan, dan sebaiknya dikawinkan pada umur 10-12 bulan atau saat bobot badan kambing mencapai 55 – 60 kg.
Lama birahi 24 – 45 jam, siklus birahi kambing berselang selama 17 – 21 hari.
Tanda-tanda birahi : gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan mau/diam bila dinaiki.
Ratio kambing jantan dan betina = 1 : 10
Saat yang tepat untuk mengawinkan kambing adalah :
Masa bunting 144 – 156 hari (…. 5 bulan).
Masa melahirkan, penyapihan dan istirahat ± 2 bulan.

Pengendalian Penyakit
Hendaknya ditekankan pada pencegahan penyakit melalui sanitasi kandang yang baik, makanan yang cukup gizi dan vaksinasi.
Penyakit yang sering menyerang kambing adalah: cacingan, kudis (scabies), kembung perut (bloat), paru-paru (pneumonia), orf, dan koksidiosis.

Pasca Panen
Hendaknya diusahakan untuk selalu meningkatkan nilai tambah dari produksi ternak, baik daging, susu, kulit, tanduk, maupun kotorannya. Bila kambing hendak dijual pada saat berat badan tidak bertambah lagi (umur sekitar 1 – 1,5 tahun), dan diusahakan agar permintaan akan kambing cukup tinggi.
Harga diperkirakan berdasarkan : berat hidup x (45 sampai 50%) karkas x harga daging eceran.

Budidaya Kambing Potong


Ternak Kambing adalah hewan ruminansia kecil yang hidupnya membutuhkan pakan yang berasal dari hijauan seperti rumput-rumputan, daun-daunan, sisa hasil pertanian.

Kemampuan beradaptasi yang cukup baik membuat ternak tersebut begitu mudah berkembang hampir diseluruh wilayah Propinsi Jawa Timur. Namun demikian keberadaan ternak kambing dalam keluarga petani belumlah memberi penghasilan yang baik bila faktor-faktor panca usaha ternak kambing seperti : pemilihan bibit yang baik, pemberian pakan yang memenuhi gizi dan pencegahan terhadap penyakit belum dilaksanakan secara maksimal.

JENIS KAMBING
Jenis Kambing yang tersebar luas di wilayah Jawa Timur adalah kambing kacang dan kambing peranakan etawah. Kedua jenis kambing tersebut sangat cocok dipelihara di wilayah lahan kering dan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Beberapa waktu lalu telah diperkenalkan jenis kambing yang baru yaitu kambing Boer yang merupakan jenis pedaging. Jenis ini sudah disiap untuk diperkenalkan di masyarakat Banyuwangi dengan program inseminasi buatan.

PEMILIHAN BIBIT KAMBING
Menentukan calon bibit kambing betina ataupun jantan sebagai calon bibit untuk keperluan budidaya perlu dipenuhi kriteria antara lain : Memiliki kemampuan pertambahan berat badan yang cepat dan konversi pakan makanan yang baik. Memiliki sifat genetic yang baik untuk menghasilkan keturunan kembar dalam satu kali melahirkan. Sedangkan untuk ciri karakteristik dapat dilihat mata yang bersinar cerah, tajam, tidak cacat tubuh, bulu halus dan mengkilat. Ciri khusus betina harus memiliki sifat keibuan, umur kurang dari 3 tahun, putting susu berjumlah dua dan sama besar. Sedangkan untuk pejantan memiliki sifat mengawinkan cukup besar, buah zakar berjumlah dua dan sama besar serta umur kurang dari 3 tahun.

PAKAN
Ternak kambing dalam kehidupannya memerlukan pakan hijau-hijauan seperti rumput, bungkil kedelai, daun-daunan, sisa produksi pertanian, dedak, dan lain-lain. Komposisi masing-masing sangat tergantung pada kebutuhan ternak, yaitu antara kambing menyusui, pemacek, dan dewasa berbeda. Untuk kambing dewasa kebutuhan makanan 10% dari berat badannya, dimana kebutuhannya yaitu ¾ bagian berupa rumput dan hijauan segar, ¼ bagian terdiri dari daun-daunan. Untuk kambing pemacek kebutuhan makanan hamper sama, akan tetapi peru ditambahkan dedak padi halus sebanyak 200-250 gram. Untuk kambing bunting menjelang melahirkan komposisi makanan untuk hijauan lebih banyak yaitu 3/5 bagian dan 2/5 bagian daun-daunan dan hijauan harus seimbang dan perlu ditambahkan dedak halus padi sebanyak 200-250 gram.

PERKAWINAN
Kambing betina dewasa yang sudah siap kawin umumnya berusia antara 6-8 bulan. Tanda birahinya antara lain : Gelisah, ribut dan nafsu makan menurun. Mencoba untuk menaiki ternak lainnya. Menggerak-gerakkan ekornya. Bagian vulva memerah, bila diraba terasa hangat. Keluar sedikit lendir bening kambing betina dewasa dikawinkan paling bagus berumur 10 bulan, dan jantan sebagai pemacek berumur 1 tahun. Waktu yang tepat untuk mengawinkan kambing pada pertengahan birahi yaitu 12-18 jam sejak birahi pertama muncul.

Selain menggunakan pejantan pemacek, dapat juga kambing betina dikawinkan dengan menggunakan metode kawin suntik (Inseminasi Buatan). Tujuannya adalah untuk menghasilkan keturunan yang mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Untuk saat ini kawin suntik (IB) kambing dapat menggunakan jenis kambing peranakan Etawah (PE).

KANDANG
Pembuatan kandang diupayakan harus memiliki sirkulasi udara yang cukup bagus dan dijaga tingkat kebersihannya. Untuk budidaya kambing, kandang yang bagus adalah jenis panggung, karena akan memberikan kenyamanan pada ternak dan terjaga kebersihannya.

PENGOLAHAN USAHA
Pada umumnya pengelolaan usaha ternak kambing dapat dilakukan secara tradisional maupun secara intensif. Untuk menghindari kerugian dalam usaha, langkah pertama harus ditempuh harus membiasakan dengan memperbaiki managemen usaha, yaitu selalu melakukan pencatatan setiap kejadian mengenai ternaknya. Langkah selanjutnya adalah dengan melihat pangsa pasar. Waktu penjualan ternak kambing yang bagus adalah bila ternak telah berusia 12-18 bulan, dan berat badannya tidak bertambah lagi.

PENYAKIT
Salah satu hal yang penting dalam usaha ternak kambing adalah memperhatikan kesehatan ternak. Sanitasi kandang dan lingkungan merupakan cara termudah untuk mencegah terjadinya kejadian penyakit. Adapun kejadian penyakit yang paling sering adalah kembung (tympani), kudis (scabies), diare dan sebagainya. Untuk pertolongan pertama dapat menggunakan obat-obatan tradisional dan untuk selanjutnya dapat menghubungi petugas kesehatan terdekat.

Budidaya Sapi Perah


Sapi merupakan hewan ternak yang paling terpenting sebagAi sumber penghasilan daging, susu dan tenaga. Budidaya sapi perah sekarang ini banyak dilakakan para peternak Indonesia. Ini karena harga nilai sapi yang masih tinggi dan kandungan susu sapi perah banyak dikomsumsi masyarakat.

Pusat budidaya peternakan sapi ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan). Indonesia dalam bidang peternakan sapi perah harus dilestarikan dan dikembangkan.

Berbagai sumber tentang budidaya sapi perah banyak beredar di media internet dan surat kabat. Blogiztic akan mengupas cara budidaya sapi perah yang benar ada sebagi berikut.

Persyaratan lokasi kandang
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.

Kandang budidaya sapi perah
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).

Persyarat yang diperlukan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi sapi perah betina dewasa
- produksi susu tinggi
- umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak
- berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai eturunan produksi susu tinggi
- bentuk tubuhnya seperti baji
- matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat
- ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelokkelok
- puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek
- tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan (h) tiap tahun beranak.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi sapi perah betina jantan
- umur sekitar 4- 5 tahun
- memiliki kesuburan tinggi
- daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya
- berasal dari induk dan pejantan yang baik
- besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik
- kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat
- muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar
- paha rata dan cukup terpisah, (i) dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar
- badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar
- sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya

Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.

Perawatan ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar).

Penimbangan sapi pedet
Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.

Pemberian pakan
Pakan yang diberikan berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB.

Sedangkan sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum). Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.

Pemeliharaan kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.

Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.

Panen sapi perah
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina. Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.

Label