Senin, 29 April 2013

Pengusaha Modal Nekat


NEKAT, itulah kata pertama yang keluar dari mulut seorang pengusaha agrobisnis, Triyono ketika ditanya bagaimana awal mula merintis usahanya hingga maju seperti sekarang ini. Pria asal Malang ini merupakan pengusaha agrobisinis yang khusus menangani peternakan dan juga pemotongan hewan ternak sapi dan ayam dengan nama perusahaan Tri Agri Aurum Multifarm. Sebelum terjun ke dunia pemotongan dan peternakan sapi dan ayam, Triyono mengawali usahanya dengan mengelola bebek potong. Usahanya ini dia rintis sejak tahun 2006 hingga sekarang. “Pertanyaan besar sewaktu saya kuliah, kalau lulus nanti mau jadi apa? Karena kalau bekerja adalah hal yang sulit bagi saya. Ya akhirnya mulai 2006 saya mencoba merintis usaha waktu itu, bebek potong waktu itu. Jadi nekat, tidak punya uang, utang ke bank. Nekat-nekatan saja,” ungkap Triyono sambil tersenyum kepada okezone di Jakarta, belum lama ini.

Setelah itu pada tahun 2007, Triyono terinspirasi sewatu melihat hewan-hewan kurban dan mulai tepikir untuk membangun sebuah peternakan (farm). Dan tentu saja untuk membangun sebuah farm diprlukan dana yang tidak sedikit. Untuk itu, Triyono berinisiatif untuk membentuk sebuah Kelompok bersama agar bisa berinvestasi dalam usaha ini. Yakni dengan teman-teman kuliah Triyono dan orang yang minat pada usaha peternakan ini mereka bersama-sama berinvestasi pada bisnis ini. Perlahan namun pasti usaha ini pun mulai berkembang, dimana pada tahun 2008, dengan mengandalkan lahan yang awalnya tidak terlalu besar untuk mebangun kandang-kandang dan mulai ada ternak sapi. Setahun kemudian yaitu pada tahun 2009, pria yang merupakan sarjana peternakan dari Univesitas Sebelas Maret ini mulai mencari inisiatif lagi untuk dapat mempertahankan usaha, yaitu dengan mulai melirik bisnis yang tidak jauh dari bidang peternakan juga yaitu peternakan dan pemotongan ayam. Lalu Triyono berpikir jika dirinya hanya melakukan bisnis pada satu hewan ternak saja yaitu sapi, perusahaannya tidak akan kuat. Baik dari segi finansial atau infrastruktur.

Dengan modal awal yang hanya berkisar puluhan jutan dan ditambah dengan modal investasi sekitar Rp300 juta, kini Triyono dapat meraup omset rata-rata sekitar Rp500 juta. Saat ini selain bergerak di pemotongan dan peternakan ayam dan sapi, Triyono juga mengolah limbah-limbah perusahaan untuk dijadikan pupuk organik. Dan saat ini Triyono memiliki lebih dari 30 ekor sapi dan ayam sekitar 25 ribu ekor. Pada tahun 2011 ini Triyono pun bercita-cita untuk melalukan ekspansi usaha dengan memasuki pasar Jakarta untuk daging sapi. Triyono pun ingin mempunyai usaha yang besar untuk sapi ini, karena Triyono melihat Indonesia merupakan importir terbesar di dunia untuk daging sapi.

Dari sini Triyono melihat bahwa ada peluang di sektor ini. Tidak muluk-muluk Triyono pun bercita-cita untuk menggantikan Australia dalam hal ekspor daging sapi. “Saya berharap Indonesia bisa menggantikan Australia untuk ekspor daging. Ya tidak harus jauh-jauh ke sekitar Singapura, Malaysia, Qatar dan Arab,” jelasnya. Perjalanan Triyono dalam merintis usaha ini bukan tanpa rintangan. Rintangan, kendala, batu kerikil pasti selalu ada dalam perjalanan menuju sebuah kesuksesan. Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh Triyono antara lain dalam kurun waktu 12 bulan, ada tiga atau empat bulan yang penjualannya tidak memuaskan atau minus, akibatnya tagihan dari bank membengkak. “Namun jika semua permasalahan bias diselesaikan dengan baik, maka rintangan atau kendala seberat apapun bisa terselesaikan,” tuturnya.

Tips sukses ala pria berkacamata ini adalah jika ingin menjadi pengusaha yang baik dan benar maka berpikirlah unutk menjadi pengusaha. Triyono yakin bahwa apa yang manusia pikirkan itulah yang akan terjadi. Dimana jika ingin menjadi pengusaha, berpikirlah bagaimana caranya untuk menjadi pengusaha yang baik, kreatif, inovatif, karena untuk menjadi pengusaha bukanlah merupakan hal yang mudah. Tidak seperti karyawan yang hanya menunggu perintah dari bosnya saja. Selain itu, modal lain untuk menjadi pengusaha adalah harus berani mengambil resiko. “Kalau mau jadi pengusaha itu, jangan lihat nanti bagaimana. Tapi bagaimana nanti saja, sikat dulu urusan leher belakangan. Saya tidak akan menceritakan masa lalu saya dengan detail. Tapi saya bisa menceritakan pemikiran saya dan hasil pemikiran saya ke depan dengan detail,” tutupnya.

Sumber : okezone.com

Usaha Ternak Unggas


Sejak tanggal 21 Januari 2013 PT. Bumi Mas Farm telah resmi menjalin kerjasama dengan perusahaan kami dalam bentuk penggunaan Viterpan Unggas sebagai program suplemen probiotik wajib bagi seluruh mitra peternaknya. Perusahaan kemitraan ayam broiler yang bermarkas besar di Kab. Cianjur – Jawa Barat ini menggalang kemitraan dengan peternak-peternak di Cianjur, Bandung Barat, Purwakarta dan Subang. Imam Budi Santoso, S. Pt selaku Direktur PT. BMF menyampaikan bahwa wilayah usahanya akan segera menjangkau Karawang dan Bekasi. Beliau mengakui bahwa Viterpan Unggas sangat nyata meningkatkan performans ayam broiler.

Tidak mau percaya begitu saja, kami memutuskan untuk mengunjungi PT. BMF guna melihat langsung sepak terjang perusahaan ini dan mendengar langsung dari para peternaknya mengenai khasiat Viterpan Unggas. Maka pada tanggal 6 Maret 2013 pesawat Lion Air menerbangkan kami ke Bandung dan dilanjutkan dengan bus ke Cianjur. Setiba di sana kami di sambut oleh seluruh awak PT. BMF dengan hangat. Pak Imam mengatakan bahwa kebetulan keesokan hari akan ada pertemuan seluruh peternak di Puncak. kami pun diajak.

Pertemuan itu diselenggarakan di Hotel Bukit Raya Talita – Cipanas, Puncak dengan sponsor sebuah perusahaan pakan ternak yang produknya juga dipakai PT. BMF selama ini. Kami berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan beberapa peternak yang hadir mengenai banyak hal termasuk soal Viterpan Unggas. Pertemuan berlangsung dengan semangat karena peternak mendapatkan banyak ilmu pengetahuan seputar peternakan ayam. Acara ini memang secara berkala diadakan sebagai ajang ramah tamah sekaligus pendidikan bagi mitra peternak, tegas Pak Imam.

Keesokan harinya, kami diajak berkeliling ke kandang-kandang peternak mitra PT. BMF di sekitar Cianjur, Bandung Barat dan Purwakarta. Salah satunya ke kandang milik Pak Usman di Cipatat, Bandung Barat. Peternak muda ini menyambut kami dengan keramahan khas orang Sunda. Cukup lama kami bertiga berbincang-bincang sambil berfoto dan bersyuting. Pak Usman telah 3 periode menjadi mitra dengan hasil yang selalu baik alias memuaskan. Atas Izin Allah dengan  memkai ViterpanUnggas selama 2 periode terakhir, ujarnya tersenyum. Hasilnya bau kandang jauh berkurang, sekam senantiasa kering (kandangnya postal 2 lantai), ayam tak mudah sakit, irit obat-obatan dan bobotnya oke.

Pak Imam menyebutkan bahwa Viterpan Unggas diberikan melalui air minum tanpa klorin/kaporit mulai umur 5 hari pada sore hari sampai pagi. Jadwal pemberiannya setiap saat ketika tidak ada program obat lainnya (waktu air putih). Karena PT. BMF mengkhususkan diri pada panen ayam kecil < 1 kg (umur 17-20 hari panen) maka kebutuhan Viterpan Unggas hanya 1 botol per 1.000 ekor ayam. Diakui bahwa penggunaan Viterpan Unggas sangat menghemat biaya obat-obatan secara keseluruhan. Biaya OVK cukup maksimal 350 rupiah per ekor, tegasnya.  Lanjut Pak Imam, guna meyakinkan tumbuh kembang ayam yang optimal peternak wajib serius menjaga masa pemanasan. Harus benar. Harus sempurna. Harus dijaga ayam nyaman dengan suhu kandang pada siang dan malam.

Menurut Pak Usman, dirinya betah bermitra dengan PT. BMF karena sistem kontrak dan waktu panennya menguntungkan kedua belah pihak dalam kondisi apapun (berbeda dengan perusahaan lain yang pernah diikutinya), kagum kepada Pak Imam yang meski Direktur PT. BMF tapi selalu rutin berkunjung dan menemui peternak bersama ayam-ayamnya (jarang ada sekelas pimpinan perusahaan yang mau masuk kandang) dan senang memakai Viterpan Unggas karena ayamnya bagus terus selama 2 periode (keuntungan panen sangat menggairahkan). Setiap chick-in jangan lupa Viterpan nya ya Pak Imam, katanya mengingatkan. Pak Imam mengacungkan jempolnya sambil tersenyum dan kami pun pamit.

Sumber : http://kandangclosedhouse.wordpress.com

Kreatif Miniatur Kayu


Di tengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan saat ini, tak sedikit penganggur yang bingung, stres, dan akhirnya putus asa. Padahal, begitu banyak hal di sekeliling kita yang bisa diusahakan menjadi sumber penghasilan. Untuk itu, yang diperlukan hanya sedikit kreativitas. Hiro Prabantoro (39 tahun) warga Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bisa menjadi salah satu sumber inspirasi. Selama sembilan tahun terakhir Hiro menekuni usaha mainan miniatur dari kayu. Produk yang dibuat Hiro bukan dari bahan baku kayu-kayu mahal, melainkan dari limbah kayu sisa industri furnitur dan kusen. Berbagai limbah kayu, mulai dari limbah kayu jati, mahoni, hingga nangka yang diperolehnya dari pengusaha furnitur setempat disulapnya menjadi berbagai mainan miniatur. Contohnya miniatur replika kendaraan tempur, pesawat, senjata, motor, mobil, dan pajangan hewan.

Dengan limbah kayu seharga Rp 300.000 per mobil, Hiro bisa menghasilkan 200-300 mainan miniatur. Pemasaran produk Hiro pun telah merambah lima benua. Produksi mainan miniatur itu telah dipasarkan di 22 negara. Harga yang dipatok oleh Hiro untuk mainan hasil karyanya mulai dari 10 dollar AS hingga 2.500 dollar AS per mainan. Omzetnya mencapai Rp 75 juta per bulan. Peminat mainan karya Hiro tidak main-main. Selain kolektor dari luar negeri, produk Hiro juga diminati oleh Pentagon, Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Melalui penjual perantaranya di negeri Paman Sam itu, Hiro memasok beberapa jenis miniatur kendaraan tempur sebagai suvenir bagi pejabat-pejabat di sana. Bahkan, pabrikan mobil ternama, Hummer, juga memesan miniatur karya Hiro untuk dijadikan model-model miniatur penjualan. Saat ini, Hiro tengah menyelesaikan pesanan replika mesin Ferrari GTB 365 dengan skala satu banding satu untuk seorang kolektor di Australia. Untuk pesanan tersebut, satu replika mesin dihargai Rp 15 juta.

Awalnya Hiro menggemari mainan miniatur dan replika sejak kecil. Minatnya terhadap mainan miniatur itulah yang menghantarkan Hiro pada usahanya saat ini. Hiro membuka usaha membuat miniatur dari kayu ini diberi nama CV Valkiarra pada tahun 2000. Saat membuka usaha itu, ia masih bekerja sebagai konsultan dalam sebuah program pendampingan usaha kecil di salah satu desa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. 

Setelah program pendampingan usaha kecil itu selesai, masyarakat meminta Hiro melanjutkan pengembangan usaha dengan menanamkan modalnya sendiri. 

Dengan modal awal Rp 5 juta ia bersama beberapa tenaga dari warga desa mulai menjalankan usaha itu. Hiro langsung memilih memasarkan produknya ke luar negeri melalui situs internet yang dibuatnya. Dari situ, peminat produknya mulai mengalir. Desain dan tingkat kedetailan miniatur yang dibuat Hiro pun semakin kompleks, mengikuti permintaan klien. 

Saat ini ia mempekerjakan 15 pegawai yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang, mulai dari desain prototipe, pemotongan, pemahatan, pembubutan, hingga pengecatan. Selain itu, tenaga kerja yang direkrut Hiro juga diharuskan memiliki kualifikasi kesabaran dan ketelitian tinggi. Hal ini dibutuhkan karena produk yang dibuat berukuran kecil dan sarat detail. Sampai saat ini, Hiro telah memproduksi lebih kurang 1.000 unit miniatur per bulan. Desain dan model miniatur yang dihasilkan selama ini sudah mencapai ratusan. Untuk jenis pesawat saja, Hiro telah membuat mulai dari wright brothers sampai jet tempur F-35. Total sudah sekitar 300 model. Hampir semua mainan miniatur dengan berbagai ukuran bisa dibuatnya. Namun, jenis yang paling sulit adalah panser atau tank karena banyaknya rincian struktur yang harus diperhatikan. Dari sasis, mesin, interior, sampai baut-baut terkecil harus dibuat semirip mungkin dengan bentuk aslinya. Selain itu, Hiro menuturkan, pembuatan miniatur replika tank membutuhkan banyak bahan baku, mencapai 2.000-3.000 potongan kayu. ”Waktu pengerjaan juga lama. Bisa mencapai satu bulan untuk mengerjakan 25 unit miniatur replika tank,” katanya.

Sumber :  http://inungfauziah.blogspot.com

Raih Omzet Rp4,3 Milyar dari Berjualan Telur Ayam


Keuletan, pantang menyerah, dan ketekunan. Tiga kekuatan itulah yang diramu Melati Fajarwati, pengusaha Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Wanita berusia 20 tahun itu sukses menjadi jutawan dengan berjualan telur. Melati mengaku bahwa omzet per tahun sudah mencapai Rp4,3 miliar. Usaha telur ayam ini menurutnya telah dipasarkan hingga ke pulau Jawa. Melati menilai bahwa peluang bisnis telur ayam organik di pasar masih terbuka lebar, terutama telur dari jenis ayam Arab atau ayam Balqis. Maka dia pun mencoba peluang bisnis gemilang itu. "Kalimantan Barat masih mempunyai lahan yang luas untuk membangun usaha peternakan. Lagi pula tidak terlalu sulit pengembangannya," ujar Melati dalam seminar bertajuk 'Inovasi Tanpa Batas'  di hotel Aston Pontianak, Sabtu 23 Maret 2013.

Melati, mengawali bisnisnya dengan mengikuti lomba kewirausahaan yang diadakan oleh Direktorat Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan. Dia terinspirasi dari peternakan ayam balqis milik tetangganya.  "Saya melihat peluangnya cukup bagus, tetapi belum terkelola dengan baik," kata Melati. Melati lantas membuat perencanaan bisnis dan memproyeksikan peluang usaha ini. Tak disangka, business plan yang diajukannya ternyata disetujui dan dibantu untuk mewujudkannya. Beranjak dari usahanya ini, Melati kemudian mengikuti lomba kewirausahaan yang diadakan Bank Mandiri. Hasilnya, ia tampil sebagai pemenangnya. Uang hadiah lomba ini lalu digunakan kembali sebagai tambahan modal pengembangan dan penguatan usahanya. "Kini saya bisa menghasilkan lebih dari 4 ribu  butir telur per hari dengan harga Rp2.500 per butirnya," ujar wanita berkerudung ini. 

Dalam sehari, lanjut Melati, tak kurang dari Rp10 juta keuntungan bersih diraihnya.  Setahun, omzet Melati bisa mencapai Rp4,3 miliar. Peternakan Melati, di kawasan Parit Wak Liji, Kabupaten Kubu Raya, telah membawanya menjadi jutawan dalam usia muda.
Sumber : bisnis.news.viva.co.id

Petani Karet Sukses dari Kutai Barat


Tarsim (60), warga Kampung Sumber Bangun, Kecamatan Sekolaq Darat, Kubar, hanya satu dari ratusan petani di Kubar yang sudah bisa merasakan manfaat berkebun karet. 

Hanya bermodalkan lahan seluas kurang lebih 4 hektar, Tarmin, bisa meraih penghasilan Rp16 juta sebulan atau Rp 4 juta per minggu. Padahal, usaha kebun karet tersebut bagi Tarsim hanyalah usaha sampingan. Usaha utamanya jasa perbengkelan dan toko bahan bangunan yang telah ia limpahkan ke putranya, Fajar. "Penghasilan sebesar itu termasuk standar untuk ukuran petani karet di Kubar. Kalau perawatannya lebih bagus, hasilnya juga jauh lebih besar," jelas Fajar.

Ketika Kaltim Post bertandang ke salah satu kabun karet milik Tarsim yang berdampingan Kantor Perwakilan Kaltim Post Kubar. Di lahan seluas kurang 1 hektare dan ditumbuhi sekitar 600 pohon karet, beberapa pekerja tampak sibuk mengambil getah dengan cara menoreh kulit batang. Sementara Fajar dan istrinya, juga ikut membantu kerja anak buahnya.

Menjelang pukul 09.00 Wita, tengkulak datang lengkap dengan alat timbangan. Si tengkulak hanya menyebutkan harga belinya yakni Rp 8000 per kilogramnya dan tanpa tawar menawar, panen getah karet milik Tarsim langsung ditimbang. Proses transaksi dilakukan di bawah pohon karet, Minggu (8/6) sekitar pukul 09.00 Wita kemarin.

Pagi itu, panen getah karet Tarsim mencapai 2,4 kwintal atau sekitar 200,4 kilogram. Artinya, pagi itu Tarsim diwakili putranya Fajar dan menantunya bisa membawa pulang uang hasil penjualan getah karet Rp 2,6 juta. "Tapi, sebagian hasilnya disisihkan buat upah pekerja. Kebetulan pekerjanya karyawan bengkel dan toko bangunan saya sendiri. Hitung-hitung tambahan uang rokok," beber Fajar.

Tarsim tertarik berkebun karet, selain perawatannya mudah hasilnya juga menggiurkan.
"Kunci sukses berkebun karet, selain ketepatan memilih bibit, perawatan telaten (terutama menjaga kebersihan kebun dan rutin melakukan pemupukan,Red.), paling terpenting pekerja harus tahu teknik menoreh pohon karet yang benar," jelasnya. Dijelaskan, agar pohon karet bisa berproduksi lama ketika menoreh kulit pohon karetnya harus diusahakan tidak sampai mengenai bagian batang. Kalau hal ini diabaikan, masa produksi pohon karetnya tidak bakal bertahan lama.

Sumber : http://perkebunan.kaltimprov.go.id

Wirausahaan Keramik


F. Widayanto adalah seorang seniman keramik terkenal dari Indonesia. Awalnya keinginan untuk menekuni dunia keramik, bertentangan dengan keinginan kedua orang tuanya. Pada tahun 1983 F.Widayanto memulai awalnya bisnisnya. Dengan kegigihan beliau tetap menajalani mimpinya tersebut sampai akhirnya beliau berhasil menjadi seorang entrepreneur pada bidang seni  keramik ini. Bermula dengan berkualiah di ITB , saat ini Beliau sudah memiliki beberapa outlet atau showroom di beberapa daerah Jabodetabek. Kunci suksesnya adalah bekerja pada bidang usaha yang disukainya. Walaupun usahanya sudah dijadikan semacam bisnis tetapi hal yang paling ia perhatikan adalah design dan product. Dan saat ini F.Widayanto melakukan kerja sama dengan sebuah perusahaan Jepang bernama Kobayashi.

        Dimulai dari mimpi dilanjutkan dengan kerja keras dan juga konsisten. Setiap halangan yang dihadapi pun dijadikan sebagai pelajaran untuk membuat kita dapat lebih lebih mawas diri. Dan setelah kita berhasil , janganlah terlena karena kesusahna dan kesenangan datang silih berganti. Dalam setiap usaha pasti ada pesaing, dan hal ini membuat kita menjadi perlu bekerja dan bekerja lagi agar dapat lebih dari para pesaing kita. Art dan bisnis adalah sesuatu yang side by side, karena itu kita memerlukan orang-orang yang dapat dipercaya untuk dapat menjalankan bisnis kita. Bagaimana pun juga orang-orang yang dimanage untuk menjalankan usaha kita adalah perpanjangan tangan kita.

Visi juga merupakn unsur paling penting dalam membuat suatu bisnis.  Keramik berasal dari tanah liat, dan visi dari seorang F.widayanto dulunya adalah, bagaimana caranya agar tanah liat ini dapat menjadi kebutuhan masyarakat nantinya. Dengan kata lain membuat sesuatu biasa menjadi luar biasa, dengan menambahkan nilai artistik. Kita pun harus memiliki mimpi dalam mimpi kita, agar kita berusaha lebih untuk menggapai mimpi kita.

Jiwa entrepreneur adalah jiwa perjuangan , jiwa tanpa putus asa, dan keberanian dalam mengambil sesuatu yang beda. Sesuatu yang kita punya , itulah yang kita inginkan. Sesuatu yang sederhana itulah yang mengingatkan kita, bekerja dulu, baru menikmati hasilnya. Tapi kembali lagi, jangan mudah terlena dan tetap sederhana.

Dalam usahanya, F.Widyanto mendidik karyawannya secara professional, dengan mengajarkan cara pembuatan dan basic yang sama, melakukan sesuatu sesuai dengan keahlian mereka. Ide yang dimiliki pun selalu berkembang, ide dapat diperoleh dimana saja dan dari siapa saja, maka dari itu selalu hormatilah dan mendengarkan ide dari orang lain. Membuat suatu karya haruslah menyentuh hati , menjual sesuatu yang personal secara personal. Menjual product dengan knowledge untuk membuat orang mendapatkan knowledge.

Mission dari Widayanto : membuat usaha ini terus berjalan, dengan management yang baik.walau beliau sudah tidak ada lagi nantinya, tetapi namanya masi tetap bisa dijual, jadi diperlukan mendidik orang sebagai penerusnya kelak.

Untuk dapat tetap berhasil dalam situasi krisis ini  adalah, terus berkreasi dan terus yakin. Kita harus punya golongan pembeli tersendiri. Bagaimana kita memperkenalkan product kita sendiri  dan membuat orang menjadi loyal dengan brand kita.

Banyak seniman keramik lain yang tidak berhasil dalam menjalankan bisnis keramik ini , karena tidak adanya visi dan perjuangan . Keramik sendiri adalah  hal yang penuh perjuangan sama halnya dengan proses hidup, jika salah kita harus mulai lagi dari awal. Kuncinya adalah Jangan menyerah.

Sumber : indahpermatasari.blogspot.com

Sukses Pengusaha dengan Modal Nol


Pernahkah anda membayangkan seorang tukang sapu yang bekerja membersihkan jalanan dari sampah dan dedaunan. Atau pernahkah anda membayangkan seorang tukang kuli bangunan yang harus bekerja banting tulang menghadapi panasnya terik sinar matahari demi menafkahi keluarga. Tentu saja anda tidak pernah melirik orang seperti ini.

Tapi pernahkah anda berpikir orang seperti yang tersebut di atas kini menjadi seorang pengusaha sukses yang memiliki omset hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya. Mungkin anda akan terkagum-kagum atau cuma bisa melohok melihatnya.

Begitulah yang terjadi pada Tri Sumono yang kini lewat perusahaan CV 3 Jaya, ia mengelola banyak cabang usaha, antara lain, produksi kopi jahe sachet merek Hootri, toko sembako, peternakan burung, serta pertanian padi dan jahe. Bisnis lainnya, penyediaan jasa pengadaan alat tulis kantor (ATK) ke berbagai perusahaan, serta menjadi franchise produk Ice Cream Campina.

Dari berbagai lini usahanya itu, ia bisa meraup omzet hingga Rp 500 juta per bulan. Pria kelahiran Gunung Kidul, 7 Mei 1973, ini mengaku tak pernah berpikir hidupnya bakal enak seperti sekarang. Terlebih ketika ia mengenang masa-masa awal kedatangannya ke Jakarta. Mulai merantau ke Jakarta pada 1993, pria yang hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA) ini sama sekali tidak memiliki keahlian.

Ia nekat mengadu nasib ke Ibu Kota dengan hanya membawa tas berisi kaus dan ijazah SMA. Untuk bertahan hidup di Jakarta, ia pun tidak memilih-milih pekerjaan. Bahkan, pertama bekerja di Jakarta, Tri menjadi buruh bangunan di Ciledug, Jakarta Selatan. Namun, pekerjaan kasar itu tak lama dijalaninya. Tak lama menjadi kuli bangunan, Tri mendapat tawaran menjadi tukang sapu di kantor Kompas Gramedia di Palmerah, Jakarta Barat.

Tanpa pikir panjang, tawaran itu langsung diambilnya. “Pekerjaan sebagai tukang sapu lebih mudah ketimbang jadi buruh bangunan,” jelasnya.Lantaran kinerjanya memuaskan, kariernya pun naik dari tukang sapu menjadi office boy. Dari situ, kariernya kembali menanjak menjadi tenaga pemasar dan juga penanggung jawab gudang.

Pada tahun 1995, ia mencoba mencari tambahan pendapatan dengan berjualan aksesori di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Saat itu, Tri sudah berkeluarga dengan dua orang anak. Selama empat tahun Tri Sumono berjualan produk-produk aksesori, seperti jepit rambut, kalung, dan gelang di Jakarta. Berbekal pengalaman dagang itu, tekadnya untuk terjun ke dunia bisnis semakin kuat. “Saya dagang aksesori seperti jepit rambut, kalung, dan gelang dengan modal Rp 100.000,” jelasnya.

Setiap Sabtu-Minggu, Tri rutin menggelar lapak di Stadion Gelora Bung Karno. Dua tahun berjualan, modal dagangannya mulai terkumpul lumayan banyak. Dari sanalah ia kemudian berpikir bahwa berdagang ternyata lebih menjanjikan ketimbang menjadi karyawan dengan gaji pas-pasan. Makanya, pada tahun 1997, ia memutuskan mundur dari pekerjaannya dan fokus untuk berjualan.

Berbekal uang hasil jualan selama dua tahun di Gelora Bung Karno, Tri berhasil membeli sebuah kios di Mal Graha Cijantung. “Setelah pindah ke Cijantung, bisnis aksesori ini meningkat tajam,” ujarnya.

Tahun 1999, ada seseorang yang menawar kios beserta usahanya dengan harga mahal. Mendapat tawaran menarik, Tri kemudian menjual kiosnya itu. Dari hasil penjualan kios ditambah tabungan selama ia berdagang, ia kemudian membeli sebuah rumah di Pondok Ungu, Bekasi Utara. Di tempat baru inilah, perjalanan bisnis Tri dimulai.

Pengalaman berjualan aksesori sangat berbekas bagi Tri Sumono. Ia pun merintis usaha toko sembako dan kontrakan. Sejak itu, naluri bisnisnya semakin kuat. Saat itu, ia langsung membidik usaha toko sembako. Ia melihat, peluang bisnis ini lumayan menjanjikan karena, ke depan, daerah tempatnya bermukim itu bakal berkembang dan ramai. “Tapi tahun 1999, waktu saya buka toko sembako itu masih sepi,” ujarnya.

Namun, Tri tak kehabisan akal. Supaya kawasan tempatnya tinggal kian ramai, ia kemudian membangun sebanyak 10 rumah kontrakan dengan harga miring. Rumah kontrakan ini diperuntukkan bagi pedagang keliling, seperti penjual bakso, siomai, dan gorengan. Selain mendapat pemasukan baru dari usaha kontrakan, para pedagang itu juga menjadi pelanggan tetap toko sembakonya. “Cara itu ampuh dan banyak warga di luar Pondok Ungu mulai mengenal toko kami,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, naluri bisnisnya semakin kuat. Tahun 2006, Tri melihat peluang bisnis sari kelapa. Tertarik dengan peluang itu, ia memutuskan untuk mendalami proses pembuatan sari kelapa. Dari informasi yang didapatnya diketahui bahwa sari kelapa merupakan hasil fermentasi air kelapa oleh bakteri Acetobacter xylium. Untuk keperluan produksi sari kelapa ini, ia membeli bakteri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor. “Tahap awal saya membuat 200 nampan sari kelapa,” ujarnya.

Sari kelapa buatannya itu dipasarkan ke sejumlah perusahaan minuman. Beberapa perusahaan mau menampung sari kelapanya. Tetapi, itu tidak lama. Lantaran kualitas sari kelapa produksinya menurun, beberapa perusahaan tidak mau lagi membeli. Ia pun berhenti memproduksi dan memutuskan untuk belajar lagi.

Untuk meningkatkan kualitas sari kelapa, ia mencoba berguru ke seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB). Mulanya, dosen itu enggan mengajarinya karena menilai Tri bakal kesulitan memahami bahasa ilmiah dalam pembuatan sari kelapa. “Tanpa sekolah, kamu sulit menjadi produsen sari kelapa,” kata Tri menirukan ucapan dosen kala itu.

Namun, melihat keseriusan Tri, akhirnya sang dosen pun luluh dan mau memberikan les privat setiap hari Sabtu dan Minggu selama dua bulan. Setelah melalui serangkaian uji coba dengan hasil yang bagus, Tri pun melanjutkan kembali produksi sari kelapanya. Saat itu, ia langsung memproduksi 10.000 nampan atau senilai Rp 70 juta. Hasilnya lumayan memuaskan. Beberapa perusahaan bersedia menyerap produk sari kelapanya. Sejak itu, perjalanan bisnisnya terus berkembang dan maju.

Demikian kisah motivatif tentang Tri Sumono yang membuktikan bahwa dengan ketekunan dan kerja keras pasti bisa meraih setiap apa yang di impikan dan cita-citakan. Semoga kisah di atas bisa menjadi sebuah isnpirasi bagi kita semua.

Sumber : majalahinovasi.com

Label