Senin, 29 Juli 2013

Bisnis Kerupuk Padang Pasir

Usaha keras Bambang Suparno (49), warga Dusun Jeruk, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ini patut diacungi jempol. Dari usahanya berdagang kerupuk goreng pasir, mantan buruh migran ini dapat mengantongi omzet hingga Rp 90 juta per bulan.

Pekerjaan yang dilakukan Bambang adalah menggoreng kerupuk tanpa minyak. Ia mengganti minyak goreng dengan pasir halus hasil penyaringan. Dengan bantuan pengapian, kerupuk tetap mekar. Cara penggorengan inilah yang membuat jenis kerupuk ini disebut kerupuk padang pasir.

Kerupuk yang digoreng dengan teknik ini rasanya akan sedikit berbeda jika dibandingkan dengan yang menggunakan minyak goreng. Kelebihan lain adalah rendah kolesterol dan tentu saja lebih hemat dalam menekan biaya produksi. Bahkan, risiko untuk melempem dapat ditekan karena dapat didaur ulang.

Varian rasanya juga bernacam-macam. Setidaknya ada tujuh rasa yang dibuat oleh pria yang memulai usahanya sejak tahun 2001 ini. Ada rasa pedas, manis, pedas manis, terasi, rujak, seledri, bawang, serta ubi. Pemberian rasa dilakukan dengan dua cara, yaitu bumbu dicampur dengan kerupuk sebelum digoreng atau dicampur setelah digoreng.

Kerupuk yang selesai digoreng kemudian dikemas dalam plastik ukuran setengah kilogram dan panjang 30-40 sentimeter. Setiap bungkus ukuran besar ia jual seharga Rp 1.000-Rp 2.500. Tiap rasa juga memengaruhi harga.

Kerupuk yang sudah dikemas kemudian dikirim kepada agennya yang tersebar di beberapa kota, seperti Kediri, Nganjuk, Kertosono, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Ngawi, Malang, dan Sidoarjo. Agen tersebut adalah pedagang di pusat oleh-oleh di kota masing-masing.

Bambang termasuk pengusaha yang ulet dalam bekerja. Untuk usahanya itu, ia hanya mempekerjakan empat tenaga pria yang bertugas mulai dari menjemur kerupuk hingga menggoreng. Pengemasan dilakukan oleh istri dan enam anaknya serta beberapa tenaga borongan yang juga para tetangganya.

“Kalau saya sendiri bertugas di pengaturan serta pengiriman barang ke kota-kota,” kata pemilik usaha penggorengan kerupuk padang pasir dengan merek Arofah ini, Senin (4/6/2012). Perkembangan usahanya lumayan bagus. Pada awal memulainya, ia hanya memproduksi 30 kilogram kerupuk dan itu pun untuk beberapa hari. Karena permintaan yang selalu ada, ia terus terpacu untuk mengembangkan usahanya sehingga kini produksi per hari mencapai 2,5 kuintal.

“Kalau tentang omzet begini saja, harga bahan kerupuknya per kilo Rp.12.000, lalu kalikan 250 kilogram, dikali lagi selama 30 hari. Berapa itu hasilnya, silakan dikira-kira sendiri,” ungkapnya.

Menemukan jenis usaha ini bukanlah jalan yang mudah baginya. Beberapa profesi pernah ia jalani, mulai dari kuli bangunan di negeri seberang hingga penjual bakso keliling. Pernah pula ia hendak berdagang oli pelumas sesuai ajakan rekannya, tetapi urung dilakukan karena khawatir dengan risikonya.

“Saya berjualan kerupuk karena melihat saudara saya ada di bidang ini. Setelah saya pelajari, saya menjadi yakin sehingga saya ikut terjun,” tutur Bambang sambil mengingat masa lalunya.

Sumber : inspirasiusahasukses.wordpress.com

Sukses Bisnis Bedcover Unik

Bukan hanya orang dewasa yang mendambakan kamar nyaman, anak-anak pun senang kalau kamarnya berhiaskan gambar-gambar kartun yang mereka suka. Sama-sama punya balita, tiga ibu muda: Dinar Esfandiari Santoso (38), Ira Karmawan (39), dan Rani Soegeng (38), berkolaborasi membentuk Simply Idea, yang menyediakan perlengkapan kamar tidur anak. Ide mereka sederhana, tapi bisnis ini tidak sesederhana itu. Halangan demi halangan singgah, tapi mereka tak menyerah. Malah, untuk memajukan usaha, mereka tak ragu berinvestasi lebih dengan menyewa tenaga konsultan ahli. 

Tiga bersahabat ini melihat, pemain di bisnis bedding kebanyakan dari luar negeri dan sudah memiliki nama besar. Karena itulah, mereka tak ragu terjun untuk menjadi pemain lokal yang unggul di bisnis ini. Namun, keberanian saja tidak cukup. Belum juga dimulai, rintangan sudah menghadang. Mencari pegawai yang berkualitas ternyata tidak mudah. “Kami harus berburu SDM yang memiliki keterampilan menjahit dan mengaplikasikan bordir sesuai standar kualitas yang telah kami tetapkan,” ungkap Dinar, yang menggunakan bahan polos dan memberi aplikasi lucu kesukaan anak-anak. Aplikasi inilah yang kemudian menjadi ciri khas Simply Idea.

Satu masalah teratasi, masalah berikutnya hadir: kehabisan modal. Mereka memang belum mau meminjam dari bank, karena merasa belum sanggup berekspansi lebih luas. “Selain ada bunganya, kalau ada uang, kami takut jadi terlalu gampang mengeluarkan uang, sementara kemampuan mengembalikan belum sampai di situ. Akhirnya, karena kebaikan hati seorang anggota keluarga dari partner, kami dipinjami suntikan dana, boleh nyicil tanpa bunga,” cerita Dinar. 

Tak punya background ilmu bisnis, mereka mencari-cari sendiri celah untuk memasarkan produk. Beberapa kali mereka ikut bazar yang diadakan asosiasi asing di Jakarta. Tak hanya mendapatkan konsumen, mereka berkenalan dengan peserta bazar lain dan mendapat info tentang bazar mingguan yang diadakan sebuah mal. Di sanalah nama Simply Idea mulai dikenal. “Kami lalu memikirkan cara memperluas pasar. Coba-coba, kami hubungi sebuah department store. Kebetulan, produk bedding seperti yang kami buat, belum ada di sana. Mereka tertarik, namun syaratnya, dalam waktu satu bulan kami harus melakukan beberapa revisi, sebelum produk kami bisa dipasarkan di situ, misalnya soal packaging dan cara mencuci,” tutur Dinar, yang waktu itu tak mengerti persyaratan masuk ke department store.  

Dalam berbisnis, friksi-friksi kecil di antara partner, sih, dianggap biasa. Menyatukan gagasan dari tiga kepala sudah pasti tidak mudah. Justru, mereka tak bisa membayangkan harus mengarungi perjalanan bisnis tersebut tanpa didampingi partner. Dan, mereka memang saling mengisi. Sejak awal, masing-masing sudah memilih divisi yang sesuai dengan bidang yang disenangi. “Saya menangani marketing, Rani bertanggung jawab untuk produksi, sedangkan Ira mengurus keuangan dan kepegawaian,” tutur Dinar, yang bercerita bahwa mereka bekerja secara profesional.

Menjaga hubungan baik dengan pelanggan, sangat penting artinya bagi tiga sekawan ini. Karena itu, mereka menyediakan layanan purnajual sebagai bagian dari komitmen untuk memuaskan konsumen. Bentuk layanan itu misalnya membetulkan renda bedcover yang terlepas. Tampaknya sepele, namun layanan ini membuat pelanggan Simply Idea merasa diperhatikan dan dimudahkan. “Bagusnya, hingga kini, tak banyak yang menggunakan layanan ini. Karena, produk kami berkualitas tinggi, baik dari jenis kainnya maupun kerapian jahitan di setiap bentuk aplikasinya,” kata Dinar, yang menetapkan syarat dan ketentuan untuk layanan purnajual tersebut. 

Setiap 3 bulan, mereka meluncurkan produk baru. Kalaupun mereka merilis produk dengan tema yang sama, motif yang ditampilkan pasti berbeda. Misalnya, tema mobil balap. Jika sebelumnya menampilkan motif mobil A, kini pakai motif mobil B. Bisa juga mereka merilis tema baru, contohnya princess. Semua aplikasi serba princess, dari seprai sampai kelambu, lengkap dengan aplikasi bergambar tongkat peri. Sehingga, saat akan tidur, anak itu seolah sedang berada di kastil, merasa jadi princess betulan. 

Lalu, bagaimana dengan produk di department store yang belum terjual? “Ditarik, lalu kami gelar big sale selama 4 hari. Wah… yang datang banyak banget,” tutur Dinar, senang. 


Dari keinginan memanjakan konsumen, mereka juga bisa membuat produk custom made. Biasanya, konsumennya adalah ibu-ibu yang ingin mengisi kamar anaknya. “Jatuhnya memang jadi lebih mahal, karena harus membuat pola baru. Desainnya bisa mereka gambar sendiri atau kami yang membuatkan,” kata Dinar, yang membolehkan orang memesan via website tanpa minimum order. 

Karena banyak permintaan, sejak tahun 2006 Simply Idea membuat mukena untuk anak, tetap dengan aplikasinya yang khas. Reaksi pasar luar biasa baik. Setiap awal tahun mereka menyiapkan produk mukena baru. “Dua tahun lalu, buyer menantang kami untuk membuat baju muslim anak. Kami segera mencari konfeksi yang berbeda dari konfeksi untuk pembuatan mukena. Sayangnya, karena tak mau kehilangan order, konfeksi itu melemparkan ke konfeksi lain. Hasilnya benar-benar tidak sesuai. Saat itu kami mengalami kerugian besar,” kisah Dinar, yang ketika itu gagal menyerahkan produk kepada buyer   tepat waktu.

Meski produk Simply Idea lucu-lucu, bukan berarti mereka main-main dalam berbisnis. Tak tanggung-tanggung, mereka menyewa konsultan bisnis dan keuangan, yang membantu meraih sederet target yang telah dirancang. “Konsultan itu juga mengarahkan kami dalam berstrategi, menerapkan sistem marketing paling efektif, membenahi keuangan, bahkan memotivasi kami untuk terus maju,” kata Dinar, yang baru menyadari, mereka bisa menerapkan profit sharing, setelah keuangan usaha benar-benar sehat. 

Salah satu hasil dari konsultasi tersebut, sejak beberapa bulan lalu Simply Idea menambah kekuatan lewat sistem marketing online dan offline. Divisi online lebih banyak bersentuhan dengan konsumen, misalnya memberi info tentang produk terbaru, mencari tahu animo pasar terhadap produk mereka, dan mengumpulkan konsumen ketika ada event besar semacam Inacraft atau big sale. “Sedangkan marketing offline bertugas menjual produk kepada konsumen yang tidak dapat dijangkau oleh sistem online, yang biasanya membeli dalam jumlah besar. Untuk melakukan terobosan  pasar di dalam dan  luar kota, manajer departemen ini secara bertahap akan punya 5 kaki tangan alias downline. Berbeda dari MLM, sistem marketing ini hanya punya satu layer kaki saja,” ungkap Dinar. 

Mereka bertiga pernah mengungkapkan mimpi memiliki butik sendiri. Masalahnya hanya satu, yaitu mendapatkan lokasi yang sesuai target pasar. Mereka ingin, lokasinya dilewati banyak calon konsumen berdaya beli tinggi, yang tergolong impulsive shopper. Mengapa ingin punya butik? Toh, karya mereka  sudah masuk di department store ternama dan dipajang di beberapa retail store. “Di butik itu, kami bisa lebih mengembangkan desain dan produk yang lebih variatif lagi. Konsep butik yang kami inginkan adalah toko yang cozy, simpel, clean, dan didesain dalam bentuk kamar tidur anak yang cantik,” cerita Dinar. 

Sudah selama 5 tahun Simply Idea bekerja sama dengan Mothercare Indonesia, yang seluruh produknya didatangkan dari Inggris. “Mereka membuka kerja sama dengan perusahaan lokal, untuk menjual produk yang tidak didatangkan dari Inggris. “Misalnya, kelambu. Orang Inggris kan nggak kenal kelambu atau bedong. Hanya, kelambu itu harus disesuaikan warnanya dengan boks bayi yang diterbangkan dari Inggris. Ditambah lagi, produk yang kami desain khusus untuk Mothercare Indonesia, tidak boleh ada di tempat lain,” kata Dinar, yang juga menjalankan sistem kerja sama konsinyasi dengan beberapa retail. 

Tawaran kerja sama dari luar negeri, seperti dari Australia dan Selandia Baru, terus mengalir. Jumlahnya selalu bertambah. Tentunya, menjaring buyer dari luar negeri akan memperkuat arus keuntungan. Sayangnya, sampai saat ini kerja sama itu belum bisa terwujud. “Ada beberapa kesepakatan yang sudah tercapai, misalnya tentang desain produk. Hanya, soal harga, masih juga belum ada kata sepakat. Inilah yang menjadi satu-satunya kendala. Untuk mengantisipasi masalah ini, kami sedang menyiapkan suatu konsep kerja sama baru, yang nantinya akan kami tawarkan lagi kepada para buyer asing tersebut. Bentuk kerja sama: beli putus, dengan keuntungan berimbang antara buyer dan produsen,” kata Dinar. 

Sumber : wanitawirausaha.femina.co.id

Minggu, 28 Juli 2013

Bisnis Camilan Opak

Dulu, untuk mekan sehari-hari saja sangat sulit. Bahkan Lailatin Afiffah (36) dan keluarga pernah berhutang beras kepada tetangga untuk makan sehari-hari. Itulah problem ekonomi yang dialami Afifah selama bertahun-tahun. Tapi kini warga dusun Sarimulyo, Kliber, Mojotengah, Wonosobo ini bisa dibilang telah menjadi pengusaha camilan opak singkong yang sukses, dengan omzet olahannya perbulan rata-rata Rp 30 juta.

Pada awal kehidupan rumah tangganya, Affifah didera berbagai kesulitan ekonomi. Kendati demikian, ia tetap tabah dan pantang mengeluh bahkan menangis di depan suami. “Saya tak ingin mengeluh urusan dapur di depan suami. Bagaimana pun jika sampai mengeluh justru hanya akan membuat suami kian pusing dan terbebani. Jadi, saya tetap berupaya mencari solusi sendiri,” kenangnya. 

Puncaknya terjadi pada tahun 2006. “Saat itu bulan Agustus, kebetulan anak nomor tiga harus diimunisasi polio, keesokkan harinya. Akan tetapi di dompet saya hanya tersisa uang Rp 3.000. Untuk makan hari itu, terpaksa saya harus pinjam beras pada tetengga. Dalam hati saya berdoa dengan sungguh-sungguh agar diberi pertolongan Alloh, melalui siapa saja dan apa saja,“ lanjut Affifah. Tak lama berselang, tiba-tiba seekor burung nyasar masuk ke dalam ruang tamu Affifah dan bertengger di atas meja. “Ya, memang aneh. Barangkali karena kala itu dinding rumah saya masih berlobang-lobang (yang terbuat dari anyaman bambu), sehingga memungkinkan burung nyasar ke dalam rumah.

 Namun saya yakin, burung ini adalah bagian dari jawaban Alloh atas doa saya. Dan benar saja, setelah ditangkap suami dan ditawarkan, burung berjenis anis itu ternyata bisa laku Rp 100 ribu, sehingga bisa untuk menebus hutang beras saya. Dan di saat itu pula untuk pertama kalinya saya menangis di depan suami karena saking terharunya,” kenang Afiffah.

Berawal dari peristiwa tersebut, maka afiffah makin getol untuk tulus berdoa dan tak lupa Afiffah selalu mendorong suaminya agar giat bekerja sebagai buruh bangunan. Disaat order buruh sepi, Mahrur (40), suami Afiffah juga giat bekerja sambilan membuat perabotan rumah tangga, seperti kursi, lemari, meja, dan kusen pintu/jendela. Selain memproduksi alat-alat rumah tangga, suaminya juga kerap menerima order reparasi. Silih berganti orang datang untuk membetulkan barang-barang rumah tangga yang terbuat dari kayu. 

Di tengah kondisi perekonomiannya yang mulai membaik tersebut, tiba-tiba musibah datang lagi. Alat pertukangan Mahrur yang dipakai bekerja sehari-hari dicuri maling termasuk alat-alat bermesin seperti serutan kayu yang ironisnya masih berstatus hutang senilai Rp 1,7 juta. “Jadi rumah saya yang masih berlobang-lobang tersebut dimanfaatkan pencuri untuk masuk dan mengambil alat-alat pertukangan milik suami,” kata Afiffah. Ujung-ujungnya mudah ditebak.

Tanpa alat-alat dan tanpa modal, sang suami kembali menjadi pengangguran. Namun tak berselang lama ia dan suami justru menemukan bisnis baru yakni: Jualan Opak Singkong! Idenya justru berawal dari ketidaksengajaan. Kala itu, seorang adiknya yang tinggal di beda kecamatan memesan opak sebanyak 15 kg seharga Rp 85 ribu dan Afiffah diminta mengambil pesanan di waktu yang telah ditentukan. Namun karena pembuat opak tak berada di rumah, atas inisiatif sendiri ia mengalihkan untuk mengambil dari tempat usaha lain. 

Tak pelak hal itu menyebabkan pembuat opak singkong yang pertama kali dipesani merasa dirugikan karena telah terlanjur membikin pesanan untuk adiknya tersebut. Sehingga pembuat opak singkong berharap agar barangnya tetap dibeli, walaupun hanya beberapa kilogram. Dilatarbelakangi rasa belas kasihan kepada perajin itulah kemudian Afiffah membeli opak singkong dengan uang pinjaman. Setelah dibeli, opak singkong tersebut lali di-packing dalam berbagai ukuran kemudian dijajakan keliling oleh suaminya. Dan sungguh diluar dugaan, opak singkong seharga Rp 85 ribu tersebut laku keras hanya dalam tempo sehari dan memperoleh keuntungan bersih Rp 55 ribu.

Sumber : iniopiniku.com

Jumat, 26 Juli 2013

Jatuh Bangun Bambang Krista, Bos Ayam Kampung Super

Permintaan terhadap daging ayam kampung di daerah perkotaan sangat tinggi. Dan tidak diragukan lagi potensi bisnis nya begitu tinggi. Entrepreneur satu ini mencium dan memanfaatkan peluang bisnis ini dengan baik.

Bambang Krista, seorang entrepreneur asal Solo yang tinggal di Bekasi, dengan sigap menangkap peluang ini dengan mendirikan sebuah bisnis peternakan bernama " Citra Lestari Farm " seluas 6 ha dan membangun jaringan bisnis ayam kampung di daerah Jabodetabek. Tak kurang 5 ribu ekor ayam dan 10 ribu telur ayam ia mampu jual tiap minggu. Yang ia pasok berupa banyak jenis produk, dari ayam kampung siap potong, telur ayam kampung hingga bibit ayam kampung. Untuk produk daily old chicken (DOC) perusahaan Bambang sanggup menghasilkan 7 hingga 10 ribu ekor untuk tiap minggu. Tak ayal, omset mingguan puluhan juta pun ia raup. "Omset kami mencapai Rp 20 juta per minggu," terangnya.

Sebelum berwirausaha, pria 48 tahun ini sudah banyak makan asam garam di dunia peternakan ayam. Sejak tahun 1989 ia sudah mulai bekerja sebagai tenaga ahli di peternakan ayam broiler di Jakarta Timur. Usaha tempatnya bekerja itu kolaps di saat krisis 1998 dan ia terpaksa mencari nafkah dengan berdagang sembako. Ia mendapat tawaran beternak dengan seorang rekan di tahun 1999 dan berhasil mengecap untung meski akhirnya tahun 2003 usahanya kembali runtuh karena krisis Asia. Tahun 2008 ia kembali menapaki bisnis peternakan ayam namun kali ini bukan ayam broiler yang rentan krisis.

Bagaimana ia merintis bisnis tersebut? Awalnya lulusan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro itu memiliki niat yang tinggi untuk berbisnis . Bambang mengaku telah melakukan banyak persiapan matang sebelum terjun dalam bisnis peternakan ayam ini. Salah satu aspek yang ia persiapkan ialah kualitas bibit ayam kampung yang baik. Untuk itu, Bambang tak segan turun ke lapangan demi menemukan jenis induk berkualitas bagus.

Riset yang mendalam tentang kualitas induk ayam kampung mengantarnya pada DOC ayam kampung super yang siap panen hanya dalam 2 bulan. Ketekunannya teruji saat itu karena ia harus menempuh uji coba sebanyak 6 kali demi mendapatkan DOC ayam kampung super tersebut. Jadi dapat dikatakan aral yang melintang dalam perjalanan awalnya sebagai entrepreneur tidak sedikit. Banyak waktu dan tenaga serta uang tersedot ke dalamnya.

Dengan berbekal temuannya, Bambang melangkah mantap untuk membangun usaha peternakan ayam kampung di Bekasi. Tak cuma menghasilkan ayam kampung, ia juga melaksanakan upaya pembibitan sehingga dapat dijual kembali ke peternak lainnya yang ternyata juga menggemari ayam kampung supernya itu. Dari aspek produksi, jelas ia berada di atas angin dibandingkan para pesaingnya plus harga jual ayam kampung yang lebih baik. Di pasar, selisihnya bisa mencapai Rp 9.000 per kilogram. Tentu ini menggiurkan bagi para pengusaha lain.

Setelah sukses, Bambang melakukan upaya CSR dengan membina sejumlah peternak yang bersedia dibina di Jonggol, Bogor. Daripada hanya berdagang, kini mereka juga diajari memproduksi ayam kampung. Dengan modal DOC dari Bambang, peternak binaan ini merawat semua ayam itu dan setelah siap panen, Bambang akan bantu memasarkan. Masa panen ayam kampung ini berakhir setiap 2 bulan dan setidaknya 5 ribu ekor ayam kampung siap dijual.

Ia juga turut aktif berbagi ilmu dengan peternak pemula lain melalui training-training. Semua itu agar ilmu dan pengalaman yang ia miliki sejauh ini dapat dimanfaatkan orang lain yang membutuhkan. Bahkan ia menyempatkan menulis buku peternakan ayam.

Kunci sukses Bambang di antaranya ialah kecermatan dalam membuat kemasan. Dari pengalamannya berjualan telur, ia memastikan pentingnya kemasan yang baik bagi sebuah produk. Dengan kualitas yang terjaga baik, telur produknya yang terkemas dengan lebih elegan mendapatkan tempat di supermarket. Labanya melonjak berkat kemasan yang lebih baik.

Ia juga mengatakan pengelolaan peternakan juga harus dimodernisasi jika mau untung lebih banyak dan peternakan lebih maju. Peternakan ayam kampung jangan ikut ‘kampungan’. Cara tradisional harus ditinggalkan agar proses produksi lebih cepat dan baik. Nilai ekonomis ayam yang dihasilkan juga lebih meningkat jika peternakannya lebih modern. Jangan anggap
bisnis ayam kampung bisnis recehan , ujarnya. Padahal di baliknya, perputaran uang bisnis ini begitu tinggi


Sumber : kontan.com

Rendi Koren, Pengusaha Sukses Koren Denim

Mencapai suatu kesuksesan dalam menjalankan usaha memang bukan suatu hal yang mudah, karena dalam menjalankan usaha pasti membutuhkan pengorbanan dan menemukan berbagai rintangan.  Namun apabila kita bisa menemukan dan tidak mudah untuk menyerah, maka kesuksesan akan dapat kita raih.  Hal itu yang menjadi pedoman Rendi Koren dalam mengembangkan usaha jeans-nya dengan brand Koren Denim. 

Walaupun pernah gagal dalam menjalankan berbagai usaha mulai usaha bubur ayam hingga bakso, namun dengan kegigihan yang dimilikinya membuat Rendi kini sukses dengan usaha jeans hingga produknya bisa diterima di seluruh Indonesia dan bahkan ke beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura hingga Australia.

Dipilihnya usaha jeans karena Rendi melihat hampir semua orang dalam melakukan aktivitasnya memakai celana jeans.  Dan dari situ bisa dilihat potensi usaha celana jeans sangat luar biasa, tinggal bagaimana pelaku usaha bisa mengelola usaha tersebut.

Sadar banyaknya pelaku usaha sejenis yang lebih dulu ada, maka Rendi pun memutuskan untuk membuat sesuatu yang berbeda pada produk celana jeans-nya.  Rendi mengklaim produknya memiliki eksklusivitas baik dalam bentuk, bahan, maupun modelnya.  Artinya setiap model yang diproduksinya hanya tersedia sekitar 60 pcs dan kalau sudah habis terjual, maka model tersebut tidak akan diproduksi lagi, digantikan model-model yang baru.  Prinsip ini diterapkan karena dalam menjalankan bisnisnya Rendi tidak ingin sekedar menjual celana, tapi juga menjual konsep.  Bahkan ada model celana jeans yang diproduksi sebanyak 8 pcs saja.

Agar lebih menarik minat konsumen muda, Rendi mengaplikasikan konsep-konsep unik pada setiap edisi artikel/model celana jeans yang diproduksinya.  Sebut saja edisi Go Green, Music, Katy Perry, Cold Play, Naomi, hingga yang terbaru edisi Changemaker.  Untuk memperoleh konsep dari celana jeans-nya, Rendi selalu menerima masukan dari para sahabat ataupun mencari di berbagai media.

Ada beberapa ciri khas yang dimiliki oleh jeans Koren diantaranya bagian saku belakang menggunakan karet khusus sedangkan pada bagian depan terdapat logo Koren sehingga orang yang melihatnya langsung mengetahui produk tersebut diproduksi oleh Koren.  Rendi menggunakan bahan yang diimpor dari Jepang dan beberapa bahan yang digunakan antara lain bahan water proof yang tahan air.  Konsumen saat ini menyukai jeans dengan bahan water proof ini.

Dari segi harga, menurut Rendi sebanding dengan kualitas dan eksklusivitas produk yang dibuat. Sebuah celana jeans Rendi menjual berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 650 ribu.  Bahkan untuk produk yang hanya dibuat sebanyak 8 pcs per konsep dijual dengan harga Rp 1 juta hingga Rp 2 juta.

Nah, jika Anda ingin berbagi cerita dan pengalaman bersama Rendi Koren bisa hubungi Koren Denim Area Unit Bisnis Mahasiswa Universitas Kristen Maranatha Jl. Prof. drg. Suria Sumantri No. 65 Pasteur, Bandung, Jawa Barat.

Sumber : danausaha.net

Kamis, 25 Juli 2013

Sepak Terjang Pendiri Groupon Brad Keywell


Brad Keywell (42) adalah seorang investor dan entrepreneur di sektor teknologi yang tinggal di kota Chicago. Ia  dipandang tidak sevokal rekannya yang juga venture capitalist Eric Lefkofsky dan Sam Zell. Namun, prestasinya lebih menggaung daripada suaranya. Keywell turut mendirikan tidak hanya Groupon tetapi juga Lightbank (inkubator bisnis yang membantu Chicago menjadi pusat teknologi), Mediaocean yang menyediakan sistem operasi teknologi terintegrasi untuk industri periklanan dan pembelian media. Tak hanya itu, ia juga salah satu pendiri dan Direktur Echo Global Logistics. Keywell juga menggagas sebuah event tahunan “Chicago Ideas Week” yang membawa sejumlah sosok pemikir hebat seperti Bill Clinton dan Thomas Friedman ke Chicago pada Oktober 2012 yang lalu. Untuk melengkapi sosok entrepreneur ini, ia juga mengajar sebagai adjunct professor di Booth School of Business di University of Chicago

Di tahun 1999, Keywell mendirikan Starbelly, perusahaan teknologi manajemen jaringan suplai produk promosi online dengan Eric Lefkofsky. Pada bulan Januari 2000, HA-LO (NYSE:HMK) mengakuisisi Starbelly.

Keywell sebelumnya bersama dengan Equity Group Investments, LLC, milik Sam Zell. Ia kini menjadi salah satu anggota Dewan Wali Equity Residential (NYSE:EQR), sebuah perusahaan S&P 500


Di bulan Februari 2005, Keywell dan Lefkofsky mendirikan Echo Global Logistics, perusahaan manajemen transportasi perusahaan berbasis teknologi.  New Enterprise Associates (NEA), salah satu investor teknologi terbesar di AS, merupakan investor di Echo. Di athun 2009, Echo Global Logistics melakukan go public di Nasdaq di bawah lambang ECHO.

Pada bulan Juni 2006, Keywell dan Lefkofsky mendirikan MediaBank, sebuah perusahaan teknologi. Di 2012, MediBank bergabung dengan Donovan Data System (DDS) untuk membentuk Mediaocean.

Tahun 2007 menjadi saksi kerjasama Keywell dengan Andrew Mason dan Lefskofsky yang juga mendirikan ThePoint.com, sebuah situs aksi kolektif online, Di akhir 2008, ThePoint.com menjadi platform pembelian kolektif dan nama itu diubah menjadi “Groupon”. Groupon sukses go public di bulan November 2011 di pasar saham Nasdaq dengan simbol GRPN.

Bulan Februari 2010, Keywell dan Lefkosky mendirikan Lightbank, sebuah perusahaan yang berinvestasi dalam bisnis teknologi inovatif. Lightbank juga telah melakukan lebih dari 50 investasi.

Seperti telah disinggung sebelumnya, Keywell juga menduduki jabatan Pimpinan dan Pendiri “Chicago Ideas Week” (CIW), sebuah event tahunan yang muncul sebagai salag satu konferensi dan platform ide dan inovasi besar di AS. CIW telah mengundang hampir 200 pembicara dalam lebih dari 80 event dengan skala dunia yang menggandeng majalah Time.

Keywell juga menjabat sebagai Pimpinan Future Founders Foundation, yang menjalankan Future Founders dan Connect to the Future.  Program-program ini didesain untuk mengajarkan dan menginspirasi siswa-siswa SMA dalam entrepreneurship dan menghubungkan mereka dengan para mentor untuk mendapatkan panduan dan ilham. Future Founders and Connect to the Future ini memberikan pengalaman nyata dan dampak langsung untuk mendorong para anak didik untuk fokus pada nilai dan manfaat pendidikan mereka dan berani memperluas cakrawalanya.

Sumber : arnandadanu.blogspot.com

Bisnis Pot Kayu Beromset Jutaan

Jika Anda melihat atau menemukan kayu, apa yang Anda lakukan?. Menyingkirkan atau bahkan membuangnya??. Berbeda dengan pria satu ini, Helmi Suhaemi warga Cipondoh, Tangerang. Ditangannya kayu yang terlihat tidak berguna bisa berubah menjadi luar biasa dan banyak diminati. Siapa sangka pot-pot bunga dari bahan kayu bekas, hasil kreasi Helmi ini, ternyata sudah banyak menghiasi sudut-sudut ruangan hotel dan perkantoran di DKI Jakarta. Urat-urat kayu yang terlihat di pot-pot buatannya memang menjadikan pot ini bukan hanya indah dan alami saja, tetapi memberi kesan berbeda dengan kebanyak pot-pot bunga yang banyak diproduksi orang lain.

Awalnya pria 57 tahun ini mengawali karirnya dengan produksi pot bunga dari kulit kayu, tetapi karena bahannya sulit dicari dan peminatnya kurang, akhirnya bahannya diganti dengan bahan kayu bekas saja. Setelah dilempar ke pasaran, ternyata peminatnya banyak. Akhirnya 4 tahun sudah usaha ini dia lakoni. Kini produksi pot seperti kerajinan dirinya mulai banyak dibuat orang lain. Mereka pun memasok produksinya ke toko-toko bunga yang ada di Jakarta. Helmi dan istrinya Sri Sunarsih yang kerapkali membantu, tak khawatir. “Saya percaya rezeki itu dari Allah, jadi tinggal berusaha mencari ide baru agar usaha ini bisa tetap jalan” begitu tutur Helmi.

Bahan pot yang Helmi gunakan terbuat dari limbah kayu atau palet, yaitu potongan kayu yang biasa untuk tatakan barang yang banyak di pabrik. Kayu tersebut merupakan kayu jati Belanda dan cocok dibuat pot bunga kayu, karena akan muncul urat-uratnya saat dicat.

Namun, pot kayu ini hanya bisa digunakan untuk tanaman plastik saja . Karena bahannya yang terbuat dari kayu jika terkena air maka, lama kelamaan akan rusak. Ukuran pot yang diproduksipun beragam, yang paling besar berukuran tinggi 50 cm dan lebar 24 cm dan yang terkecil berukuran tinggi 9 cm dan lebar 6 cm. Bentuknya juga bermacam-macam mulai dari kotak, kubus, segi lima, segi enam bahkan bentuk trapesium.

Usaha yang dimiliki Helmi ini telah menjadi salah satu contoh peluang sukses bisnis rumahan. Walaupun hanya dikerjakan di teras rumah yang sempit, namun Helmi mampu mempekerjakan 5 karyawan. Mereka bertugas mencari limbah kayu dan membuat pot bunga hingga pengecatannya. Setiap harinya, rumah kerajinan Helmi mampu membuat 100 pot. Untuk omzet per bulan mencapai Rp 15 jutaan. Pesanan pot terramai saat menghadapi lebaran, natal  dan tahun baru.

Pot bunga buatan Helmi juga tidak hanya laku di Jakarta tetapi banyak juga dipesan pembeli dari Surabaya dan Pontianak, Kalimantan Barat. Untuk di Jakarta dirinya memasarkan pot bunga di sejumlah toko di kawasan Pasar Pagi dan kawasan Mangga Dua. Harga satu pot dijual mulai Rp 3.500 hingga Rp 45.000. Perjuangan seorang Helmi Suhaemi tidak singkat, bermodal pengalamannya yang pernah bekerja di produksi pot pada tahun 1998, membuatnya memberanikan diri untuk berwirausaha. Tekad dan keyakinannya akhirnya mengantarkan ke gerbang kesuksesan seperti sekarang.

Sumber : bisnisukm.com

Label